Pentas hanya Dua Jam, Tanpa Mengundang Penonton

Menyaksikan Festival Lima Gunung di Tengah Pandemi Covid-19

328
SEPI: Festival Lima Gunung ke-19 yang digelar di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)
SEPI: Festival Lima Gunung ke-19 yang digelar di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 membuat Festival Lima Gunung (FLG) ke-19 digelar sederhana. Waktunya mendadak. Tampil pun hanya dua jam, tanpa mengundang penonton.

AGUS HADIANTO, Magelang, Radar Semarang

TETABUHAN musik tradisional terdengar cukup keras di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Sound berkekuatan besar dipasang di pojok lokasi acara. Beberapa penari asyik menampilkan tarian di sebuah atap dak bercor semen. Sekitar 100 meter, kumpulan penari pun sama. Meliukkan badan di area lapang sawah tanaman onclang (daun bawang).

Tidak ada penonton yang berjubel. Hanya warga di lereng Gunung Sumbing itu yang hadir. Memang FLG ke-19 tahun ini digelar sangat sederhana. Tak ada ribuan penonton. Tak ada ratusan seniman dari berbagai wilayah atau luar Magelang. Hanya seniman tuan rumah yang tampil. Waktu pelaksanaannya pun mendadak. Tanpa mengundang siapapun.

Ketua Panitia Lokal Djawahir Sarwo Edhie mengungkapkan, FLG ke-19 sebenarnya sudah dirancang sejak beberapa bulan lalu. Covid-19, kata Djawahir, membuat panitia mengubah rancangan skema acara.
Djawahir mengatakan, pentas kesenian dilakukan di atap dak rumah penduduk yang terbuat dari cor-coran semen dan sebuah lahan ladang onclang.

“Pentas di atap dak rumah milik Taufik, Haryoto, Muh Soni, dan milik Rodin. Warga sini. Sedang pentas di ladang tanaman onclang milik Sugiyarto. Jadi, tampil secara bersamaan di beberapa lokasi,” paparnya.

Ia menuturkan, selain mengubah skema awalnya, namun tanpa mengurangi esensinya. Menurutnya, FLG kali ini bertajuk ‘Donga Slamet Waspada Virus Donya’ dengan diawali prosesi doa dan permohonan izin ke makam leluhur masyarakat setempat. Dilanjutkan pementasan Topeng Ireng, Lengger, Jaran Kepang, Beksan Wanara Arga, dan Jathilan perempuan.

“Prosesi di Petilasan Gadung Mlati-Tledek Meyek yang ada di dekat masjid dusun setempat. Juga di makam Eyang Dipo Drono (cikal bakal Dusun Krandegan) yang ada di dekat Sanggar Cipto Budoyo Sumbing. Prosesi doa di makam Eyang Dipo Drono dan Petilasan Gadung Mlati-Tledek Meyek tersebut dipimpin sesepuh dusun setempat, Warijanto,” jelasnya.

Djawahir mengakui pelaksanaan FLG juga mendadak. Bahkan dirinya mendadak dikabari Presiden Lima Gunung, Sutanto Mendut. “Iya tanggal kepastian pelaksanaan FLG tahun ini sangat mendadak. Yakni, saya diberitahu oleh Pak Tanto Mendut, Presiden Lima Gunung, pada Jumat, 7 Agustus sekitar pukul 18.00,” akunya.

Ia menambahkan, meskipun diberitahu secara mendadak, tetapi ia telah siap untuk menjadi tuan rumah. Dan, langsung memutuskan pentas enam kesenian yang ditampilkan tersebut dilaksanakan di dak atap rumah penduduk setempat.
Djawahir mengaku, untuk meminimalkan pengunjung, dirinya meminta bantuan dari beberapa anggota Banser dan Linmas Desa Sukomakmur untuk berjaga-jaga. Tujuannya, mencegah penonton dari luar Dusun Krandegan datang.

Dirinya juga mengimbau masyarakat Dusun Krandegan agar menaati protokol kesehatan bagi yang ingin menyaksikan pentas kesenian FLG. Masyarakat, dimintanya untuk tidak berkerumun dan menyaksikan dari rumah saja. Jika ada yang ingin mendekat ke panggung, maka harus selalu memakai masker.

“Protokol kesehatan tetap kami terapkan, agar semuanya berjalan dengan aman dan lancar. Selain itu, kami ingin para seniman dari Komunitas Lima Gunung ini bisa menjadi contoh bagi lainnya. Yakni, tetap bisa pentas dan protokol kesehatan tetap dilaksanakan,” ucap Ketua Kesenian dari Komunitas Krandegan Sumbing ini.

Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengaku, pentas sejumlah kesenian yang dilakukan di atap rumah sebagai upaya dari panitia untuk menghindari adanya kerumunan massa selama pentas berlangsung. Selain itu, kata Supadi, panitia juga menerapkan protokol kesehatan bagi semuanya, yakni wajib memakai masker dan jaga jarak.

Menurutnya, pelaksanaan FLG yang memasuki tahun ke-19, merupakan pelaksanaan paling singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, kata Supadi, FLG dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut. Untuk saat ini hanya dilakukan satu hari saja.

“Bahkan tahun ini merupakan pentas FLG paling singkat, hanya berdurasi sekitar dua jam saja. Biasanya dilaksanakan selama tiga hari dan berlangsung dari pagi hingga larut malam,” katanya.
Supadi mengatakan, selain dilaksanakan paling singkat, pentas kesenian dari lima gunung, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Menoreh dan Sumbing pada tahun ini tidak ada penonton yang berasal dari luar daerah dan luar negeri.

Menurut Ketua Komunitas Kesenian Andong ini, selain membatasi jumlah penonton, pihaknya juga membatasi jumlah peserta yang hendak ikut pentas. Yakni, hanya enam kesenian saja yang ditampilkan, dan semuanya berasal dari Komunitas Kesenian Krandegan Sumbing.

“Biasanya jumlah peserta mencapai ratusan grup kesenian yang tidak hanya berasal dari Komunitas Lima Gunung saja, melainkan juga beberapa grup kesenian dari luar Jawa Tengah, luar Jawa bahkan mancanegara. Namun, karena adanya pandemi Covid-19 ini, kami membatasi jumlah peserta dan penonton,” bebernya.

Supadi menyebutkan keunikan lainnya, yakni poster-poster Festival Lima Gunung diunggah oleh masing-masing seniman hanya berselang 10 menit sebelum pentas dimulai. Padahl, biasanya poster-poster yang ditujukan untuk menarik pengunjung diunggah jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan.

Ia menyebutkan, pihaknya sebenarnya merasa gelo atau kecewa dengan berbagai pembatasan tersebut. Sebab, dirinya tidak bisa berkumpul bersama dengan rekan-rekan kesenian yang ada di Komunitas Lima Gunung. Namun, pihaknya tidak ingin melanggar protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah, khususnya larangan berkerumun.

“Kami sebagai seniman tetap patuh dan taat para peraturan dari pemerintah. Kami bisa pentas saja sudah senang, meskipun jumlahnya terbatas,” imbuhnya.
Ia mengaku, empat dari lima komunitas kesenian yang berada di Komunitas Lima Gunung hanya menghadirkan satu hingga dua orang wakilnya saja. Selebihnya yang hadir dan mengisi acara dari pihak tuan rumah, yakni Komunitas Krandegan Sumbing.

Supadi menambahkan, sebenarnya pihaknya beberapa waktu lalu akan melaksanakan FLG ke-19 ini secara virtual. Namun dengan berbagai macam pertimbangan, pesta kesenian tahunan petani di lima gunung tersebut tetap dilaksanakan secara langsung di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. (*/aro)