alexametrics

Perlakukan Bonsai Penuh Rasa, Karyanya Jadi Buruan Kolektor

Andri Setyo Martopo Ristanto, Seniman Magelang yang Budidaya Bonsai

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ketertarikan Andri Setyo Martopo Ristanto dengan bonsai mampu mengubah jalan hidupnya. Kini tidak sekadar hobi. Karyanya menjadi buruan kolektor. Juga menghasilkan pundi-pundi uang.

PUPUT PUSPITASARI, Magelang, Radar Semarang

ANDRI, sapaan akrabnya. Ia jatuh hati dengan bonsai sejak kelas 4 SD. Kala itu, dia hanya mampu memendam keinginannya. Ia masih bocah. Tak memiliki apa-apa. Cuma jadi penonton, saat orang-orang dewasa ramai membicarakan bonsai.

Rasa penasarannya meledak. Andri mulai mempelajari bonsai sekitar 2012. Tidak tanggung-tanggung. Dia langsung sekolah bonsai di Ungaran, Kabupaten Semarang sekitar satu setengah bulan. Ingin sekalian “basah”, ia teruskan belajar menjadi juri. Bonsai koleksi pertamanya jenis ficus benjamina dan ficus retusa.

“Aku sempat kecanduan bonsai. Setiap tinggal di suatu tempat lebih dari dua minggu, kalau nggak megang pohon stres aku,” aku pria yang juga seniman itu.

Dia cukup tergelitik dengan pengalamannya bermain dengan bonsai. Padahal hampir semua aliran seni dia tekuni. Seni rupa, tari, performance art, musik, menjadi dalang. Namun bonsai yang paling favorit.

“Ketika seni yang lain, apalagi saat musim pandemi seperti ini akan ada kata-kata modal. Mau melukis, kanvas mahal, cat mahal. Kalau mau jualan mahal, harus pameran. Tapi kalau bonsai ibaratnya kita nyari di tegalan, stek pohon tetangga, minta saja boleh. Ditanam, jadi bonsai deh,” ucapnya sambil tersenyum.

Suami Nurul Aini Santriwati itu memiliki prinsip berkesenian. Keterbatasan adalah sumber kreativitas. “Jadi, kalau belum merasa kepepet, jangan bilang itu kreativitas. Itu manja. Misalnya, kita mau pergi malas ada motor itu manja, bukan sebuah kreativitas. Tapi orang yang menciptakan motor, itu kreator. Nah, aku harus bisa seperti itu,” ungkapnya.

Baca juga:  Jadikan Temanggung Pusat Budidaya Bonsai

Di dunia bonsai, ia berkarya dan bebas mengomersilkan karyanya. Ia menjual bonsai mulai puluhan ribu sampai puluhan juta rupiah. Dilihat dari jenis dan karakter bonsai itu sendiri. “Di bonsai itu unik, patokan mahal (harga, Red) punya banyak segmen.”

Menurut bapak anak satu ini, karya bonsai lahir dipengaruhi oleh minat pasar. Dan idealisme perajinnya, tanpa meninggalkan pakem membuat bonsai. Anatomis, proporsi, dimensi, filosofi, konsep, teknik, dan ilmu botani. Jika sudah menguasai ilmu membuat bonsai, baru berkarya.

“Buat bonsai nggak bisa sesuka hati, karena ini benda hidup. Mau dijungkir asal-asalan, bisa mati. Mau ditekuk-tekuk sembarangan, batangnya bisa patah, tanamannya nggak sehat, kasihan,” tuturnya.

Pria kelahiran Magelang, 28 Juli 1983 itu mengatakan, bonsai adalah seni botani. Ia juga menggap bonsai itu seperti layaknya kehidupan manusia. “Manusia saat masih bayi, asupan makan hanya ASI atau susu, kalau dikasih sate, sambel pecel nggak mungkin. Bisa mati. Pohon sama, kalau belum berakar, masih stek, atau dari biji akarnya sedikit, ya nggak boleh dikasih nutrisi, hanya air sama media tanam netral. Kalau dikasih pupuk malah mati. Nanti beranjak anak-anak mulai dikasih pupuk, remaja harus dikasih makanan banyak, dan seterusnya,” bebernya.

Dikatakan, bonsai adalah bentuk kecil dari pohon asli yang berukuran besar. Tapi memiliki banyak aliran. Naturalis memiliki lima gaya, meliputi formal pohon tegak dengan ciri punya cakaran utuh menyebar ke segala arah, tegak berliku, miring—terdapat akar tarikan dan peyangga, menggantung dan terakhir gaya merunduk, seperti pohon-pohon yang tumbuh di tebing-tebing. Lalu gaya tertiup angin. “Gaya naturalis ini gaya paling kuno (awal atau tua, Red),” imbuhnya.

Baca juga:  Sempat Tiga Kali Gagal Olah Buah Nangka Jadi Keripik Nangka

Dalam perkembangannya, kemudian muncul aliran ekspresionis yang mengedepankan rasa. Seperti mengibaratkan dua pohon sebagai sepasang kekasih. Serta aliran surealis, di mana menantang daya imajinasi penikmatnya ketika melihat bentuk dan karakter bonsai itu sendiri.

“Kalau dalam lukisan itu abstrak. Khayalannya (penikmat, Red) sendiri yang “berbicara” di situ,” terangnya.
Ditanya aliran mana yang paling disukai? Andri memilih ekspresionis dan surealis. Ia merasa lebih bebas bereksplorasi. “Pendomannya buat bonsai sebenarnya filosofi alam,” kata warga Dusun Sekaran, Banyurojo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang itu.

Sebelum bermain bonsai, ia melakukan observasi. Tujuannya untuk mengetahui pohon apa yang bisa dibuat bonsai. Syaratnya punya akar tunggang, berbatang keras, bercabang, berumur panjang dan daun bisa mengecil.
Ia menyadari, pecinta bonsai terus bertambah. Persaingan dari para pembuat bonsai sangat kompetitif. “Benda seni itu nggak ada kembarannya. Pasar akan menilai sendiri. Itu peluangnya. Yang kedua, kalau kita 350 tahun dijajah Belanda, hanya potensi alamlah yang bisa untuk membalas menjajah mereka,” tandasnya.

Maksudnya, di negeri kincir tersebut membutuhkan biaya mahal untuk membudidayakan bonsai karena terbentur iklim. Sehingga membuat biaya operasional membengkak.

Di negara lain pula, lanjut Andri, budidaya bonsai cukup ribet. Seperti harus membangun green house, membuat angin buatan, menyamakan temperatur udara, dan pengaturan cahaya disamakan seperti daerah asal pohon yang dikembangkan.
“Itu potensi besar untuk kita bisa ekspor, karena kita nggak eksploitasi alam, tapi budidaya. Sementara kebutuhan untuk go green di negara lain sangat tinggi,” ucapnya. Tapi di Indonesia, ia menyayangkan ekspor tanaman cukup menyulitkan. Ia harap pemerintah memberikan kemudahan itu.

Baca juga:  Siapkan Pembibitan, Hijaukan Jalan Pedesaan

Lalu, bagaimana dengan pendapat yang menyebutkan bermain bonsai, menyakiti tanaman? Andri pun, mengaku telah konsultasi dengan tokoh-tokoh agama dari semua agama dan keyakinan. Tiga tahun dirinya meriset. Sempat ingin berhenti.

“Saya hanya ingin berkonsultasi, apakah saya sedang menyiksa pohon? Kalau iya, saya akan berhenti. Aku akan manuver cari karya lain yang lebih menantang. Ternyata jawabannya simpel sekali, pohonnya subur atau nggak. Kalau pohon itu subur, berarti nggak tersiksa. Karena dirawat, dipupuk, ganti media tiap 6 bulan sekali, pohon kecil tiga bulan sekali. Tapi kalau pohon yang kamu tanam itu kering, berarti menyiksa,” bebernya.

Sampai saat ini, Andri menekuni bonsai. Puluhan bonsai juga dipajang di Studio Mumpet, berlokasi di kampung setempat. Ada pula yang ditawarkan di media sosial. Andri juga membuka kelas bonsai. Selain itu, banyak kolektor yang mempercayakan dirinya merawat bonsai.

Kepada pembeli, ia juga memberikan edukasi perawatan bonsai yang benar. Menyiram secara berkala, menyikat batang agar tidak menjamur, mengecek pupuk, dan melakukan pemangkasan—menyesuaikan karakteristik pohon. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya