Sewakan Perahu Sederhana, Sungai Dihias Lampion

Kreativitas Pemuda Ansor Pegaden Tengah Sulap Kali Kotor Jadi Wisata Air

275
SUSUR SUNGAI: Perahu wisata yang disewakan bagi pengunjung Kali Peganden. (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSUR SUNGAI: Perahu wisata yang disewakan bagi pengunjung Kali Peganden. (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Dulu Kali Pegaden kotor. Banyak rumput liar dan alang-alang tumbuh di bibir sungai. Namun kini pemuda Ansor Pegaden Tengah menyulap sungai peninggalan Belanda itu menjadi wisata air. Mereka menyewakan perahu sederhana.

NANANG RENDI AHMAD, Pekalongan, Radar Semarang

NASRUL Haq melepas tali pengikat perahu. Sementara Wanuri, juru mudi, sedang menyalakan mesin perahu berbahan bakar bensin itu. Sekali tarikan, mesin langsung menyala. Perlahan perahu melaju. Melintasi kali peninggalan penjajahan Belanda yang berada di tengah-tengah Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.

Perahu itu hasil kreativitas Pemuda Ansor Pegaden Tengah. Mereka merakitnya sejak beberapa bulan lalu. Semula hanya untuk memfasilitasi hiburan anak-anak kecil setempat. Namun belakangan muncul ide menjadikan perahu itu sebagai salah satu wahana wisata susur sungai.

Perahunya sederhana. Berukuran 6 x 2,5 meter. Kerangkanya dari baja ringan. Lantainya balok kayu. Pengapungnya menggunakan enam buah drum. Tiga di sisi kanan dan kiri. Atap berbentuk limas. Seperti atap rumah. Penutup atap menggunakan terpal. Ada empat tempat duduk panjang. Masing-masing muat untuk tiga orang dewasa. Sebagian bahan perahu ini dari barang bekas.

“Sebenarnya ada dua perahu. Sekarang sedang kami renovasi. Bentuknya beda. Yang itu benar-benar perahu nelayan. Kami beli dari nelayan Kecamatan Wonokerto,” kata Nasrul Haq, salah satu anggota Pemuda Ansor Pegaden Tengah kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (13/8).

Tak hanya merakit perahu, mereka juga mempercantik sekitar sungai. Rumput dan ilalang mereka babat. Jembatan dicat warna-warni. Mereka mendirikan tiang-tiang untuk memasang lampu-lampu dan lampion. Memang tidak di sepanjang pinggir kali, tapi hanya di wilayah RT 01 RW 01.

“Ide itu muncul saat ada wacana new normal. Kami berpikir kali desa perlu dimanfaatkan. Akhirnya kami jadikan wisata air. Meski masih sederhana begini. Itung-itung membersihkan dan merawat kali,” ujarnya.

Semua ongkos mereka tanggung sendiri. Iuran. Belum ada dukungan dana dari Pemerintah Desa Pegaden Tengah. Namun mereka memang bertekad membuat objek wisata di desa.

“Nanti pengembangannya juga dari hasil penyewaan perahu ini. Tarifnya Rp 2 ribu per kepala. Tiap sore sudah lumayan ramai pengunjung. Rencananya akan kami buka sampai malam,” ucapnya. (*/aro)