alexametrics

Belajar lewat Radio, Upacara di Depan Cermin

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Setiap pagi, Puja Pramudya Marta tetap berseragam sekolah. Celana biru, baju putih dengan tanda lokasi SMP Negeri 1 Bodeh Kabupaten Pemalang. Sebuah radio kecil tak bisa dipisahkan darinya.

Radio tersebut jadi sarana belajar baginya. Lewat radio, guru-guru SMPN 1 Bodeh bersiaran. Tapi isinya tentang pelajaran hari itu. Para siswa seperti Puja, mendengarkan dari rumah sembari mencatat atau mengerjakan soal yang disampaikan lewat radio Bosa FM.

Puja mengaku lebih bisa mencerna apa pelajaran lewat radio dibandingkan lewat aplikasi video. Suara lebih jernih dan hemat biaya kuota internet. “Kalau pakai video kadang-kadang macet, jadi suaranya ikut terputus,” ungkapnya.

Tak hanya itu, saat jam upacara, ia juga harus mengikuti. Biasanya ia lakukan di depan cermin kamarnya. “Ya tetap mengikuti upacara. Kadang-kadang juga diketawai adik karena saya hormat di depan cermin,” katanya sambil tertawa.

Ela Sulaela, ibu Puja, mengaku selalu duduk mendampingi anaknya ketika siaran dimulai. Ia baru beranjak pergi setelah putranya mulai mengerjakan soal. Menurut Ela, pembelajaran lewat radio lebih ramah untuk mata. Anak tidak berlama-lama memandang layar ponsel. Bisa lebih fokus dan lebih jelas suaranya.

Baca juga:  Belajar Anatomi Tubuh, Warnanya Coklat Semua

Belajar lewat radio diterapkan SMPN 1 Bodeh lantaran banyak siswa terkendala sinyal internet. Gagasan merancang radio ini muncul dari Sriyana, guru matematika. Dibantu para alumni SMPN 1 Bodeh yang telah berpengalaman di dunia radio komunitas.

Ruang siaran Bosa FM berada di laboratorium komputer. Alatnya lengkap. Mulai dari mikrofon ala radio, mixer, headphone, dan lain-lain. Penyiarnya tidak lain adalah para guru.

Ketika Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, siaran Bosa FM dipandu oleh Yulianti, guru bahasa Inggris. Gayanya sudah seperti penyiar radio berpengalaman. Menyapa pendengar dan berucap nyaris tanpa jeda. Sebelum Bosa FM beroperasi, para guru mengikuti pelatihan penyiaran.

Sebagai guru Bahasa Inggris, Yulianti sering mendapat pertanyaan dari siswa soal bagaimana cara menuliskan lafal kosakata bahasa inggris yang kurang familiar. Sedangkan Hadi Waluyo sebagai guru IPA merasa kesulitan menjelaskan cara menuliskan rumus-rumus fisika maupun kimia. “Sekarang saya sikapi dengan cara mengirim materi terlebih dahulu pada malam hari ke siswa melalui Whatsapp. Nanti materi itu mereka simak saat siaran. Saya tinggal menerangkan,” beber Hadi.

Baca juga:  Usung Materi Bank Syariah, Bersaing dengan Doktor dan Profesor

Dalam sehari, ada enam siaran di Bosa FM untuk mata pelajaran. Dari enam siaran itu, kelas VII, VIII, dan IX masing-masing mendapat jatah dua siaran. Tambahannya adalah untuk upacara atau pembelajaran esktrakulikuler.

Kepala Sekolah SMP 1 Bodeh Kirno menambahkan, Bosa FM diresmikan pada 18 Juli 2020. Selain dari orang tua siswa, radio ini mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang. “Kepala Dindikbud Kabupaten Pemalang menyampaikan ke saya bahwa ada orang tua siswa yang menyatakan puas dengan sistem pembelajaran jarak jauh melalui radio ini. Selain lebih murah, suaranya lebih jelas dibanding menggunakan internet,” ujarnya.

Pembelajaran lewat radio juga dilakukan guru SDN 01 Tegalontar, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan. Mereka menyiarkan bahan pelajaran lewat Radio Komunitas PPK FM Sragi.

Kepala SDN 01 Tegalontar Yoso menjelaskan, dari 289 siswa ada 145 anak yang tidak bisa menjangkau sistem pembelajaran daring. Permasalahan mereka hampir sama: tak memiliki gadget yang mendukung dan keberatan membeli kuota internet.

Baca juga:  Hilang Kendali, Pikap Masuk Jurang, Dua Luka Berat

Yoso makin merasa bersalah ketika suatu ketika dia mendapati siswanya bermain di jalanan saat jam pelajaran. “Mungkin karena tak memiliki handphone yang mendukung yang membuat siswa tersebut lebih memilih untuk bermain,” tuturnya sambil mengelus dada. Hingga akhirnya lewat rekannya, Sunarto, tercetus rencana mengajar melalui radio.

Awalnya Yoso ragu karena dia dan para guru lain asing dengan teknik siaran di radio. Ide itu akhirnya dia coba tawarkan kepada para guru.Benar, para guru justru memprotesnya. Namun, dia terus membujuk dan meyakinkan. Para pengajar akhirnya sepakat dengan ide itu. Pada 6 Juli 2020, para guru SDN 01 Tegalontar mulai mengajar via radio.

Pembelajaran via radio itu khusus untuk siswa kelas V dan VI. Untuk kelas di bawahnya, SDN 01 Tegalontar masih menggunakan sistem home visit (mengunjungi rumah siswa). (nra/ton/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya