Pakai APD Terasa Panas, Prosesnya Harus Cepat

Kisah Relawan Pemulasaran Jenazah Pasien Covid-19 di Kendal

371
PANGGILAN JIWA: Dwi Syaeful Mujab dan Irham Dhanu Nurmanto bersama relawan pemulasaran dan pemakaman jenazah pasien Covid-19. (DOKUMEN PRIBADI)
PANGGILAN JIWA: Dwi Syaeful Mujab dan Irham Dhanu Nurmanto bersama relawan pemulasaran dan pemakaman jenazah pasien Covid-19. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Tidak hanya fisik sehat, tapi stamina juga harus prima untuk bisa menjadi relawan Covid-19. Khusus dalam pemulasaran dan pemakaman jenazah infeksius ini juga butuh tim ahli yang tidak sembarang orang.

BUDI SETIYAWAN, Kendal, Radar Semarang

Dwi Syaeful Mujab dan Irham Dhanu Nurmanto, keduanya merupakan relawan yang bertugas mengurusi jenazah infeksius Covid-19. Mulai dari pemulasaran sampai memakamkan jenazah dengan SOP Covid-19.

Dwi Syaiful Mujib misalnya. Ia mengaku menjadi relawan adalah panggilan jiwa. Untuk kemaslahatan umat dengan membantu keluarga yang terkena musibah Covid-19. Terutama menimimalkan agar tidak menular kepada orang lain.

“Ya, panggilan jiwa, karena kebetulan saya pembina Palang Merah Remaja (PMR). Sehingga sudah terbiasa kalau ada musibah tergerak untuk bisa membantu dengan apa yang saya bisa. Karena saya merasa empati dan muncul rasa kemanusiaan,” kata pria yang akrab disapa Ipung ini.

Pria yang berprofesi sebagai guru bahasa Jawa SMA Negeri 2 Kendal ini mengaku, jika tidak karena panggilan jiwa, pasti tidak akan kuat. Sebab, butuh fisik sehat dan stamina prima. Selain mental yang juga kuat.

Ia mengakui, menjadi relawan Covid-19 itu tugas berat. Pertama, harus siap setiap saat jika dibutuhkan. “Jadi, kapanpun ada orang meninggal karena infeksius, kami harus siap untuk terjun,” ujarnya.

Satu tim dari pemulasaran sampai proses pemakaman biasanya hanya terdiri atas enam orang. Mulai proses pemulasaran, dari memandikan, mengafani, menyalatkan, memasukkan ke dalam peti hingga menggotong dan memasukkan jenazah ke liang kubur.

Semua itu tidak mungkin bisa dilalui kalau tidak karena panggilan jiwa ingin menolong. “Terlebih prosesnya harus cepat, sehingga tidak hanya sehat, tapi stamina harus prima,” tuturnya.

Diakui, yang membuat berat adalah pakaian alat pelindung diri (APD) rangkap dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kita gerak saja susah, belum lagi panas dan berkeringat saat memakai APD. Sudah seperti itu kita dituntut cepat,” katanya.

Belum lagi pengangkatan jenazah yang sudah dimasukkan ke dalam peti. Karena kalau jenazah dimakamkan secara Islam, harus kena tanah. Jadi, di dalam peti sudah dikasih tanah 2-3 ember.

“Petinya saja berat, ditambah lagi ada tambahan tanah. Jadi, sangat berat sekali. Masih ditambah medan dari turun ambulans menuju liang pemakaman sangat jauh. Tidak ada sama sekali yang menggantikan,” ceritanya.

Hal senada dikatakan Irham Dhanu Nurmanto. Ia mengaku rata-rata makam pasien Covid-19 dibuat jauh, letaknya paling pojok. “Kadang medannya terjal naik turun, jalan yang dilalui lebarnya hanya satu meter. Sehingga kalau tidak hati-hati bisa jatuh terperosok,” katanya.

Karena itu, ia sangat prihatin jika sampai terjadi penolakan. Para relawan pekerja kemanusiaan ini juga masih dihadapkan risiko tertular, sama seperti tenaga medis dokter dan perawat yang merawat pasien Covid-19.

Ditanya tanggapan keluarga, baik Ipung maupun Dhanu mengaku, pihak keluarga tidak ada yang keberatan keduanya menjadi relawan Covid-19. Begitupun lingkungannya. “Yang penting tetap hati-hati, selalu kenakan masker dan jaga jarak,” imbuh Dhanu.

Dhanu maupun Ipung berharap kesadaran masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, jangan mengucilkan mereka yang keluarganya terkena musibah Covid-19. “Kalau bisa membantu sebisanya, karena Covid-19 bukan penyakit aib,” tutur Ipung. (*/aro)





Tinggalkan Balasan