Dijual sampai Eropa, Tak hanya Dikoleksi tapi Bisa Dinaiki

Daronjin, Perajin Sepeda Roda Besar Asal Bangetayu, Semarang

331
SEPEDA UNIK: Daronjin saat menyelesaikan sepeda roda besar pesanan warga Jakarta. (NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEPEDA UNIK: Daronjin saat menyelesaikan sepeda roda besar pesanan warga Jakarta. (NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Daronjin adalah salah satu pembuat sepeda Penny Fathing atau sepeda roda besar. Sepeda langka ini tidak hanya dijual di Indonesia, tapi sampai Eropa.

NUR WAHIDI, Radar Semarang

DARONJIN tinggal di Perumahan Sedayu Cluster No 11 Kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk. Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, ia tengah menyelesaikan pesanan sepeda roda besar dari konsumennya asal Jakarta.

Daronjin mengaku, sebelum menekuni pembuatan sepeda roda besar, ia hobi bersepeda. Pada 2013, ia berusaha belajar membuat sepeda roda besar. Ia belajar dari teman dan membaca buku tentang Penny Farthing. “Sejak saat itu, saya belajar bagaimana membuat sepeda roda besar yang kali pertama diproduksi 1880 itu,” katanya.

Untuk membuat sepeda antik ini, Daronjin menyesuaikan dengan permintaan pemesan, termasuk ukurannya. Sepeda buatan Daronjin ini mulai ukuran 40 inchi dengan tinggi roda 102 sentimeter, kemudian ukuran 44 inchi dengan tinggi roda 112 sentimeter dan ukuran 48 inchi dengan tinggi roda 122 sentimeter. Ada pula ukuran 62 inchi, dengan tinggi roda 160 sentimeter. “Tapi, rata-rata konsumen memesan dengan ukuran 40 inchi sampai 48 inchi,” ujarnya.

Harga yang dibandrol mulai Rp 10 juta hingga Rp 40 juta tergantung kualitasnya. Yang membedakan dengan made in luar negeri adalah sepeda tersebut dibuat seperti barang lama, tetapi sebenarnya dibuat baru. “Untuk ragangan sepeda dibiarkan tanpa dicat, sehingga warnanya terlihat kusam dan mbladus. Padahal sepeda itu pembuatannya baru, tetapi tanpa dicat, sehingga terlihat koleksi lama. Sedangkan sepeda baru Penny Fathing itu dicat dengan warna yang mencolok,” jelasnya

Dikatakan, roda belakang dan depan sepeda ini tanpa menggunakan ban angin. Sehingga roda tersebut tidak perlu dipompa. Sedangkan remnya hanya depan saja, yang dilapisi dengan kulit. Sehingga ketika ditarik remnya, roda akan melambat, dan berhenti.
“Untuk belakang tidak dikasih rem. Meski hanya satu rem, tetapi itu sudah bisa memperlambat laju rodanya,” paparnya.

Setiap membuat sepeda ban besar, Daronjin juga mempraktikkan bagaimana menaiki sepeda antik tersebut. Berbeda dengan sepeda pada umumnya. Untuk menaiki sepeda antik ini, harus terlebih dahulu didorong. Kemudian kaki satunya naik, baru penggunanya naik sadel, selanjutnya sepeda digenjot pedalnya.

“Kalau belum biasa ya sulit. Tapi, kalau sudah latihan, biasanya mudah. Pokoknya, harus didorong dulu, sebelum menaiki karena tinggi,” katanya.

Pemesan sepeda antik ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jogja, Medan, Gorontalo, Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Sedangkan dari luar negeri, sepeda produksi Daronjin pernah dikirim hingga ke Eropa. “Sepeda roda besar ini tidak hanya sebagai koleksi saja, tetapi juga bisa dinaiki, sehingga ada kebanggaan tersendiri,” ujar Daronjin. (*/aro)





Tinggalkan Balasan