alexametrics

Karyanya Jadi Cover Album dan Kaos Band Luar Negeri

Lebih Dekat dengan Ardha Lepa, Artwoker Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Menjadi seniman sudah menjadi cita-cita Ardha Lepa sejak masih duduk di bangku SMA. Ia terus berusaha menggapai cita-citanya tersebut hingga jadi seperti saat ini.

EKO WAHYU BUDIYANTO, Radar Semarang

JARANG anak sekolah ketika ditanya cita-cita menjawab ingin menjadi seorang seniman. Namun Ardha Lepa kecil justru mengatakan demikian. Tepatnya saat ia duduk di bangku SMP belasan tahun lalu. Ia masih ingat betul ketika ditanya seorang guru kalau sudah besar mau jadi apa? Ia tegas menjawab, mau jadi seniman. “Tetapi tidak tahu seniman apa itu,” kenang Ardha kemarin.

Jalannya menuju cita-citanya tampaknya mulai tergambar saat ia akan lulus SMA Negeri 1 Tayu, Kabupaten Pati. Pria asli Pati yang kini bermukim di Kota Semarang ini zaman SMA sudah jatuh cinta dengan pola seni rupa ekstrim. Seperti halnya artwork yang menggambarkan mutilasi.
“Saat itu, saya lihat itu artwork di album dari band metal Australia, Disastrous Murmur, yang gambarnya seperti kepala orang yang digigit monster,” katanya.

Baca juga:  Prison of Blues, dari Temanggung Menuju Panggung Festival Musik Eropa

Dari situ, ia mulai mengulik apa itu artwork. Rasa penasarannya terus tumbuh. Akhirnya setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk kuliah Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ia berharap dapat mengembangkan kemampuan seninya di perguruan tinggi yang berkampus di kawasan Sekaran tersebut.

“Saya kuliah di Unnes angkatan 2008 ambil Jurusan Seni Rupa,” ujarnya.

Ketika mengambil jurusan tersebut, ia mulai bisa lebih mengeksplore apa itu seni rupa. Tentunya juga dalam genre metal. “Suka saja dengan artwork metal, karena musiknya saya juga suka,” katanya.

Singkat cerita, awal mula dirinya mulai banyak pesanan dari musisi metal luar negeri saat ia memosting hasil karyanya di Facebook. Itu terjadi sekitar 6 tahun yang lalu. Salah satunya, band metal Profanity asal Jerman. Apalagi nama band Profanity di genre-nya sangat dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. Dari situ mulailah rasa percaya dirinya naik.

Baca juga:  Album Kedua Figura Renata Bakal Lebih Berwarna

“Ternyata ada yang tertarik dengan karya saya, dan itu sangat menyenangkan,” ujarnya.

Dari situlah sampai sekarang dirinya kebanjiran order baik dari band luar maupun dalam negeri. Meminta dirinya untuk menggambar artwork untuk cover album maupun untuk kaos band.

Tentunya sebelum memiliki karakteristik tersendiri, Ardha mengaku jika sempat mengkiblat ke beberapa artworker dalam dan luar negeri. Seperti Mark Riddick sampai ke artworker lokal Semarang Lutfi Calamity.

“Pastinya awalnya juga ngiblat sana sini, ya itu bagian dari berproses,” katanya.

Hingga kini dirinya memiliki karakteristik tersendiri. Mengedepankan nilai kelokalan untuk diangkat di dalam karya artwork-nya.

Seperti halnya cerita pewayangan maupun legenda-legenda lokal. Hal tersebut sebagai bentuk pengenalan budaya kepada dunia internasional. “Banyak band luar yang suka gambar artwork-nya identik pakai blangkon, keris, atau bentuk adat istiadat Jawa lain,” ujarnya.

Baca juga:  Wounds, Single Perdana yang Membahas Toxic Relationship

Pasang surut tentunya pernah dialami oleh setiap orang yang menggeluti sebuah profesi. Pun demikian dengan Ardha. Ia juga pernah mengalami pasang surut. Namun ia tetap menggambar.

“Karena pada dasarnya suka, ya mau ada yang order atau tidak, tetap saja menggambar,” katanya.

Kini di dunia artworker, nama Ardha Lepa mulai diperhitungkan. Karya yang dihasilkan jumlahnya sudah mencapai ratusan. Sebagian besar di-upload di Instagram ardha_lepa. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya