Jalan Kaki dari Unnes ke Jatidiri untuk Ikut Seleksi

Lebih Dekat dengan Asisten Pelatih Tim Sepakbola PON Jateng Muhammad Irfan

496
Muhammad Irfan ketika masih menjadi pemain PSIS Semarang. (Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)
Muhammad Irfan ketika masih menjadi pemain PSIS Semarang. (Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Kesuksesan pemain sepakbola bukan diukur dari kejayaannya saat di tengah lapangan. Namun justru ketika pensiun di mana mereka dapat tetap berkarya dan bermanfat untuk sesama. M.Irfan membutuhkan perjuangan keras untuk mewujudkan itu semua.

Setiap anak pasti memiliki mimpi. Dari sana ia memiliki asa untuk merancang masa depan lebih baik. Hal tersebut juga dilakukan oleh Muhammad Irfan.
Lahir dari keluarga sederhana di Kabupaten Tegal, Irfan kecil bermimpi menjadi pemain sepakbola sukses. Dengan maksud suatu saat dapat membawa taraf hidup keluarganya menjadi lebih sejahtera.

Akan tetapi perjalanan manusia tidak lah selalu mudah. Irfan harus melalui jalan berliku untuk dapat mencapai impiannya. Menggeluti sepakbola sejak kecil, perjalanan karir Irfan sempat mengalami pertentangan dari sang ibu. Namun ia berhasil meyakinkan dengan terus meraih prestasi. Salah satunya yakni menjadi satu-satunya pemain Tegal yang lolos seleksi klub Indocement di Bogor tahun 1998. Ia menjadi salah satu dari 14 pemain yang terpilih dari 148 peserta yang ikut. Tentu saja menjadi sebuah kebanggaan. Apalagi saat itu ia bersaing dengan para calon pemain hebat seperti Allyudin, Purwanto, Edi Sutrisno dan masih banyak lainnya.

“Saat ikut seleksi itu berat juga. Saya yang dari keluarga tidak mampu sempat kehabisan uang saku seminggu sebelum seleksi selesai. Tapi Alhamdulillahnya ada orang baik yang menolong saya dan berbagi makanan dengan saya,” kenangnya.

Selesai dua tahun menimba ilmu di Bogor, ia pun kembali ke Tegal. Namun ia belum berhasil mengangkat perekonomian keluarga. Ia pun berniat untuk mencoba peruntungan di Semarang. Berbekal nekat dan tekad, pada 2000 ia pun merantau ke Semarang dengan harapan dapat mengikuti seleksi PSIS Semarang. Namun dalam realisasinya tidak semudah yang ia bayangkan. Di Semarang ia sempat terkatung-katung dan menumpang kos di Gunungpati.

Hingga suatu hari teman lamanya mengetahui ia berada di Semarang dan mengajaknya untuk mengikuti pertandingan tarkam yang saat itu melawan PS Unnes. Saat pertandingan tersebut, ia yang membela tim Gunungpati berhasil mengalahkan PS Unnes 2-0 dengan salah satu golnya berasal dari kakinya. Hal tersebut mendapat perhatian dari pelatih PS Unnes. Sang pelatih berniat merekrutnya untuk masuk ke dalam tim miliknya. Namun hal tersebut sulit terealisasi. Mengingat ia tidak memiliki uang untuk kuliah. Padahal untuk membela PS Unnes ia haruslah menjadi mahasiswa di sana.”Saat itu saya tidak pernah berpikir untuk kuliah. Bagaimana kuliah uang saja saya tidak punya,” lanjutnya.

Namun sang pelatih yang juga dosen tersebut tidak ingin melewatkan bakat Irfan. Ia pun disuruh untuk mengikuti seleksi masuk Unnes jalur prestasi. Dan berjanji akan membantunya memikirkan biaya pendidikan. Irfan pun mengikuti tertulis dan tes fisik. Dalam tes fisik ia berhasil meraih hasil impresif. Dengan memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat dari lainnya. Hal itu lah yang akhirnya membuatnya lolos dan dapat menempuh pendidikan di Unnes dengan mengambil program studi Sarjana Kepelatihan.”Setelah diterima ya secara resmi saya bisa membela PS Unnes untuk berbagai kompetisi. Dan dari sinilah akhirnya juga mengantar saya bisa masuk PSIS,” lanjutnya.

Pada tahun 2002, PSIS mengadakan seleksi. Syarat untuk dapat mengikuti hanyalah pemain dari tim anggota PSIS. PS Unnes menjadi salah satu anggota. Ia mengaku sangat bersyukur dengan masuk Unnes akhirnya membuka jalannya dapat mengikuti seleksi PSIS. Dalam prosesnya, ia mengaku harus berjalan kaki dari Unnes ke Jatidiri untuk mengikuti seleksi. Pasalnya ia tidak memiliki uang. Ia hanya bisa lari untuk mencapai lokasi tersebut. Namun kendala tersebut tidak ia pikirkan. Baginya yang terpenting ia dapat mengikuti seleksi dan bisa terpilih jadi pemain PSIS.

Usaha memang tidak mengkhianati hasil. Dari 87 peserta yang ikut, ia bersama empat orang lainnya berhasil terpilih masuk dalam skuad PSIS Semarang. “Dan nama saya diumumkan pertama oleh pelatih Daniel Lukito. Wah saat itu jangan ditanya perasaan saya. Sudah pasti senang dan bersyukur sekali,” ujarnya.

Dari sana lah karir profesional M Irfan dimulai. Mulai tahun 2002 ia resmi membela PSIS Semarang. Ia mulai memperoleh penghasilan yang dapat membantu perekonomian keluarga. Bertahan selama tiga musim, pada tahun 2005 ia pindah ke PSIM Jogjakarta. Sama halnya di PSIS setelah tiga musim ia pun pindah lagi ke Persijap Jepara pada tahun 2009. Semusim di Jepara, ia pindah ke Persibo Bojonegoro pada 2009.

Bersama Persibo, karirnya mencapai keemasan di bawah polesan pelatih Sartono Anwar. Ia berhasil meraih juara 1 kompetisi Divisi Utama dan menjadi runner up best player Divisi Utama. Puas di Bojonegoro, pada 2011 ia sempat sebulan mampir di Barito Putra sebelum akhirnya kembali di PSIS Semarang. Baru semusim di PSIS, pelatih panutannya Sartono Anwar mengajaknya kembali ke PSIM Jogjakarta. Selanjutnya ke PSS Sleman pada tahun 2013. Baru pada 2015 ia akhirnya menutup karir dan pensiun bersama Persak Kebumen.

“Di Persak inilah saya mulai latihan jadi asisten Pelatih. Karena coach Sartono ingin saya jadi pelatih. Beliau memberikan ilmunya kepada saya dan yakin suatu saat nanti saya bisa jadi pelatih sepakbola handal. Dia benar-benar bejasa dalam hidup saya,” lanjutnya.
Baru saja merintis karir menjadi pelatih sepak bola, badai menghantam persepakbolaan Indonesia. FIFA membekukan PSSI akibat adanya kisruh dualisme kepengurusan. Yang akibatnya selama jangka waktu 2015-2017 praktis tidak ada kegiatan sepakbola yang dilakukan.

Irfan pun menjadi tidak ada kegiatan dan memutuskan kembali ke Tegal. Ia menjalani kehidupan seperti biasa menjadi bapak rumah tangga. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa tidak bisa terus menerus tanpa pekerjaan seperti ini. Dan kembali lagi kesempatan menghampirinya. Salah satu dosennya dulu menghubungi dan memintanya untuk meneruskan kembali kuliah S2. Ya meskipun sibuk dengan karir sepakbola, Irfan memang lulus sarjana. Walaupun harus ditempuh selama delapan tahun. Dengan panggilan tersebut ia pun memantapkan tekad untuk kembali ke bangku kuliah.

Muhammad Irfan ketika telah menjadi pelatih. (Dokumen Pribadi)
Muhammad Irfan ketika telah menjadi pelatih. (Dokumen Pribadi)

“Waktu itu istri saya mendukung sekali. Karena meskipun tabungan saya cukup tapi istri merasa anak-anak pasti akan mempertanyakan kenapa ayahnya di rumah terus tidak kerja. Itulah yang akhirnya membuat tekad saya bulat untuk kuliah lagi,” katanya.

Selama kuliah, Irfan mendapat kesempatan untuk menjadi Pelatih Kepala PS Unnes. Ia mulai membenahi sistem kepengurusan, pembinaan, permainan teknik dan masih banyak lainnya. Berkat jasanya tersebut PS Unnes menjadi semakin hebat dan berhasil masuk ke Liga Mahasiswa Nasional. Jasanya tersebut pun mendapat perhatian. Setelah lulus dengan IPK 3,97 dan meraih Magister Pendidikan Olahraga pada tahun 2017, ia pun ditawari menjadi dosen. Hingga saat ini masih menjalani karir sebagai dosen Sepakbola di Universitas Negeri Semarang

“Tidak menyangka saya sekarang jadi dosen. Dari sini juga lah saya juga mendapat kesempatan untuk menjadi Asisten Pelatih Eko Riyadi untuk Tim PON Jateng. Banyak hal yang harus saya syukuri dalam hidup saya,” lanjutnya.

Dengan segala pencapaiannya tersebut, dirinya mengaku semakin bersyukur dan rendah hati. Karena ia mengerti bagaimana susahnya perjuangan. Sehingga ia lebih berempati dan menghargai sesuatu. Hal inilah yang coba ditanamkan pada anak asuhnya. Menurutnya skill bukanlah segalanya. Namun kerja keras dan akhlak yang baiklah yang akhirnya membuat seseorang lebih dihargai.

“Dan yang pasti kesuksesan sebagai pemain sepakbola bukanlah saat berada di lapangan. Justru saat sudah pensiun namun masih bisa berkarya itulah yang dinamakan sukses,” jelasnya. (akm/ton)





Tinggalkan Balasan