Seminggu Sekali Gelar Njo Thethek Njo dan Nyawer Kasunyatan

Melongok Kreativitas Seniman Magelang Raya di Tengah Pandemi Covid-19

319
KREATIF: Tiga pegiat seni Magelang Raya, Muhammad Nafi, Deedan Sastro Wardayun dan Freddy Sudiono yang menggagas pergelaran seni secara online. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Tiga pegiat seni Magelang Raya, Muhammad Nafi, Deedan Sastro Wardayun dan Freddy Sudiono yang menggagas pergelaran seni secara online. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 tak memasung kreativitas. Hal ini ditunjukkan oleh para seniman Magelang Raya. Tanpa bantuan pemerintah, mereka menggelar pergelaran seni via daring.

AGUS HADIANTO, Magelang, Radar Semarang

LIVE Streaming di Youtube menjadi solusi bagi seniman dalam berkarya. Adalah Muhammad Nafi, Deedan Sastro Wardayun dan Freddy Sudiono. Ketiga pegiat seni Magelang Raya ini menggagas digelarnya pergelaran seni secara online yang elegan.

Dari ketiganya pula, lahir konsep baru pergelaran seni, yakni Njo Thethek Njo dan Nyawer Kasunyatan. Dua pergelaran seni ini dihelat untuk mewadahi seniman-seniman yang terdampak Covid-19.

Konsep awal yang digunakan dalam pertunjukan secara online adalah siasat yang terbaik untuk para seniman dalam menyalurkan kemampuannya. Selain itu, memang sudah ada basic dari para pencetus acara ini yang sudah terjun lama di dunia seni dan entertainer.

“Konsep awal dari Njo Thethek Njo sih hanya ingin ngamen saja, tapi untuk meminimalkan persebaran virus jadi dilakukan dengan online, dan dilakukan secara elegan,” kata Pegiat Komunitas Pinggir Kali Muhammad Nafi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Muhammad Nafi mengakui, dampak Covid-19 bagi seniman yang sangat signifikan adalah tidak adanya ruang bagi seniman untuk menyalurkan karya-karya mereka. Kegiatan yang bersifat publik harus terhenti, karena suasana yang tidak memungkinkan.

Njo Thethek Njo (NTN), jelas Nafi, merupakan salah satu produk acara berupa ngobrol budaya. Tak jauh beda dengan talkshow pada umumnya. Hanya saja, dilakukan secara online. Dengan nama yang begitu khas, Njo Tethek Njo mampu memberikan ruang diskusi bagi warga. Diselingi juga dengan iringan musik hingga mendatangkan dalang beserta wayangnya.

“Acara ini selenggarakan kali pertama 20 Mei 2020 lalu bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Tayang setiap Rabu pukul 20.00 sampai 22.00,” jelasnya.

Nafi mengatakan, memasuki minggu ke-15, dirinya tidak berangan-angan berlanjut tenar layaknya Youtuber. Bagi Nafi, ruang ekspresi adalah utama. “Masalah rezeki, nanti mengikuti,” ujarnya sambil tersenyum.

Nafi menyebut, bintang tamu yang pernah diundang dalam acara Njo Thethek Njo adalah pejabat-pejabat Kota Magelang seperti Wakil Wali Kota, Kepala Bappeda, Untidar serta bintang tamu lainnya, seperti dalang, sanggar tari, dan lain sebagainya. Saat ditanya tentang respon dari penonton terkait acara Njo Thethek Njo, kata Nafi, beragam.
“Terkadang penonton bisa sampai menyentuh angka ratusan, namun juga bisa juga hanya puluhan saja, tergantung konten menarik yang diangkat dalam tema pada hari itu,” imbuhnya.

Lain lagi cerita pencetus Nyawer Kasunyatan, Deedan Sastro Wardayun.

Edi Dayun –panggilan akrab Deedan Sasttro Wardayun—mengaku, Nyawer Kasunyatan merupakan acara dari aksi seni para pegiat seni yang terdampak korona.

Menurut Edi Dayun, yang harus dipahami bahwa di balik seni musik dan panggung, ada pekerja lain yang terdampak seperti tukang kendang, tukang sound, penyanyi, serta lainnya.

Ia menegaskan, even ini untuk mewadahi bagi orang-orang yang terdampak pandemi Covid-19. Khususnya bagi musisi, biduan dangdut sampai dengan band pun turut diajak bergabung.

“Untuk kali pertama acara ini diselenggarakan pada 20 Juni 2020 lalu. Tak terasa sudah ketujuh kalinya,” ucapnya dengan senyum getir.

Dikatakan, untuk sasaran penonton dari acara ini adalah kalangan dewasa. Jam tayang Nyawer Kasunyatan pada pukul 19.30 sampai 21.30 setiap Sabtu. “Setiap tayang ada bintang tamu yang menyesuaikan tema,” katanya.

Edi Dayun menyebut, selain memberikan penghasilan finansial bagi penyanyi, Nyawer Kasunyatan juga mampu mempromosikan tempat yang digunakan. Dengan, kata lain, kata Dayun, semua pihak diuntungkan dengan konsep seni semacam Nyawer Kasunyatan tersebut.

“Konsep awal dari Nyawer Kasunyatan sendiri itu berawal dari keinginan untuk mengobati rasa kangen saat manggung dan juga selingan ketika main tetapi juga dibayar. Jadi, pada saat pementasan juga ada sesi saweran. Saweran juga bisa melalui offline maupun online,” paparnya.

Dia menuturkan, dalam penentuan bintang tamu, pihaknya tidak mencari bintang tamu. Melainkan para bintang tamu yang ingin menawarkan diri untuk pentas. Untuk tempat acara biasa diadakan di kafe yang sudah memasuki tahap New Normal. Tentunya tetap mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah.

Lain lagi pegiat multimedia yang juga seniman Freddy Sudiono, pemilik Arvi Multimedia. Ia mengaku hanya merupakan penggerak serta fasilitator dari acara Njo Thethek Njo dan Nyawer Kasunyatan. Freddy hanya ingin acara semacam ini bisa terus berkembang.

“Saya ingin menjembatani seni yang berbeda ini untuk terus berkembang. Alasannya, karena di acara ini juga bisa menjadi pemikir dan tentunya agar dapat terhibur,” katanya.

Diakui, kedua acara tersebut berjalan dengan apa adanya, tidak melihat seberapa baik kualitasnya melainkan seberapa besar kebermanfaatannya.

Untuk kendala utama dari pergelaran seni Njo Thethek Njo dan Nyawer Kasunyatan ini lebih ke teknis berupa sinyal internet lemah. “Terkadang di tempat-tempat tertentu pada saat live streaming, sinyal tidak mendukung, sehingga terjadi gangguan,” ujarnya. (dilengkapi yasinta zhavira/dyah ekasari/aro)