Hikmah di Balik Pandemi, Antarvendor Kini Bisa Bersatu

Mengenal Forum Komunikasi Penyelenggara Pernikahan Magelang

435
PERNIKAHAN NEW NORMAL: Simulasi pernikahan yang dihelat Forum Komunikasi Penyelenggara Pernikahan Magelang (Forkoppam) terkesan mewah layaknya hajatan sesungguhnya. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERNIKAHAN NEW NORMAL: Simulasi pernikahan yang dihelat Forum Komunikasi Penyelenggara Pernikahan Magelang (Forkoppam) terkesan mewah layaknya hajatan sesungguhnya. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Forum Komunikasi Penyelenggara Pernikahan Magelang (Forkoppam) belum lama dibentuk. Namun berani menggelar ‘resepsi’ pernikahan dengan mewah. Hajatan itu pun taat pada protokol kesehatan, menyesuaikan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

PUPUT PUSPITASARI, Magelang, Radar Semarang

SIAPA saja pasti tercengang melihat kehebohan dekorasi pernikahan yang diselenggarakan di Gedung Wiworo Wiji Pinilih milik Pemkot Magelang. Dekorasi welcome gate terkesan unik, namun segar. Apalagi jika masuk ke area resepsi, akan terpikir siapa yang menggelar pernikahan semewah ini di tengah pandemi Covid-19.

Bunga-bunga segar di mana-mana, ditambah pencahayaan lampu membuatnya tampak indah. Tentunya akan menghitung-hitung berapa biaya yang dikeluarkan oleh si pemilik hajatan.

Belum lagi suasana di dalam gedung. Terlihat banyak tamu undangan yang menikmati jamuan makan. Ada sepasang pengantin dan orang tua mempelai pria maupun perempuan. Ada penerima tamu, juga pengiring pengantin. Begitupun dengan pengisi acara, musik dan master of ceremony (MC). Para tamu yang datang juga terlihat memberikan ucapan selamat kepada pengantin tanpa berjabat tangan, di atas panggung pelaminan yang megah.

Sebenarnya ini hanya simulasi pernikahan yang dihelat oleh Forkoppam. Namun begitu niat digarap. Penyelenggaran simulasi berlangsung dua hari. Tema yang diusung berbeda. Hari pertama, tradisional upacara adat panggih gaya Surakarta dan resepsi konsep duduk atau seating party. Di hari kedua, pernikahan gaya internasional dan resepsi standing party. Semua dikerjakan layaknya pernikahan sungguhan.

Koran ini, menemui salah satu perwakilan dari wedding organizer (WO). Dora Lina Bineri, pemilik DG Organizer. Ia membagikan cerita, mengapa simulasi ini diadakan. Hajatan ini di-sengkuyung bersama. Lalu apa Forkoppam itu?

Dia menjawab, Forkoppam terbentuk berawal dari keresahan vendor-vendor pernikahan yang mengalami masa sulit di tengah pandemi Covid-19. Tidak ada job. “Kondisi saat itu, kami benar-benar terpuruk. Dan kami berpikir bagaimana industri wedding bisa bangkit atau minimal berjalan,” katanya.

Memang, saat ini Kantor Urusan Agama (KUA) sudah membuka diri. Tapi calon pengantin sebatas menggelar akad. “Di situ kami prihatin, kalau akad saja, terbatas tamu dan vendornya hanya rias dan dokumentasi, mungkin catering-nya masak sendiri, lainnya nggak ada,” ungkapnya.

Setelah Kota Magelang masuk zona hijau, ia dan vendor lainnya membuat meeting online pada pertengahan Juni lalu. Rupanya diskusi dunia maya itu menghasilkan harapan baru. “Kami harus bergerak bersama, dan akhirnya kami bikin asosiasi ini, Namanya Forkoppam,” kenangnya.

Ia menyebut, Forkoppam terdiri atas gabungan tujuh asosiasi. Antara lain, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi Melati), MUA Hunter Kedu, Asosiasi Dekorasi Magelang (Adem), Ikatan Pekerja Musik Magelang (Ipemma), Magelang Master of Ceremony (MMC), Wedding Dokumentator Magelang Raya (Weddom) dan Ikatan Wedding Organizer (Iwoma).

“Totalnya sudah ada 198 vendor yang bergabung, dan menaungi asisten, crew, freelancer sebanyak 1.079 orang,” tuturnya.

Dora mengaku tidak mudah menyamakan persepsi. Masing-masing vendor juga memiliki sensitivitas berbeda. Menjaga hubungan ini, Forkoppam sepakat tidak mendelegasikan seseorang untuk menjadi ketua.

Tapi, sebelum dinamai Forkoppam dan menindaklanjuti hasil meeting online, para perwakilan vendor meminta Pemkot Magelang memberikan solusi atas kesulitan mencari gedung untuk menggelar simulasi. Berbekal niat yang baik inilah, Pemkot Magelang merespon dan memberikan izin Gedung Wiworo Wiji Pinilih untuk dipakai.

“Niat kita ini disambut baik, dan jadi landasan juga masuk dalam draf Peraturan Wali Kota (Perwal) terkait penyelenggarakan pernikahan dan hajatan di tengah pandemi Covid-19,” ungkapnya bersemangat.

Dukungan inilah yang membuat Forkoppam berbesar hati. Simulasi dikerjakan dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan video yang bisa dibagikan kepada masyarakat luas. “Kami ingin memberikan gambaran nyata, seperti ini loh hajatan di AKB itu.”

Mata Dora nampak berkaca. Ia mengaku terharu melihat simulasi ini berjalan dengan sangat baik, dan di luar ekspektasinya. Apalagi, dulunya antarvendor susah untuk bersatu. Namun sekarang bisa berjalan beriringan bersama.

“Ada hikmah di balik pandemi ini, kami merasa senasib sepenanggunan. Itulah yang membuat kami jadi solid. Tidak lagi mengatakan brand A, B dan C lagi. Kami sudah bersama-sama. Dan simulasi ini benar-benar menjawab kerinduan kami selama pandemi tidak berkarya,” tuturnya.

Semua vendor sudah berkontribusi dalam merumuskan standar operasional prosedur (SOP) pernikahan saat pandemi. Komitmen melaksanakan dipikul bersama. Dengan berasosiasi, kata Dora, segalanya jadi mudah. Antarvendor bisa saling mengingatkan, jika terjadi kelalaian.

“Simulasi ini juga bisa buat contoh kami sendiri. Jadi kesulitan kami dimana itu bisa terukur. Kami juga jadi ‘polisi’ masing-masing, harus menyadari kurangnya apa,” ucapnya.

Sukses menggelar simulasi, Forkoppam berencana menerbitkan e-book. Ini bagian dari sosial yang dilakukan Forkoppam. “E-book itu akan diterbitkan untuk masyarakat kalau menggelar hajatan nggak pakai WO, ada solusinya. Biar pesta nyaman, aman, ikuti SOP yang sudah kami rumuskan itu dengan melihat e-book.”

Meski anggota Forkoppam sudah ratusan, Dora menyebut asosiasi ini masih longgar bagi vendor-vendor di Magelang Raya (Kota Magelang dan Kabupaten Magelang) yang ingin bergabung.

“Semakin banyak yang gabung, kami akan semakin besar, dan kami punya tingkat kepentingan bersama. Namun di asosiasi ini, melarang pembahasan hal-hal yang sensitif. Misalnya harga paket pernikahan atau segmentasi yang dituju. Kami lebih membicarakan mengenai teknis, misalnya konsultasi layout dekorasi, menghadapi klien yang rewel bagaimana, kemudian mengelola sumber daya manusia (SDM) yang baik itu bagaimana, dan sebagainya,” paparnya.

Perwakilan dari make up artist (MUA) Bayu Karisma mengaku bergabung di asosiasi Forkoppam banyak manfaatnya. Ia bisa bertemu banyak vendor pernikahan. Apalagi Forkoppam ini dibentuk dengan tujuan menyambut new normal.

“Kita pekerja kreatif butuh simulasi agar kita semua tahu bagaimana kita bekerja dengan baik untuk melindungi diri dan orang lain,” ucap Bayu.

Dia berharap, adanya Forkoppam ini membuat antarvendor semakin dekat dan saling peduli. “Kelak kita bisa saling bergotong-royong untuk membangun industri kreatif di bidang wedding di Magelang semakin maju,” harapnya. (*/aro)