alexametrics

Bantaran dan Tempat Sampah Disulap Jadi Kebun Sayur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pertanian perkotaan (urban farming) menjamur di sejumlah tempat. Bertani tak sudah menjadi gaya hidup. Alternatif lumbung pangan selama masa pandemi.

Warga RW 08 Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang tak ingin bantaran Banjir Kanal Barat (BKB) kosong dan tak terawat. Sejak Januari 2020, sekitar dua hectare lahan kosong ditanami berbagai macam sayuran dan buah. Mulai dari singkong, terong, cabai, tomat, kacang panjang, kacang tanah, pisang, hingga pepaya.

Ketua RW 08 Kelurahan Ngemplak Simongan Hadi Muslih mengatakan semua pembiayaan untuk bercocok tanam menggunakan dana swadaya masyarakat. Meski tidak seberapa, namun sangat berguna untuk membantu sesama warga. “Di sini warganya guyub, walaupun sudah pada tua namun semangatnya sangat tinggi,” katanya.

Baca juga:  Pemkot Magelang Terima DID Rp 42,5 M

Biasanya, lanjutnya, ketika sudah siap panen banyak tengkulak yang datang untuk membeli dagangan. Nantinya, uang hasil panen dijadikan sebagai kas untuk membeli benih, pupuk, dan biaya tanam. Namun, warga bisa dengan bebas mengambil jika membutuhkan bahan untuk dimasak. Meski begitu, harus seizin ketua RW agar tetap terkendali dengan baik. Setidaknya warga telah berhasil memanen terong sebanyak 5 kali. Sekali panen bisa sampai 1 kuintal.

Lurah Ngemplak Simongan Slamet akan terus mendorong warga untuk giat melakukan urban farming. Sebab dengan cara ini ketahanan pangan warganya bisa berjalan dengan baik. Di tengah pandemi harus pintar mencari solusi agar masyarakat tidak kehabisan makanan.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Harapan Sejahtera Kelurahan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang mengubah lahan pembuangan sampah menjadi bermanfaat. Jadi kebun sayur.

Baca juga:  Bekerja dengan Hati dan Humanis

Lurah Krobokan Sarno, secara bergotong royong warga bekerja bakti membersihkan lokasi. Selanjutnya ada 20 jenis sayuran yang dipilih untuk ditanam. Di antaranya tomat, terong, cabe serta kangkung. “Sayuran itu bisa dimanfaatkan oleh warga untuk memasak. Tentunya dijual dengan harga yang lebih murah dibanding di pasar,” katanya.

Ketua KWT Mekar Harapan Sejahtera, Enimiyatoi mengatakan, di taman Forest, tak hanya sayuran yang dirawat. Lele dipelihara sebagai sumber protein hewani.

“Kalau masa panen itu sudah banyak orang yang menunggu untuk dijual kembali dan hasilnya untuk digunakan pemeliharaan kembali,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Hernowo Budi Luhur akan terus mengembangkan program pertanian perkotaan ini. Pihaknya juga terus memantau dan memberikan bantuan kepada kelompok tani maupun urban farming di Kota Semarang. “Kami terus memberdayakan masyarakat untuk memiliki lumbung pangan di masing-masing kelurahan,” tegasnya. (ifa/hid/ton/bas)

Baca juga:  Siap Membela Pencari Keadilan meski Tak Dibayar

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya