Awalnya Iseng, Sekarang Terima Banyak Pesanan

Dian September, Pelukis Tutup Botol Asal Semarang

594
KREATIF: Dian September dan lukisan wajah di tutup botol karyanya. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Dian September dan lukisan wajah di tutup botol karyanya. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Tutup botol bekas kerap menjadi barang tak ada nilainya. Namun oleh Dian September, tutup botol disulap menjadi pernak-pernik yang menarik setelah dilukis menggunakan cat.

M HARIYANTO, Radar Semarang

KREATIF: Dian September dan lukisan wajah di tutup botol karyanya. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Dian September dan lukisan wajah di tutup botol karyanya. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DIAN September tampak sibuk mengumpulkan tutup botol yang sudah dilukis. Lukisan tutup botol tersebut tinggal finishing. Masih ada penambahan warna. Jari tangannya menggenggam pensil warna. Sesekali berpindah menggunakan kuas lalu dicelupkan ke tempat cat warna yang sudah disiapkan di depannya.

“Ini dibuat semacam pin, gambarnya macam-macam. Ada kayak humanity, sket wajah, dan emoticon. Ada juga gambar tebeng, stang sama roda depan motor vespa. Jadi, sepotong-sepotong kayak art gitu,” kata Dian kepada Jawa Pos Radar Semarang.

“Kalau (gambar) tokoh nasional belum. Cuma kalau lukis wajah orang sudah sering,” imbuhnya.

Dikatakan, tingkat kesulitan membuat lukisan tutup botol itu harus detail. Karena objek medianya kecil. “Apalagi pakai cat air harus nunggu kering dulu, baru ditempeli warna lagi biar gradasinya dapat,” katanya.

Pria kelahiran Semarang, 16 September 1991 ini mengaku menjadi pelukis tutup botol sejak 2016. Ide itu muncul ketika melihat tutup botol berserakan di warung.

“Awalnya hanya iseng. Saya melihat tutup botol kok gambarnya hanya kemasan logo saja. Terus kepikiran sesuatu hal supaya gambarnya bisa lebih nyentrik sekaligus bisa mengolah limbah,” jelasnya.

Hingga akhirnya, pandangannya terbesit untuk dibuat lukisan gambar sesuai dengan keinginannya. Sedangkan untuk tutup botol yang masih ada gambarnya, harus dihilangkan dulu dengan menggunakan amplas.

“Jadi, awal melukisnya itu dari karakter dulu, face-face emoticon. Habis itu lari ke humanity, kayak sket pakai cat langsung,” terangnya.

Tidak sulit untuk mendapatkan tutup botol. Ia biasa mencari di warung dan toko kelontong tetangganya. “Kalau peralatan cat kuas pensil ya standar orang melukis. Kalau tutup botol kadang dikasih tetangga. Ada juga yang beli,” jelasnya.

Pria yang tinggal di Jalan Sri Rejeki Utara VII No 2 Semarang Barat mengaku tidak mengalami kesulitan ketika melukis di tutup botol. Menurutnya, melukis sudah menjadi hobinya sejak kecil. Termasuk ketika kuliah di Jurusan Arsitek Universitas Pandanaran Semarang.

“Pembuatan sket wajah satu warna paling hanya 30 menit. Itu sudah beberapa warna, finishing diclear sudah bagus. Ibaratnya sudah sempurna,” ujarnya.

Lukisan tutup botol tersebut lalu dijual melalui media sosial. Pemesannya sampai luar Jawa Tengah, seperti Bandung dan Jakarta.
“Kemarin ada yang pesan emoticon, sket wajah, ada 24 biji di frame. Terus ada keluarga dengan empat orang yang pesan sket wajah. Promosinya gethok tular dan lewat medsos,” jelasnya.

Anggota Komunitas Paseban atau Para Seniman Banyumanik ini sebelumnya pernah membuat suvenir play lilin sama tepung. Bahkan, saat itu, ia punya dua karyawan.

“Sekarang saya aktif di Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Semarang,” kata Dian yang mengaku sempat ditawari pameran produk dari limbah. Namun karena sedang pandemi Covid-19, rencana pameran itu ditunda. (*/aro)