Pernah Tak Laku, Tetap Bertahan, Kini Punya Empat Cabang

Arif Fauzan Tak Takut Bersaing dengan Banyak Penjual, Nekat Bisnis Martabak

414
SABAR BUAHKAN HASIL : Muhammad Arif Fauzan tetap sabar dan bertahan ketika usahanya tak laku. Justru kini berkembang dengan empat cabang. (MIFTAHUL A’LA/Jawa Pos Radar Semarang)
SABAR BUAHKAN HASIL : Muhammad Arif Fauzan tetap sabar dan bertahan ketika usahanya tak laku. Justru kini berkembang dengan empat cabang. (MIFTAHUL A’LA/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Muhammad Arif Fauzan, 26, merupakan salah satu pemuda yang sukses bisnis kuliner. Baru 19 bulan buka, kini sudah membuka empat cabang di Kota Semarang dan digandrungi anak muda.

MIFTAHUL A’LA, Radar Semarang

BEGITU lulus dari dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang, Muhammad Arif Fauzan sempat bingung mau melakukan apa. Bersyukur, keluarganya di Tegal adalah pecinta martabak. Bahkan keluarganya juga sudah memiliki resep khusus. Itu menginspirasinya untuk membuka usaha kuliner. Ia lantas membuka usaha dengan nama Nona Martabak. “Nona itu awalnya muncul karena ingin benar-benar usaha yang saya bisa Nolong Nasib,” ujar pria asal Lebaksiu Tegal.

Kendati begitu, Ojan-begitu sapaan akrabnya- hanya bermodalkan gerobak bekas jualan gorengan. Sejak Februari 2019, ia memulai usahanya. “Pakai gerobak bekas, tetapi saya make over sedikit agar lebih bagus dan lebih menarik,” ungkap pria murah senyum ini.

Begitu banyak penjual martabak di pinggir jalan, tak membuatnya patah arang. Ia berusaha melakukan inovasi agar martabak agar bisa laris. Bisa dibilang trial and error, ia mencoba menu-menu martabak dengan varian baru. Mulai dari martabak buah yang semua bahan hingga topingnya full buah, martabak mozarella serta black martabak mozzarella. Sayangnya, untuk martabak buah tidak dilanjutkan, mengingat sangat sedikit peminat.

Ia meyakini bisnis ya harus terus inovasi, agar bisa mengetahui selera pasar. Seiring berjalannya waktu, kini mulai banyak yang suka dengan varian baru. “Untuk black martabak mozarella ada sambal khusus dengan rasa asam manis dan sedikit kejunya,” ungkap mantan presiden BEM FEBI UIN Walisongo Semarang ini.

Kendati begitu, pernah bisnisnya benar-benar dalam kondisi tidak stabil. Sangat sepi. Dalam satu hari, pernah tidak laku sama sekali. Bahkan, ia sempat berpikir untuk banting setir mengganti usaha lain selain martabak. Tapi ia sadar untuk membuka usaha baru harus keluar modal lagi yang jumlahnya tidak sedikit. “Akhirnya saya berusaha tetap bertahan dan mulai mencari cara untuk mengenalkan produk secara luas,” ujarnya.

Kegigihan dan kerja keras yang dilakukan akhirnya membuahkan hasil. Tidak lebih dari 19 bulan, usahanya yang diberi label ‘Nona Martabak’, sudah membuka empat cabang. Yaitu di Jalan Fatmawati Tembalang, Pasar Banyumanik, Pasar Mangkang, dan Jalan Prof Dr Hamka Ngaliyan. Di empat cabang sudah mempunyai 11 karyawan. Bahkan penjualan terus merangkak naik dan semakin digemari oleh kalangan milenial di Kota Semarang. “Ya meski belum besar, Alhamdulillah bisa memberikan manfaat dan membantu orang lain,” tambahnya.

Diakuinya, martabak memang banyak dijual di pinggir jalan utama. Namun ia ingin mengangkat kuliner tersebut agar lebih kekinian, modern dan tentunya dengan banyak varian rasa. Makanya ia selalu berinovasi dengan menu baru dan dengan kualitas yang bagus. Baginya kualitas nomor satu agar pelanggan tidak kecewa dan terus datang untuk membelinya. “Tempat jualan harus bersih dan berkualitas. Harga tetap harga kaki lima, tapi kualitas kami buat lebih baik,” tambahnya.

Tidak hanya untuk varian martabak, Ojan juga mempunyai misi sosial untuk anak-anak muda di Kota Semarang. Setiap bulan, ia membuat kemasan baru dengan gambar-gambar karya seni atau mengampanyekan persatuan. Misalnya di bulan Agustus, ia mendesain kardus Nona Martabak dengan gambar persatuan, merdeka, melawan korona dan sebagainya. “Misi saya sederhana ingin menyampaikan dan mengajak anak-anak muda terus menjaga persatuan, kebersamaan dan bersama membangun bangsa,” tegasnya. (*/ida)