alexametrics

Karyanya Jadi Langganan Pejabat dan Artis

Lebih Dekat dengan Solichin Totok, Pelukis Realis Asli Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Terjun di dunia seni sebelumnya tidak terbayangkan oleh Solichin Totok. Apalagi sampai namanya dikenal oleh kalangan pejabat dan artis. Bahkan banyak peminat seni mancanegara yang membeli lukisannya.

ALVI NUR JANAH, Radar Semarang

HIDUP sesuai passion. Tergambar jelas dalam kehidupan seniman asli Kota Lunpia ini. Solichin Totok. Ia tahu dunia seni sejak umur empat tahun. “Dulu suka menggambar meski masih berantakan,”katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di galerinya di Hotel Front One Inn Semarang.

Sebenarnya, mendalami dunia seni khususnya lukis tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebab, hobi melukisnya hanya sebagai sampingan saja. Totok sendiri sebelumnya bekerja di perusahaan pialang di Kota Semarang. Pada 1997, ia mulai bekerja di perusahaan tersebut. Namun setelah bekerja di perusahaan saham, ia mengaku tidak menemukan sebuah kenikmatan di dalam hati.

“Dulu pernah kerja di perusahaan pialang di Semarang, saat itu ditawari teman. Begitu lulus dan wisuda, saya langsung kerja. Dulu waktu kuliah ambil jurusan ekonomi Undip pada1988,”imbuh Totok.

Baginya, ia termasuk tipikal orang yang menyukai kebebasan. Idealismenya sudah terbentuk sejak di bangku sekolah. Ia suka membolos, namun tidak menjurus pada hal negatif. Totok ingat betul, sepulang kuliah selalu ia manfaatkan untuk melihat lukisan di pinggir jalan. Ia rutin menyambangi seniman lukis di daerah Pasaraya Sri Ratu Pemuda. “Ada pelukis jalanan. Saat itu tiba-tiba merasa, kayak gini (melukis) aku bisa. Aku di situ merasa cemburu. Di situ batin saya mengatakan, ingin dapat uang dari melukis,”kenangnya.

Baca juga:  Kampanyekan Charity Run: Berlari untuk Kumpulkan Donasi bagi Anak Penderita Kanker

Kala itu, idealismenya sudah tidak bisa ditahan. Ia ingin menjadi pelukis. Baginya, melukis sudah menjadi jati diri alias passion. Ditambah, jika weekend tiba ia selalu menyempatkan waktu untuk melukis. Mengisi waktu senggang saat weekend di rumah. Menghilangkan ruwetnya rutinitas kerja di kantor. Sampai tak sadar, lukisannya menjadi banyak.

“Sampai suatu saat saya ditelepon orang. Namanya Yongki. Awalnya saya tidak tahu Yongki itu siapa. Ternyata itu Yongki Komaladi. Langsung saat itu dia beli lukisan saya seharga Rp 5 juta. Dia beli lukisan macan,”tuturnya.

Alhasil, keinginannya menjadi pelukis sudah tak bisa ditahan lagi. Ia tidak bisa berbohong. Rezekinya terbuka lebar ketika memutuskan untuk menjadi pelukis. Puncaknya, persis 21 November 2002, ia memutuskan resign dari perusahaan pialang. “Setelah resign, saya kok merasa bebas dan menikmati hidup,”katanya.

Dengan bekal pesangon dari perusahaan, ia harus mencari tempat baru. Tanpa pikir panjang ia hijrah ke Jogjakarta. Gayung bersambut. Dunia baru terbuka lebar. Di Kota Gudeg, ia menemukan arti kehidupan yang diinginkan. Totok saat itu meyakinkan dirinya bahwa ia terlahir sebagai pelukis. Bersama teman bulenya, ia bertahan hidup dan mengais rezeki dari melukis.

“Dari Kota Gudeg, saya kembali membuka lembaran baru. Ibarat kanvas, saya memulainya dari sini (Jogja). Saya dapat ketenangan dan kepuasan batin. Terlebih dari hobi ini, rezeki terus mengalir,”akunya.

Event pertama yang diikutinya, yakni di Benteng Vredeburg, Jogja. Event pertama saat itu adalah Festival Kesenian Jogjakarta. Kala itu, di 2002, namanya mulai dikenal. Pada saat itu, lukisan realis adalah karya lukis yang paling laris. Realis adalah meniru. Sejak mengikuti event tersebut, Totok selalu ketagihan. Ia tidak cepat puas. Namanya mulai merangkak.

Baca juga:  Seniman Juga Punya Kepedulian Tinggi Pada Lingkungan

“Alhamdulillah, banyak yang suka karya saya. Parameternya, ketika karya digemari pasti karya itu langsung diburu. Sejak itu, saya mendapat tempat sebagai seniman realis,”ujar laki-laki asli Semarang ini.

Hingga waktu berjalan cepat, pada 2007 ia menggelar pameran tunggal. Puluhan karyanya ia sandingkan. Tak tanggung-tanggung, pamerannya di resmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ciri khas lukisannya yakni realis dipoles dengan teknik fotografi. “Artinya, objeknya mengambil dari foto, tinggal jiplak saja. Bagiku, waktu itu secara pasar lebih aman. Jadi, objek dari memotret yang sudah menjadi kebutuhan saya sehari-hari,”ungkapnya.

Semakin ke sini, namanya cepat naik daun. Pasarnya menembus hingga mancanegara. Pelanggannya hampir 70 persen orang berkulit putih (bule). Sebab sejak 2002, mulai berdatangan orang pelanggan dari luar. Ditambah di Jogja, karyanya sudah menjadi buah bibir. Kiblatnya adalah Pablo Picasso dan Vincent Van Gogh.

“Alhamdulillah banyak disukai orang Prancis, Italia, dan Spanyol. Mereka justru jadi kolektor aktif lukisan saya. Konsep di pikiran saya melukis realis. Idealis yang realistis. Realis pasarnya yang paling banyak. Artinya, di situ hidup dari aliran realis yang paling potensial,”katanya.

Saking banyaknya karya yang dihasilkan, rumahnya sudah tak kuat menampung. Ada ratusan karya yang telah dibuat dengan tangan emasnya. Dari mulut ke mulut, karyanya mulai dipesan oleh orang penting. Sebut saja Dirlantas Polda Jateng, Irfan Hakim, Fauzi Bowo, Budi Karya Sumadi, Tri Suswati (istri Mendagri Tito Karnavian), melukis Kapolri Idham Aziz, serta melukis Ismail Marzuki dan Husni Thamrin. “Kemarin diminta untuk melukis anaknya Pakubuwono XIII. Namun karena pandemi Covid-19, ditunda dahulu,” ujarnya.

Baca juga:  Sudah Hasilkan 50 Lukisan Motif Daun Pisang

Menurutnya, pencapaian terbesarnya jika lukisannya sudah berhasil masuk museum. Namun, saat ini dia enjoy menjalani semuanya. Rencana ke depan, ia ingin membuat studio lukis. Untuk mengajari para penikmat lukisan. Selain itu, ia masih terus menjalani workshop di Magelang, Kediri, Tulungagung, Kebumen dan Karawang. “Saya ingin buat studio, ada sanggar khusus,”paparnya.

Totok masih ingat betul, lukisan yang paling lama ia kerjakan. Yakni, lukisan pasar tradisional. Ia mengerjakan lukisan tersebut menghabiskan waktu 21 hari. Selain njlimet, ukuran lukisannya pun besar. Ukurannya kurang lebih 2,5 m x 1,5 m. Ukurannya dua kali lipat dari lukisan pada umumnya.

“Di situ banyak elemen, njlimet dan harus detail. Pirantinya pencil on paper, charcoal on paper, oil on canvas, charcoal on canvas. Saya tidak pakai akrilik, tapi cat minyak,”jelasnya.

Disinggung mengenai harga lukisan, Totok tidak menjelaskan secara gamblang. Yang pasti, itu terlalu personal dan terlalu relatif. Akan memberi kesan jika disebut dengan angka fantastis. “Tergantung dengan siapa aku berhadapan, maka di situ harga bertemu. Justru ada kebanggaan ketika seseorang membayar mahal,”katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya