alexametrics


Setelah Dikunjungi Ganjar, Rumahnya akan Direnovasi REI

Sanjoto, Pengawal Jenderal Soedirman yang Tinggal di Peterongan, Semarang

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Sanjoto pernah menjadi pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman saat bergerilya. Veteran berusia 90 tahun ini juga menjadi pengawal Jenderal Ahmad Yani. Kini, ia tinggal di rumah sederhana di Jalan Blimbing Raya No 34 Peterongan, Semarang.

NUR WAHIDI, Radar Semarang

BERSEJARAH: Rumah Sanjoto yang dulunya pernah menjadi tempat persembunyian DN Aidit. (kanan) Ketua Bidang Hukum REI Jateng Sunatha Liman Said secara simbolis menyerahkan bantal dan guling sebelum rumah Sanjoto direnovasi. (NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSEJARAH: Rumah Sanjoto yang dulunya pernah menjadi tempat persembunyian DN Aidit. (kanan) Ketua Bidang Hukum REI Jateng Sunatha Liman Said secara simbolis menyerahkan bantal dan guling sebelum rumah Sanjoto direnovasi. (NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RUMAH bercat biru itu kondisinya sudah memprihatinkan. Dindingnya sudah rapuh. Atap rumah bocor. Kalau hujan sering banjir. Rumah itu dihuni dua keluarga. Salah satunya Sanjoto. Ia menempati rumah itu sejak 1970.

“Dulu waktu kali pertama ditempati, saya harus membuat pintu baru karena sudah jebol. Selain itu, gentingnya juga sudah rusak, sehingga harus diperbaiki agar layak ditempati,” kata Sanjoto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kini, kondisi rumah semakin rusak. Namun untuk memperbaiki, Sanjoto tak punya biaya. “Rumah ini memiliki nilai sejarah. Karena dulu pernah menjadi tempat persembuyian gembong PKI DN Aidit,” cerita veteran yang pernah menjadi pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman ini.

Sanjoto lalu menceritakan kisahnya ketika terlibat dalam perang gerilya. Ia sempat meneteskan air mata saat mengisahkan perjuangannya menjadi pengawal Jenderal Soedirman. Kala itu, ia sempat ikut menandu Jenderal Soedirman yang diseberangkan melalui Jalan Flores Wonogiri, Jatisrono, hingga Ponorogo Jawa Timur.

“Saat itu, akan saya semberangkan melalui Jatisrono, tetapi karena musuhnya banyak, kemudian dialihkan ke Desa Sidoharjo, Wonogiri, dan di situ sudah ada yang jemput CPM dari Klaten,” kisahnya.

Kemudian pada 1951, ia ditugaskan di wilayah Gerakan Banteng Nasional (GBN) 4 meliputi Tegal, Slawi dan Brebes. Lalu pada 1955, ia mengawal Komandan GBN 4 saat itu Letkol Ahmad Yani (belum Jenderal) menuju Desa Bulakamba, Tegal untuk meresmikan satu batalyon plus Banteng Raider (BR) yang waktu itu baretnya berwarna coklat muda.

“Maksud Pak Ahmad Yani saat itu untuk segera menumpas pemberontakan DI/TII pimpinan Karto Suwiryo. Tidak sampai dua minggu, Karto Suwiryo dan pengawalnya bisa ditangkap. Kemudian dikirim ke Sukabumi,” jelasnya.

Selanjutnya pada 1963, Sanjoto ditugaskan ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kodam XII Tanjungpura. Ia mengawal KSAD Mayjend Ahmad Yani dalam rangka HUT ABRI yang dipusatkan di Kabupaten Singkawang, sebelah timur Kota Pontianak, perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Sampai di Pontianak, usai upacara, ia sempat makan bersama di kediaman Bupati Singkawang. Saat itu, Ahmad Yani sempat mengatakan kalau Sanjoto adalah bintara yang menguji Rijbewijs (Surat Izin Mengemudi).

“Waktu saya tugas itu, Pangdam Tanjung Pura Kolonel Musannif Ryacudu, sedangkan gubernurnya Oevaang Oeray, orang Dayak asli,” bebernya.

Satu minggu setelah dari Pontianak, ia dikembalikan ke Kodam VII/Diponegoro (sekarang Kodam IV/Diponegoro), dengan pangkat Palda atau Pembantu Letnan Dua. “Jadi, saat itu ajudan Pak Ahmad Yani meminta nomor NRP saya, 199062. Seminggu kemudian, saya dikembalikan ke Semarang,” ceritanya.

Terkait dengan rumah yang ditempati sekarang, memiliki luas 335 meter persegi. Sanjoto mengaku, setelah peristiwa G30S/PKI 1965, ia diperintahkan oleh komandannya untuk mencari rumah di Kelurahan Peterongan yang digunakan untuk persembunyian dan transit DN Aidit yang merupakan gembong PKI.

“Rumah yang dicari itu ketemu. Yang menemukan waktu itu Wakil Komandan Kodim Mayor Miladi yang rumahnya di depan rumah ini. Sekarang rumahnya sudah dijual,” jelasnya.

Setelah mampir ke Kodim, ia langsung menuju ke rumah tersebut, dan ternyata sudah kosong. Saat masuk ke dalam rumah, ada tulisan di tembok bahwa rombongan DN Aidit menuju ke arah timur.

“Maka saat itu saya melaporkan ke komandan dan telepon ke sub Detasemen Surakarta Letnan Kolonel Sutrisno. Ternyata sudah diberondong di depan rumah wali kota, ada tujuh pengikutnya. Kata tetangga, sudah terlambat dua jam,” ceritanya.

Terakhir berdinas, purnawirawan dari CPM ini bertugas sebagai Perwira Intel Pomdam VII/Diponegoro dan pensiun 1982.

Ia mengatakan, rumah yang dihuninya menyimpan banyak cerita sejarah. Karena itu, ia tidak mau meninggalkannya. Kemarin, ia beruntung, rumahnya direnovasi oleh DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng.

Sekretaris DPD REI Jateng Widhi Wijatmiko mengatakan REI Jateng merupakan mitra dari Denpom IV/5 Semarang yang ditunjuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk menangani renovasi rumah Sanjoto.

“Jadi teman-teman REI Jawa Tengah sangat mendukung upaya rehab rumah veteran yang dinilai sudah tidak layak dan berpotensi membahayakan penghuninya, karena sudah mengalami kerusakan. Penghuninya juga kesulitan untuk melakukan rehab secara mandiri. Karenanya, teman-teman telah melakukan penggalangan dana. Selain itu, DPD REI Jateng juga punya dana CSR yang bisa digunakan,” ungkapnya.

Dikatakan, pada Rabu (19/8) lalu, Gubernur Ganjar sempat nyepeda dan mampir di rumah tersebut. Ia pun berinisiatif untuk merenovasinya. Saat itu, Ganjar didampingi Dandenpom IV/5 Semarang Mayor CPM Okto Femula yang juga pembina Corps Polisi Militer di Semarang.

Untuk menandai kesungguhan dan tekad REI Jateng mewujudkan impian Sanjoto menempati rumah layak huni, ditandai pemberian secara simbolis bantal dan guling yang disampaikan oleh Ketua Bidang Hukum REI Jateng Sunatha Liman Said.

“Kami beri bantal dan guling ini merupakan simbol agar bapak-ibu Sanjoto bisa beristirahat sambil menunggu terwujudnya impian mendapatkan rumah yang layak huni setelah kami renovasi,” kata Komisaris PT Alimdo Ampuh Abadi ini. (*/aro)

Terbaru

Populer