alexametrics

Keberagaman dan Sejarah Jadi Kunci Cagar Budaya Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Beberapa waktu lalu, Semarang Lama berhasil ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional. Butuh perjuangan yang tidak mudah. Bahkan memakan waktu tiga tahun. Lantas nilai sejarah apa yang akhirnya membuat Semarang Lama berhasil meraih predikat tersebut setelah sekian lama?

Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Dewi Akmala dengan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang, Ufi Saraswati.

Kunci sukses apa yang membuat Semarang Lama resmi ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional?

Dewan TACB Nasional terpukau dengan metode kita menceritakan kisah dan sejarah dari Semarang Lama. Tidak lagi hanya membanggakan bangunan kolonial saja. Yang menurut mereka di mana-mana sudah ada.

Baca juga:  Arkenas Temukan Dua Situs Candi

Apa yang anda ceritakan mengenai sejarah Semarang Lama kepada TACB Nasional?

Semua yang berkaitan dengan empat situs yang masuk dalam kawasan Semarang Lama. Untuk Kampung Kauman saya cerita mengenai tradisi Dugderan dan kaitannya dengan situs tersebut. Kwasan Pecinan saya cerita mengenai trandisi arak-arakan Jaran Sam Poo dan pemberontakan kaum Tionghoa. Untuk Kampung Melayu saya bercerita mengenai awal mula Ki Pandan Arang menciptakan peradaban masyarakat Semarang yang nanti berhubungan dengan situs di sana, seperti Masjid Layur dan sebagainya. Tak lupa Kota Lama dengan historis era kolonial yang berpadu dengan kebudayaan lokal. Pokoknya itu semua saling berkaitan satu sama lain. Hingga akhirnya membentuk peradaban masyarakat Semarang saat ini.

Baca juga:  Ekonomi Kerakyatan Berbasis UMKM Lebih Berkembang

Lantas menurut anda, apa yang membuat kebudayaan Semarang Lama unik?

Toleransi antar sesama. Itulah yang unik dari Kebudayaan Semarang Lama. Sudah dari awal terbentuknya, peradaban masyarakat Semarang memang berasal dari suku yang berbeda-beda. Saat Ki Pandang Arang membentuk satu komunitas kecil bernama Desa Ngilir. Tidak hanya suku Jawa saja yang jadi elemen utama. Tapi juga ada suku Tionghoa dan Arab. Jadi sudah dari dulu masyarakat Semarang terbiasa dengan percampuran budaya komunitas.

Dengan berbagai budaya tersebut, apa bukti konkret masyarakat Semarang sanggup menghormati nilai perbedaan?

Waktu kerusuhan 1998, di mana di Jakarta, Solo dan lainnya terjadi penjarahan yang menyasar orang Tionghoa. Tapi di Semarang tidak terjadi. Di sini kita tentram, aman, damai, adem, ayem. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Semarang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan mereka. Dan menghargai perbedaan yang ada. Ini menjadi bukti konkret bahwa sampai saat ini nilai keberagaman masih dipegang teguh masyarakat Semarang.

Baca juga:  Afryda Afryana, Alumni Upgris Jadi Penggerak Pemuda Desa, Merintis Griya Baca hingga Snack Bawang

Dengan predikat baru ini apa harapan anda dengan nilai sejarah Semarang Lama di era modern seperti ini?

Saya berharap masyarakat Semarang bisa terus mempertahankan nilai keberagaman tersebut. Serta menjadikan predikat ini sebagai salah satu usaha pembangunan kelanjutan berbasis pelestarian. Saya bersyukur dan berterimakasih hingga saat ini masih melihat masyarakat Semarang tetap menjaga tradisi adiluhungnya. (*/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya