alexametrics

Berukuran 4×3 Meter Persegi, Dihuni Lima Orang

Pasutri Chorib-Qoyimah, Tiga Tahun Tinggal di Bekas Kandang Sapi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pasangan suami-istri Chorib-Qoyimah hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Tinggal di bekas kandang sapi. Kondisi demikian tak lantas membuat mereka menjual iba dengan menjadi pengemis.

NANANG RENDI AHMAD, Pekalongan, Radar Semarang

Chorib sedang membabat rumput saat Jawa Pos Radar Semarang menemuinya. Sedangkan Qoyimah, istrinya, sedang merebus air di dapur. Pasangan suami istri ini tinggal di bekas kandang sapi milik kerabat. Bekas kandang sapi yang mereka jadikan tempat tinggal itu berukuran 4 x 3 meter persegi. Berlokasi di Desa Lumeneng, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan.

Lantainya tentu saja tanah, sudah mengeras. Bekas kandang sapi itu mereka sekat menjadi tiga bagian, yakni kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Kamar mandi mereka letakkan di depan, dengan penutup dari sarung bekas. Mirip seperti WC umum yang ada di sungai. Aliran listrik mereka dapatkan dari tetangga.

Baca juga:  Perempuan Berperan Tekan Kemiskinan

“Sudah tiga tahun kami tinggal di sini. Kami sadar, kami miskin. Tetapi kami tak mau mengemis. Biar kami hidup dengan keringat sendiri, tanpa harus meminta-minta orang,” kata Qoyimah sambil menyalakan tungku.

Qoyimah asal Wonosobo. Sedangkan Chorib asli Paninggaran. Mereka menikah dengan masing-masing sebelumnya berstatus janda dan duda. Pernikahan mereka tidak dikarunia anak. Tetapi, dari pernikahan mereka sebelumnya, Qoyimah punya tiga anak, sedangkan Chorib satu anak.

“Sebelumnya kami tinggal di Wonosobo. Di tempat orang tua saya. Tetapi karena di sana juga sudah penuh keluarga besar, dan kami tak ingin merepotkan mereka, jadi kami memutuskan untuk tinggal di bekas kandang sapi. Ini sudah menjadi kesepakatan kami,” ungkap Qoyimah.

Anak-anak Qoyimah lebih sering tinggal bersama mantan suaminya. Anak Chorib juga demikian. Tetapi, beberapa bulan ini anak-anak Qoyimah datang menemuinya.

Baca juga:  Sempat Dicurangi, Berhasil Kalahkan 600 Peserta lain

“Anak saya main ke sini. Jadi, beberapa bulan ini kami tidur berlima di bekas kandang sapi ini. Usia mereka 17 tahun, 18 tahun, dan 20 tahun. Semuanya tidak sekolah,” tuturnya.

Chorib tak punya pekerjaan tetap. Sehari-hari, selain membabat rumput untuk pakan ternak tetangga, Chorib juga mencari batu di hutan. Batu itu dijual ke toko bangunan.

“Lebih baik begini, daripada harus meminta-minta. Kalau ada yang memberi saya terima. Tetapi, terus terang, kami tidak mau mengemis. Sekalipun kami lapar,” sambung Chorib.

Tak makan tiga hari pernah Qoyimah alami saat Chorib merantau ke Jakarta. Ia hanya minum air. Keadaan itu tak membuat Qoyimah lantas meminta-minta orang lain. Baginya, itu adalah wujud keteguhan memegang kehormatan.

Baca juga:  Kapten Timnas Boking Tukang Bakso dan Gerobaknya

Selama tiga tahun tinggal di bekas kandang sapi itu, baru belakangan ini mereka mendapat bantuan dari pemerintah. Sebab, mereka belum mengantongi KTP setempat. Baru setelah pemerintah desa setempat mengusahakan itu, bantuan terus mengalir ke mereka.

Koran ini menemui Kepala Desa Lumeneng Urip Widodo. Ia mengatakan, warga setempat sering memberi bantuan kepada pasangan Chorib-Qoyimah. Sedangkan bantuan resmi dari pemerintah baru bisa tersalurkan setelah pihaknya mengupayakan pengurusan KTP keduanya.

“Pak Chorib dan Bu Qoyimah sebelumnya tidak menetap di sini. Jadi secara kependudukan belum jelas. Karena sudah aturan, jadi kami sulit menyalurkan bantuan dari pemerintah. Akhirnya, kami uruskan pembuatan KTP mereka. Ke depan kami akan mengusulkan untuk membedah rumah mereka supaya lebih layak,” kata Urip. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya