“Saya Pasrah, Semoga Pelaku dapat Hukuman Setimpal”

Kisah Antarikso, Kubur Mayat Tak Dikenal Ternyata Anak Sendiri (2-Habis)

276
SADIS: Pelaku NK dan kekasihnya, S, menjalani reka ulang saat melakukan pembunuhan terhadap Surya Maulana Putra. (Inzet) Surya Maulana Putra.(LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SADIS: Pelaku NK dan kekasihnya, S, menjalani reka ulang saat melakukan pembunuhan terhadap Surya Maulana Putra. (Inzet) Surya Maulana Putra.(LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, NK, 17, sempat menemani Antarikso, 49, berkeliling mencari Surya Maulana Putra, 15. Namun tak diduga ternyata dialah pembunuh putra kesayangannya itu.


RIYAN FADLI, Pekalongan, Radar Semarang

DIKETAHUI Surya dibunuh pada Sabtu (18/4) siang. Ia tewas di tangan NK, 17, orang yang pernah membantu Antarikso berkeliling mencari keberadaan Surya. Dalam aksi pembunuhan itu, NK dibantu kekasihnya, S, 16. Leher Surya dijerat kabel usai dipukul dengan benda keras. Jenazah Surya ditemukan Jumat (24/4) dalam kondisi sudah tidak utuh dan sulit dikenali. Bahkan, mayatnya sudah dikerubuti belatung.

Antarikso menceritakan, Sabtu (18/4) pagi, Surya berpamitan keluar rumah. Awalnya, dia tidak tahu, anaknya pergi bersama siapa. Yang pasti, sejak itu, Surya tidak pulang. Atarikso dan keluarganya pun panik. Upaya pencarian dilakukan. Dari teman anaknya, Antarikso mendapat kabar kalau Surya pergi bersama NK. Teman anaknya itu juga bilang kalau Minggu (19/4) pukul 14.00, Surya dan NK ada di Bandar, Batang. Tapi teman anaknya itu dipesan oleh NK agar tidak bilang ke orang tua Surya. Tapi ia tetap bilang ke Antarikso. “Dia lapor ke saya, akhirnya saya yang mencari,” ujarnya.

Setelah itu, kakak Surya bersama temannya mencari ke rumah NK. Orang tuanya bilang kalau NK tidak di rumah. Antarikso lalu pergi ke rumah kakek NK. “Di rumah kakek NK, saya ditemui neneknya. Dia bilang (NK) tidak pernah ke sini. Paling hanya mandi, lalu pergi lagi. Paginya, kami ketemu NK di rumahnya,” tutur Antarikso.

Pria tersebut terlihat tegar sembari bercerita, matanya terlihat berlinang air mata. “Katanya kamu pergi sama Surya kemarin, lha Surya-nya mana? Tanya saya. NK bilang Surya tidur sama saya di rumah kakek saya. Itu berarti neneknya sudah berbohong,” katanya.

Ia menjelaskan, NK saat itu berkata pukul 10.00 pagi, Surya pisah dengannya. Karena pergi dengan teman NK. Antarikso merasa ragu dengan keterangan NK, kemudian dibawanya ke rumah kakek NK. Ternyata sang kakek mengatakan benar bahwa Surya tidur di sana.

Setelah itu, NK bersama Antarikso mencari Surya sampai ke Bandar sesuai petunjuknya. Pencarian itu dilakukan sampai pukul 03.00 pagi. “Saat itu saya percaya saja karena NK bantu saya mencari anak saya, tidak tahunya dia sendiri pelakunya,” ujarnya geram.

Pukul 03.00 pagi itu, NK sempat berbicara pada Antarikso. “Besok saya dijemput jam berapa pak untuk mencari lagi?”tanya NK. Antarikso pun tidak curiga.

Esok harinya saat hendak dijemput, NK mengulur-ulur waktu. Sampai dia kabur saat dijemput. Setelah itu, Antarikso hilang kontak dengan NK. Namun pencarian terus dilakukan Antarikso dan keluarganya. Asumsinya saat itu motor dan HP Surya diambil temannya, sehingga dia tidak berani pulang.

“Selama tiga bulan itu, pagi, siang, sore, malam, saya mencari terus. Dibantu banyak kalangan. Beberapa orang mengabarkan sempat melihat Surya. Di mana pun tempat, langsung saya cek. Tapi, memang hasilnya nihil,” ucapnya.

Hingga pada Juli, tepat tiga bulan Surya hilang, kasus anaknya terbongkar. Antarikso mengaku, empat hari sebelum kasus itu terbongkar, ia sempat mimpi tidur dengan Surya. Saat itu, putranya minta makan, kemudian ia buatkan makan.

Pada kesempatan lain, sang istri, Faiqoh, 50, juga bermipi Surya datang membelikan bakso. Itu merupakan makanan kesukaan anak yang terkenal punya jiwa sosial tinggi tersebut. Surya sendiri baru mengenal NK, yang juga seorang anak punk. Ia biasa bertemu di warnet depan diler Daihatsu.

“Semoga diberi hukuman yang setimpal atas apa yang diperbuatnya. Saya pasrah saja toh dia nanti di akhirat juga akan mendapatkan pengadilan,” ucapnya.

Dikatakan Faiqoh, semasa hidupnya, Surya tidak jarang memiliki niatan untuk menyumbangkan barang yang sudah tidak dipakai kepada temannya. Seperti menyumbangkan seragam, buku-buku dan sepatu yang sudah tidak dipakai supaya lebih bermanfaat.

“Saya tidak menaruh dendam, dekat saja tidak mau. Saya tidak mau mengotori diri saya dengan orang yang menzalimi anak saya. Apa bedanya saya dengan dia kalau seperti itu. Percuma tidak ada artinya, kecuali bisa membuat anak saya hidup kembali,” ucapnya sembari menahan kekesalan.

Antarikso mengenang, suatu hari saat Surya bermain bola dan melihat temannya tidak jajan, ia selalu membagi uang sakunya dengan temannya tersebut. Uang saku Rp 10 ribu dibagi dua dengan temannya. “Surya adalah orang yang sangat istimewa buat saya,” katanya.

Teman-teman Surya juga merasa kehilangan. Surya seharusnya sudah kelas 8 SMP. Ia sekolah di SMP Negeri 16 Pekalongan. Sehari setelah kasusnya terbongkar, banyak teman Surya yang berkunjung ke rumah duka dan ikut berbela sungkawa. Mereka datang mengayuh sepeda, padahal jaraknya cukup jauh dari rumah masing-masing. Anak-anak tersebut menangis, tidak terima teman baiknya telah tiada.

“Saat pertama tahu kalau itu anak saya, saya langsung menangis histeris dan bergegas ke makam dulu, baru saya pulang mengabari keluarga. Setiap pukul 06.00 sampai sekarang, saya selalu ke makamnya di Sapuro,” ucapnya sedih. (*/aro)