alexametrics

Sebulan Lakukan Riset, Pilih Gunakan Kemasan Botol Kaca

Roofy Adeni Moslem Hidayat, Mahasiswa Udinus Rintis Kedai Kopi di Tengah Pandemi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di tengah pandemi Covid-19, Roofy Adeni Moslem Hidayat justru merintis bisnis. Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini membuka kedai kopi di teras rumahnya.

SHAQILA ANGRA PRAMESWARI, Radar Semarang

KEDAI kopi itu memanfaatkan sebagian ruang dan garasi rumah milik Roofy Adeni Moslem Hidayat di bilangan Jalan Gaharu Barat Dalam, Banyumanik. Bangunannya cukup artistik. Berdinding batu bata warna burgundy tanpa diplester berpadu dengan ukiran kayu ala rumah joglo. Sejak 11 Juli, Roofy –sapaan akrabnya- membuka kedai kopi bersama Sheila Zalfatika, temannya sesama mahasiswa Udinus. Kedai kopi itu dinamakan Buntara Coffee. Buntara memiliki arti semangat atau gairah. Hal tersebut sesuai dengan harapan keduanya agar terus bersemangat menjalankan bisnis.

“Setiap kita mau survei kita lakuin bareng. Mulai dari cari bahan kopi sampe cari kemasan kopinya juga. Muter-muter naik motor bareng,” terang Roofy kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski baru sebulan dibuka, kedai kopi ini telah memiliki pangsa pasar kalangan pecinta kopi Semarang dan sekitarnya. Roofy mengaku, modal awal yang digunakan sekitar Rp 10 juta. Dana tersebut didapat dari patungan antara Sheila dan kakak Roofy. “Sebelumya, niat awal ingin buka burjo, tapi modalnya gak cukup. Akhirnya, kita pilih buka kedai kopi sebagai usaha yang budget-nya terjangkau,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Baca juga:  Naziela Ivana Amarallis, Bisnis Fashion Masih Prospektif

Roofy mengakui, sebelumnya sempat ragu untuk membuka kedai kopi tersebut di pekarangan rumahnya. Ia takut nantinya akan mengganggu kenyamanan tetangga terkait parkir pengunjung. Namun hal tersebut tetap dilakukan agar mampu terlepas dari biaya pengeluaran sewa tempat. Juga potensi pasar sangat menjanjikan.

Dikatakan, penjualan kopi Buntara dilakukan dengan sistem online. Selain itu, inilah alasan mereka berani membuka usaha di tengah pandemi Covid-19. Kedai mereka pun tidak begitu luas. Hanya mampu menampung 20 orang. Dengan begitu, mereka juga dapat mengurangi adanya kerumunan. Hingga saat ini mereka mampu menjual sebanyak 350 botol atau sekitar 12 botol per harinya.

Sebelum berbisnis kopi, Roofy pernah menggeluti bisnis house production bersama timnya bernama CalidArt. Berjalan satu project usaha, mereka sempat terhenti karena kesibukan anggota tim yang berbeda. Saat ini, CalidArt masih berjalan, namun dengan project-project tertentu saja.

Baca juga:  Gratiskan Biaya Hidup, Sekolah, hingga Siapkan Tempat Tinggal

Kedua orang tua mereka selalu mendukung apa yang dilakukan. Bahkan mereka terus mendapat arahan dalam berbisnis sambil kuliah. “Di tengah pandemi ini, kita diajarin juga buat bisa survive gitu. Ya, walaupun usaha kecil-kecilan lumayan buat mengisi waktu luang. Apalagi sekarang kuliah masih online, jadi gampang buat bagi waktunya,” kata Sheila.

Awalnya, Roofy terinspirasi dari teman yang juga berbisnis kopi, namun memiliki keunikan dalam packaging yang digunakan. Ia pun menemukan sebuah peluang bisnis kemudian menceritakannya pada Sheila. Dari sinilah proses dimulai.

“Jadi selama sebulan aku sama Sheila ngelakuin riset market dan produk. Kita juga sering beda pendapat waktu menentukan desain packaging yang dipakai. Sampai seminggu sebelum soft opening, aku sama Sheila juga masih tukar pendapat tentang ulasan test market. Dan masih banyak lagi beda pendapat yang kita rasa, tapi tetap bisa kita temukan jalan keluarnya bareng,” jelas Roofy.

Baca juga:  Sejak Masuk SMA, Kantongi 14 Medali Emas dan 3 Perak

Putri dari pasangan Muhammad Budiman dan Nur Kusbiantini ini terus mendukung bisnis partnernya. Sheila berperan banyak dalam menentukan kemasan botol kaca yang digunakan. Ia berharap dengan packaging tersebut dapat menimbulkan kesan produk premium namun harga terjangkau.

“Kita juga pengin bantu mengurangi sampah plastik, makanya pakai botol kaca. Dan nantinya buat bedain kopi Buntara sama yang lain, kita setiap dua bulan sekali akan mengeluarkan special edition,” tambah Sheila.

Selama ini, Buntara Coffee masih menyediakan menu berupa minuman kopi dan non-kopi. Ke depannya mereka berencana mengembangkan kedai menjadi sebuah coffee shop. Tentunya dengan menambah menu makanan agar pelanggan lebih menikmati kafe mereka. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya