alexametrics

Titik Beratkan Karya Film yang Produktif dan Solutif

Arya Sandhi, Mahasiswa Udinus Aktif Memproduksi Film Pendek

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berawal dari tugas kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), membulatkan tekad Arya Sandhi Nuzulal, untuk memproduksi film pendek. Bahkan, kini menjadi keterusan. Bersyukurnya, hobi barunya itu bisa bermanfaat bagi orang sekitar.

Hanif Wahyu Cahyaningtyas, Radar Semarang

HOBI yang positif, menjadikan orang lebih produktif. Begitulah yang dilakukan Sandhi –sapaan akrab Arya Sandhi Nuzulal- selama ini. Dari hobinya menonton film sejak SMP, berbuah produktivitas dalam membuat film sendiri.
Ya, sejak 2013 silam. Tepatnya di masa SMP. Kala itu, tak banyak anak seusianya yang menonton tayangan di Youtube. Tapi Sandhi justru banyak menghabiskan waktu senggangnya untuk menonton film-film yang ada di internet. Dari situlah terbersit di hatinya untuk membuat konten video sendiri, meski masih sekadar iseng dan asal rekam.

Tak disangka, bermula dari keisengannya bersama dua temannya, justru dipercaya sekolah untuk mengikuti lomba Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kala itu belum rezekinya, ia belum bisa memenangkan ajang tersebut.

Kendati begitu, Sandhi tak patah asa. Semangatnya dalam berkarya tak pernah luntur dalam dirinya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, hobi itu tetap tumbuh semakin subur hingga dia kelas 3 SMA. Ia akhirnya memenangkan Kompetisi Film tingkat Jateng-DIJ yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes). Bersyukur tiada kira, bersama temannya menjuarai kategori film terbaik dan Sandhi didapuk sebagai aktor terfavorit.

Baca juga:  Dua Mahasiswi UIN Walisongo Raih The Best Group di KTT Istanbul Turki

Berprestasi tak lantas membuatnya berpuas diri. Baginya memproduksi film, bukan perkara mudah. Itu yang membulatkan tekadnya untuk bergabung dalam Komunitas Penggiat Film di Blora. Di komunitas itu, ia bisa berbagi ilmu dan pengalaman. Bahkan ia dan komunitasnya pernah memenangkan lomba film pendek dalam acara Blora Film Festival.

Kumpulan pengalaman tersebut, memantaskan dirinya sebagai sutradara film bersama teman kuliahnya di Udinus. Tugas kuliah membuat film, membuatnya lebih tertantang. Ia bersama temannya pun membuat Makaryta Production.

Sandhi pun secara filosofis mengurai, mengapa memilih nama Makaryta Production? Frasa Makartya Production berasal dari bahasa Jawa makarya/kerja dan bahasa Inggris Art/seni yang bermaksud bekerja dalam bidang seni khususnya seni film. Tak sendiri, ia mengajak beberapa teman kuliahnya untuk bergabung dalam kegiatan produksi film tersebut. “Setidaknya selain membuatku produktif, teman-temanku juga produktif dan berkarya bersama di bidang film,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Film pendek kali pertama yang ia buat mengangkat kisah tentang kehidupan dan religiusitas berjudul Slamet. Film ini menceritakan kisah kakak beradik yang telah ditinggal kedua orang tuanya. Tentu saja, untuk mencari sesuap nasi demi memenuhi kebutuhannya sangat sulit. Belum lagi, adiknya yang memiliki kelainan mental.

Baca juga:  Akhiri Perang Tarif, Temukan Mobil Anggota yang Hilang

Dirinya mengaku, mengangkat cerita itu bersumber dari falsafah Jawa Eleng Kuwat Lan Slamet. Artinya hidup itu harus ingat dengan Tuhan yang menciptakan. Tetap kuat menjalani kehidupan agar bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat. Karena saat ini banyak orang hidup hanya untuk mencari kekuasaan, kekayaan, dan jabatan, tanpa mempedulikan bahkan menyakiti hati orang lain.

Untuk memproduksi film pendek Slamet ini, membutuhkan sekitar 15 orang dengan jobdesk beda-beda. Meski orang yang terlibat sedikit, film pendek ini terbilang memuaskan bagi Sandhi. Apalagi film produksi pertamanya yang di-upload di Youtube sudah ditonton 3,5 ribu viewers. “Gak nyangka saja, bisa banyak yang nonton. Semoga saja tidak sekedar viral, tapi pesan dalam film itu tersampaikan,“ kata pria kelahiran cepu ini.

Tak cukup puas dengan pencapaiannya, Sandhi dan teman-teman mencoba membuat film pendek kedua. Kali ini bukan tugas kuliah. Dia mengajak lebih banyak temannya yang ingin belajar membuat film. “Setidaknya mereka satu pemikiran denganku, belajar broadcast juga,” jelasnya.

Baca juga:  Udinus Sulap Sampah Plastik jadi Aspal

Film pendek keduanya ini berjudul Tanggal Tuo. Kisahnya mengenai kehidupan seorang mahasiswa ataupun orang perantauan yang kehabisan uang dan sulit mencari makan. Dalam film ini menggambarkan indahnya berbagi meski dalam situasi yang sulit.
“Menjadi mahasiswa perantauan, pasti pernah merasakan kehabisan uang, dan susah cari makan. Jadi inilah artinya memiliki teman bisa ada yang membantu di kala sulit. Jika beban ditanggung bersama pasti akan terasa lebih ringan,” urainya.
Sandhi menitikberatkan film karyanya, bisa menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat banyak. Maka ide awal membuat film selalu berkaitan dengan keseharian dan kenyataan yang sedang atau pernah dialaminya.

“Seseorang yang berani membuat sebuah film, maka harus memiliki tanggung jawab atas karyanya. Karena karya itu bentuk dari gerakan pemersatu bangsa,” ungkapnya.

Dia pun menanamkan tekad pada dirinya sendiri untuk memotivasi dalam seluruh aktivitasnya. “Sebagai anak muda, harus produktif dan solutif. Tak boleh hanya bisa mengeluh tanpa mencari solusi dan tak boleh menuntut tanpa mengambil sebuah tindakan.” (*/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya