alexametrics

Bus Diubah jadi Kafe Berjalan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tutupnya sektor pariwisata saat pandemi tak membuat Perusahaan Otobus (PO) Pariwisata 44 Trans diam. Mereka garap dan operasikan kafe di dalam bus atau Cafe on The Bus.

Selama pandemi Covid-19, PO Pariwisata asal Kabupaten Pekalongan ini nyaris tak ada pemasukan. Awal pandemi masih ada beberapa order. Setelah pariwisata ditutup, mereka sama sekali tak melayani perjalanan.

“Dalam kondisi seperti itu saya berpikir bagaimana caranya usaha tetap jalan, karyawan tetap berpenghasilan meski tak seperti biasanya,” kata pemilik 44 Trans Sholeh Bintoro kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski baru tiga unit, lanjut Sholeh, Cafe on The Bus memberi nafas perusahaan. Bus ini berukuran kecil. Kapasitasnya tak lebih dari 15 orang. Kursinya berhadap-hadapan. Ada meja di tengahnya. Mirip tempat duduk kereta api. Bus ini dioperasikan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Baca juga:  Ada Kampung Pemulung di Tengah Gemerlap Kota Sejuta Bunga

Penumpang boleh sekadar naik tanpa memesan menu. Tarifnya Rp 10 ribu untuk perjalanan pendek, Rp 30 ribu untuk perjalanan yang lebih panjang. Keliling di sekitar kawasan Bebekan atau Gemek, Kedungwuni.

Tak hanya merilis Cafe on The Bus agar bertahan dari dampak pandemic, 44 Trans juga melakukan beberapa langkah lain. Yakni mengikuti road show penyambutan new normal dan mengadakan tur uji coba new normal. Juli lalu, 29 unit bus disiapkan untuk piknik bareng masyarakat umum ke Kabupaten Semarang. Tarifnya Rp 75 ribu untuk non member, Rp 50 ribu untuk member 44 Trans. Cara ini membuat perusahaan mampu bertahan. “Alhamdulillah sejauh ini kami belum pernah melakukan PHK. Saya menghindari itu,” jelasnya. (nra/ton/bas)

Baca juga:  Spesialis Pencuri HP Milik Anak Kecil Dibekuk

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya