Usai Mengubur, Pasang Batu Nisan Bertuliskan X

Kisah Antarikso, Kubur Mayat Tak Dikenal Ternyata Anak Sendiri (1-Bersambung)

310
SUDAH IKHLAS: Antarikso dan istrinya, Faiqoh, memegang foto almarhum Surya Maulana Putra. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUDAH IKHLAS: Antarikso dan istrinya, Faiqoh, memegang foto almarhum Surya Maulana Putra. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Kisah Antarikso sungguh membuat trenyuh. Ia telah menguburkan jenazah tak dikenal. Belakangan diketahui, mayat yang dikubur itu ternyata putranya yang hilang, Surya Maulana Putra, 15. Surya dibunuh NK, 17, anak punk, tiga bulan lalu.

RIYAN FADLI, Pekalongan, Radar Semarang

SELAMA tiga bulan Antarikso, 49, mencari anaknya yang hilang. Setiap hari, ia sempatkan melakukan pencarian, mulai wilayah Kabupaten Batang hingga Kota Pekalongan. Ia yakin, putranya itu masih hidup. Hingga pada Jumat (24/4) silam ditemukan sesosok mayat yang sudah rusak dan sulit dikenali. Saat tahu ada penemuan mayat di bekas diler Daihatsu Jalan Pantura Kota Pekalongan itu, Antarikso datang ke lokasi dan melihat dari dekat. Namun tanda-tanda itu anaknya yang hilang tidak tampak. Ia sudah tak mengenali mayat itu. Bagian wajah sudah rusak dan dikerubuti banyak belatung.

“Siapa tahu anak saya, kebetulan anak saya sudah tidak pulang berhari-hari. Siang saat ditemukan, saya sempat ke diler untuk melihat. Sorenya saya datang lagi ke rumah sakit. Mayat itu benar-benar tidak bisa dikenali,” kata Antarikso saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya RT 1 RW 6 Kelurahan Kalibaros, Kecamatan Pekalongan Timur.

Jasad tak dikenal itu akhirnya dikuburkan sehari kemudian pada Sabtu (25/4) di TPU Sapuro. Pemakaman mayat tak dikenal itu dilakukan oleh Antarikso. Kebetulan ia adalah Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) di Dinas Sosial Kota Pekalongan. Antarikso membawahi wilayah Kecamatan Pekalongan Timur. Ia sudah biasa menguburkan mayat tak dikenal. Sampai jenazah ia makamkan, Antarikso belum sadar jika jasad yang sudah tidak bisa dikenali itu adalah Surya, putranya. Identitas mayat itu terungkap setelah NK ditangkap lantaran telibat dalam kasus pembunuhan di tempat lain. Korbannya ditemukan sudah tak bernyawa di bantaran Sungai Klego, Kecamatan Pekalongan Utara, Kamis (16/7) lalu.

“Saya tahu kasus pembunuhan itu dari baca di berita online, Sabtu, 18 Juli, ternyata pembunuhnya NK. Saya kaget. NK kan teman Surya yang sempat menemani saya keliling mencari Surya,” ujarnya.

Saat mengetahui pembunuhnya adalah NK, Antarikso kemudian melapor ke polisi. Sebab, anaknya tidak pulang usai bersama NK, anak punk, yang juga teman Surya. Dari situ, polisi lantas menginterogasi NK. Dari mulutnya meluncur pengakuan, kalau dirinya telah membunuh Surya. Mayatnya ditinggalkan di bekas diler Daihatsu. Saat itulah, Antarikso baru tersadar jika jasad yang dikuburkan itu ternyata anak kandungnya sendiri. Seketika, tangis Antarikso pecah.

Antarikso mengaku, saat memakamkan mayat tak dikenal sudah muncul firasat. Biasanya pemakaman mayat misterius ditandai dengan bambu atau kayu. Namun saat itu Antarikso teringat anaknya yang hilang. Hingga ia membelikan nisan khusus dengan tulisan X. Hal itu dilakukan untuk mempermudah pencarian bila ada warga lain yang merasa kehilangan anggota keluarganya. Nisan yang dibeli tersebut berwarna putih. Setelah jelas itu mayat anaknya, Antarikso pun menambahkan nisan warna hitam dengan tulisan nama almarhum anaknya.

“Waktu belum tahu itu makam Surya, saya sering lewat sana menyambangi makam itu. Saya mendoakannya dan meminta pengelola makam untuk merawat makam itu,” ceritanya sedih.

Sebelum kasus itu terungkap, hampir setiap malam Antarikso ditemani beberapa warga menunggu Surya di tepi pintu masuk Tol Setono. Bahkan sampai subuh tiba. Sebab, sebelum meninggal, putranya itu kerap mangkal di situ. Sekarang Antarikso sudah mengikhlaskan kejadian tersebut.

“Ini kebesaran Tuhan. Walaupun saya diberikan cobaan sebesar itu, tapi saya masih diberi kesempatan untuk merawat jenazah yang ternyata itu anak saya sendiri,” kata Antarikso pilu. (bersambung/aro)