Punya BMT, Usaha Air Minum Isi Ulang hingga Persewaan Gedung

Masjid An-Nur Puspogiwang Semarang Barat, Masjid Teladan Nasional

316
JUARA NASIONAL: Masjid An-Nur Puspogiwang, Semarang Barat. (kanan) Takmir Masjid An Nur Revol Rachmad saat menerima hadiah uang Rp 15 juta. (ISTIMEWA)
JUARA NASIONAL: Masjid An-Nur Puspogiwang, Semarang Barat. (kanan) Takmir Masjid An Nur Revol Rachmad saat menerima hadiah uang Rp 15 juta. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Masjid An-Nur di Jalan Puspogiwang II No 9 Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat ini bisa menjadi contoh model pengelolaan tempat ibadah yang baik. Masjid ini baru saja meraih juara I lomba Masjidku Hasanahku tingkat nasional


NUR WAHIDI, Radar Semarang

LETAK masjid ini di tengah permukiman padat. Tepat di sudut jalan. Lingkungannya asri. Dengan pepohonan hijau nan rimbun. Nyaman. Itu kesan pertama jika masuk masjid ini. Masjid An-Nur baru saja dinobatkan sebagai masjid teladan tingkat nasional.

Takmir Masjid An Nur Revol Rachmad mengatakan, masjid yang dikelolanya memiliki banyak kegiatan. Baik kegiatan keagamaan, pendidikan, maupun aktivitas perekonomian para jamaahnya. Di masjid terdapat TPQ Akhlak Mulia dengan jumlah santri 49 anak dengan enam pengajar dan satu pembina. Selain itu, juga terdapat les mapel matematika, IPA dan Bahasa Inggris bagi siswa sekolah. “Ada juga kegiatan majelis taklim warga Gisikdrono,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Yang istimewa, masjid ini memiliki sejumlah Badan Usaha Milik Masjid (BUMM). Di antaranya, Baitul Mall Wa Attawil (BMT) atau koperasi. Anggotanya mencapai ratusan orang. Mereka bisa meminjam uang untuk keperluan membayar sekolah maupun modal usaha. “Anggota BMT bisa meminjam uang baik untuk biaya sekolah maupun modal usaha. Banyak PKL di wilayah Kelurahan Gisikdrono yang memanfaatkan BMT ini,” ujarnya.

BUMM lainnya yang dimiliki masjid ini adalah usaha air minum isi ulang dan penjualan beras. Hasil dari unit bisnis ini dipakai untuk membiayai perawatan masjid dan gaji para pekerja. “Jika ada kerusakan masjid, biayanya bisa ditopang dari pendapatan unit bisnis ini,”katanya.

Tidak hanya itu, masjid yang didominasi cat hijau juga memiliki aula yang bisa disewa untuk hajatan pernikahan, khitanan maupun kegiatan lain. Hanya saja, waktunya tidak boleh mengganggu waktu salat lima waktu. Yang menarik, di masjid juga terdapat budidaya ikan lele yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat setempat. “Masyarakat setempat kalau pakai hanya memberikan uang secara ikhlas,” katanya.

Karena keunggulan itu, takmir masjid setempat memberanikan diri mengikuti lomba masjid teladan yang diselenggarakan BNI Syariah. Lomba ini diikuti masjid-masjid di Indonesia. “Kami kirim data masjid melalui online ke Bank BNI Syariah di Jakarta dengan menyertakan foto-foto kegiatan dan badan usaha milik masjid,” katanya.

Revol mengaku, saat mengikuti lomba itu, dirinya merasa optimistis bisa juara, karena menilai pengelolaan masjid itu sudah baik. Benar saja, beberapa hari kemudian, pihak bank memberikan kabar kalau Masjid An-Nur masuk nominasi, sehingga membuat semangat para takmir.

“Awalnya tidak menyangka tetapi ketika ada kabar dari pihak panitia bahwa Masjid An Nur masuk dalam nominasi lomba membuat takmir menjadi semangat,” ujarnya.

Untuk seleksi berikutnya, pihak panitia melakukan wawancara kepada takmir masjid lewat daring. Ada 36 pertanyaan tentang unit usaha yang dimiliki dan bagaimana pengolahannya. Serta enam pertanyaan menyangkut perizinan masjid itu sendiri.
Puncaknya, pada 19 Juni lalu, hasil lomba diumumkan. Masjid An-Nur meraih juara I Kategori III yakni masjid di tempat publik. Juara II diraih Masjid Oman Al Makmur Banda Aceh dan juara III Masjid Shalahuddin Sidoarjo Jatim. (*/aro)





Tinggalkan Balasan