Prosedur Pembayaran Biaya Kuliah Berbelit Jadi Simpel

Singgih Saputro, Ciptakan Aplikasi Smart Campus

340
BANTU MAHASISWA: Singgih Saputro saat mempraktikkan aplikasi Smart Campus di laptop. (NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANTU MAHASISWA: Singgih Saputro saat mempraktikkan aplikasi Smart Campus di laptop. (NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Teknologi berkembang dengan pesat. Namun masih banyak perguruan tinggi yang memiliki proses administrasi yang tak praktis. Hal tersebut membuat mahasiswa kesulitan menempuh administrasi kampus yang berbelit. Singgih Saputro hadir membawa solusi.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Radar Semarang

Singgih Saputro kembali mengenang masa itu. Masa ketika ia masih menjadi mahasiswa Universitas Stikubank Semarang (Unisbank). Kala itu, Singgih menghabiskan banyak waktunya di semester tujuh untuk membuat sistem bernama Smart Campus. Sebuah sistem yang membantu mahasiswa untuk bisa melakukan pembayaran kuliah dengan mudah.

Sembari mengingat-ingat, ia bercerita bahwa sebelum adanya Smart Campus mahasiswa harus menghabiskan banyak waktu untuk membayar uang kuliah. Mahasiswa harus jauh-jauh pergi ke bank, mengisi formulir dan SPT, dan setelahnya masih harus lapor ke bagian keuangan. Belum lagi jika mendekati batas waktu pengambilan SKS. Mahasiswa harus antre lama di bank.

Proses seperti itu dirasa tak efektif. Banyak membuang-buang waktu. Sedangkan mahasiswa biasanya punya segudang aktivitas.

Dari situlah, Singgih kemudian memiliki inisiatif untuk membuat Smart Campus. Melalui Smart Campus, mahasiswa bisa melakukan pembayaran secara online. Tanpa harus mengisi SPT karena akan ter-update secara otomatis.

Aplikasi yang bisa diunduh di playstore tersebut bisa diakses di seluruh smartphone berbasis android. “Jadi seperti di market place. Pembayara bisa lewat handphone,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (9/8).

Tak hanya melakukan pembayaran. Pria 26 tahun itu menambahkan, melalui Smart Campus mahasiswa juga bisa melihat jadwal perkuliahan serta nilai yang didapatkan.

Singgih nengatakan, pembuatan Smart Campus merupakan pengalaman pertamanya dalam membuat program. Meski berasal dari jurusan Teknik Informatika, namun bukan hal mudah untuk membuat Smart Campus. Banyak hal yang harus diteliti oleh Singgih secara mendalam. Seperti memahami alur mahasiswa. Apakah mereka masih aktif atau tidak.

Tak hanya itu, di awal pembuatan, Singgih juga harus detail mengklasifikasikan banyak mahasiswa. Ia teliti satu per satu terlebih dahulu. Supaya nantinya tak ada kekeliruan saat disinkronkan dengan sistem.

“Intinya harus detail dan sabar. Karena butuh waktu lama dan harus melalui banyak trial and error,” jelasnya.

Jelas tersirat kebanggaan di rautnya. Bagaimana tidak, kini saat ia tak lagi jadi mahasiswa, aplikasi tersebut masih terus digunakan dan bermanfaat untuk banyak mahasiswa. Ia pun berkeinginan untuk bisa kembali membuat aplikasi serupa. Tak hanya untuk kampus almamaternya. Tapi untuk seluruh kampus di Kota Semarang. Supaya lebih banyak mahasiswa yang bisa terbantu. (*/aro)