alexametrics

Kaset Pernah Diborong Orang Jepang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kejayaan kaset pita masih terasa hingga kini, meski tergilas era modern yang serba digital. Untuk mencarinya, harus ke kolektor sekaligus penjual kaset pita, salah satunya di pemilik Rumah Makan (RM) Padang Jaya yang lokasinya persis di pojokan ruko sekitaran Bundaran Bubakan.

Ratusan ribu kaset pita semua genre tertata rapi berdampingan dengan RM Padang Jaya. Begitu masuk, pengunjung akan dimanjakan matanya dengan ratusan ribu kopi kaset pita di setiap sisinya. Bahkan tumpukannya ada yang menjulang setinggi lambaian tangan. “Semuanya ada disini, mau nyari apa aja ada,” kata Pengelola RM sekaligus penerus kolektor kaset pita, Deny, 40, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ada kaset master untuk burung ocehan. Terbanyak kaset tentang musik. Ada musik dangdut, koplo, pop, keroncong, rock, sampai salawatan. Dari segi bahasanya juga beragam, ada yang bahasa Indonesia, Mandarin, Barat, Spanyol, Filipina, India, dan masih banyak yang lainnya.

“Kebanyakan ya emang jadul-jadul. Lagu-lagu nostalgia. (Koleksi) yang terbilang paling muda keluaran tahun 2012-an, musik-musik pop kayak (band) Ungu, Radja,” tuturnya.

Baca juga:  Berawal dari Musibah, Justru Menjadi Berkah

Dia mengamati, pasca tahun itu produksi rekaman kaset pita berhenti. Kalaupun ada paling hanya segelintir saja. Sejak itu pula, ia sudah tidak kulakan, hanya menjual stok lama. Meski koleksi kaset pita sudah dijual bertahun-tahun tetap tak kunjung habis karena peminatnya memang minim. Kalau bukan kolektor yang beli, ya mereka yang benar-benar hobi mendengarkan suara dengan teknologi konvensional.

Konon bagi para penggemar, suara yang dihasilkan kaset pita memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan rilisan format digital. Dalam seminggu, RM Padang Jaya kadang hanya menjual 2 buah kaset pita, kadang tidak ada yang beli sama sekali. “Tapi lumayan lah, masih ada. Bahkan yang beli justru anak-anak muda,” katanya.

Menurut dia, dulu pernah ada pelanggan berusia muda hendak membeli kaset, tetapi ingin mencoba mendengarkan dulu suaranya. Karena tape di toko sudah rusak, pelanggan tersebut pulang. Satu minggu kemudian dia datang lagi.

“Pas datang nanya kaset dan bilang kalau mau dicoba di mobil. Pas saya lihat, ternyata mobilnya Mercy. Saya kaget, biasanya mobil dimodif pakai teknologi modern, tapi ini nggak,” celetuknya.

Baca juga:  Hendi - Ita Gagas Tempat Penitipan Anak Gratis

Selain itu, ada pembeli yang sebatas ingin mengenang masa lalu. Ada yang sedang makan, kemudian melihat kaset pita. Sontak ia teringat masa kecilnya, lalu membeli. “Padahal dia itu nggak punya tape, loh,” katanya.

Meskipun terbilang barang langka, harga yang dibanderol pada tiap keping kaset pita lawas di RM Padang Jaya sangat terjangkau. Hanya pada kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu saja. Harga bisa kurang, jika beli dalam jumlah banyak. Karena itu, pernah ada pembeli dari Jakarta yang memborong untuk selanjutnya dijual kembali. Bahkan, pernah ada warga asing asal Jepang yang beli kaset pita di tokonya. Sekitar setahun yang lalu.

Seperti diketahui, media penyimpan data suara yang sempat populer pada era 1970-an hingga 2000-an tersebut, kini sudah langka seiring adanya peralihan ke CD dan layanan musik streaming.

Baca juga:  Gratiskan Biaya Hidup, Sekolah, hingga Siapkan Tempat Tinggal

Kendati begitu, kata Deny, kaset pita memiliki keunikan tersendiri. Seperti saat menikmatinya juga. “Iya punya keasyikan sendiri, menikmati suara sambil melihat sampul dari kaset dan membacanya itu keasyikan yang diungkapkan siapa saja yang datang kesini,” ujarnya.

Deny juga mengaku bukan dirinya saja yang mengumpulkan kaset pita tersebut. Dirinya merupakan generasi kedua dari pemilik RM Padang. “Dulu yang memulai jualan sekaligus koleksi kaset pita dan RM Padang ini ya bapak saya,” terangnya ketika ditemui di RM miliknya tersebut.

Koleksi yang dijual tersebut mulai dikumpulkan sejak 1977. Sejak awal dibuka, RM Padang Jaya, menjajakan aneka menu masakan Padang, sembari menjual kaset pita. Meskipun dua jenis usahanya sepintas tampak tidak nyambung, tetapi ia punya dalih tersendiri. Kedua jenis usaha tersebut selalu berjalan beriringan sampai sekarang. “Ada hubungannya lho, warung makan sama kaset. Orang makan itu butuh hiburan. Kalau ada yang request, langsung kami putarkan lagu,” kelakar Deny. (ewb/ida/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya