Pentas Gunakan Media Alat Dapur, Dikenalkan sampai Korea

Titah Banu Arum Mumpuni, Dalang Perempuan Ciptakan Wayang Sothil

277
MODIS: Titah Banu Arum Mumpuni saat menjadi dalang wayang Sothil. (DOKUMEN PRIBADI)
MODIS: Titah Banu Arum Mumpuni saat menjadi dalang wayang Sothil. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Tubuhnya mungil. Namun semangat dan antusias Titah Banu Arum Mumpuni begitu besar. Pun ketika ia mulai memainkan wayang, energinya yang tak terbendung memukau setiap orang yang menyaksikannya.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Radar Semarang

Titah Banu Arum Mumpuni adalah dalang perempuan yang mampu melestarikan budaya Jawa hingga ke negeri Korea. Kepak sayap Uni-sapaan akrabnya- dimulai ketika masa kanak-kanak. Kala itu, bersama sang ibu, ia mulai belajar berbahasa Jawa Inggil. Setelahnya, gadis kelahiran Magelang, 14 Januari 23 tahun silam ini tertantang untuk turut mempelajari dunia pewayangan. Dunia yang kemudian mengantarkannya sebagai dalang perempuan di usia muda.

“Waktu kecil, aku diikutkan ibu ke Festival Dalang Bocah di Taman Budaya Surakarta. Saat itu, membawakan lakon Sumantri Sukrosono. Dari festival itulah, aku terus mengasah kemampuan mendalang wayang kulit sampai sekarang,” ujar Uni kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (26/7).

Atas kecintaannya terhadap budaya Jawa, ia kemudian diberi kesempatan oleh kampus tempatnya belajar, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), untuk terbang dan menetap selama tiga bulan di Korea guna menyebarluaskan budaya Jawa. Di sana, Uni mengajarkan anak-anak elementary school untuk mengenal bahasa, lagu, serta permainan asal Jawa.

Tak cukup sampai di situ, darah Jawa yang kental mengalir di diri Uni turut memantiknya untuk menciptakan wayang Sothil. Wayang Sothil sendiri adalah wayang yang melibatkan perempuan serta menggunakan media berupa alat dapur untuk pementasannya.

Dikatakan oleh Uni, kreasi tersebut sengaja ia ciptakan untuk mengangkat isu-isu yang sedang menjadi pembicaraan publik. Mengingat saat ini tak banyak cerita wayang yang mengisahkan isu-isu up to date.

Seperti halnya saat Pemilu 2019 lalu. Dalam pementasannya, wayang Sothil membawakan cerita tentang pemerintahan serta hal-hal yang perlu diteladani dari seorang pemimpin.

“Sebenarnya yang paling penting adalah membuat ide yang unik dan baru untuk menjunjung tinggi nama Indonesia di mata dunia. Makanya, aku kepikiran untuk buat wayang Sothil ini,” jelasnya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan