Digandeng Wawali, Ajak Warga Berkebun di Lahan Sempit

Sekolah Berkebun Ceria, Kampanyekan Urban Farming di Kota Semarang

280
PERTANIAN MODERN: Kemal Abdul Aziz, Luqman Hakim Satria, dan Wahyu Aditya Yunanto dari Sekolah Berkebun Ceria bersama Wawali Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. (NUR CHAMIM/JAW APOS RADAR SEMARANG)
PERTANIAN MODERN: Kemal Abdul Aziz, Luqman Hakim Satria, dan Wahyu Aditya Yunanto dari Sekolah Berkebun Ceria bersama Wawali Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. (NUR CHAMIM/JAW APOS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Sejumlah pemuda Kota Semarang yang tergabung dalam Sekolah Berkebun Ceria mengajak warga terjun di dunia pertanian. Usaha mereka pun diapresiasi Pemerintah Kota Semarang dan digandeng untuk memberikan pelatihan urban farming kepada masyarakat di setiap kelurahan. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Radar Semarang

Ketahanan pangan menjadi isu yang gencar dibahas saat ini. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Pemkot Semarang sendiri gencar menggalakkan pertanian perkotaan atau urban farming. Seperti pada Minggu (5/7) pagi lalu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu sengaja mengundang sejumlah pemuda yang tergabung dalam Sekolah Berkebun Ceria datang ke kediamannya di kawasan Bukit Sari, Semarang. Komunitas yang digawangi oleh Kemal Abdul Aziz, Luqman Hakim Satria, dan Wahyu Aditya Yunanto itu langsung mempraktikkan urban farming di depan wawali yang akrab disapa Mbak Ita tersebut.

Menurut Kemal Abdul Azizi, urban farming merupakan sistem pertanian yang memanfaatkan lahan sempit. Saat ini, komunitasnya gencar mengenalkan urban farming sebagai salah satu cara mewujudkan ketahanan pangan. “Kami ini basic-nya adalah lulusan Fakultas Pertanian. Kami prihatin dengan luas lahan pertanian yang semakin berkurang,” kata Kemal kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karena memiliki visi yang sama, akhirnya Kemal mengajak dua temannya untuk membuat gerakan melalui Sekolah Berkebun Ceria pada 9 September 2019 lalu. Gerakan awalnya adalah masuk ke sekolah, yakni di SD Negeri Ngaliyan 3 Semarang melalui kegiatan ekstrakurikuler Paskibra dan Pramuka, yang kemudian disisipi kegiatan pertanian. “Kita coba maksimalkan program pertanian ini, Alhamdulillah berhasil membuat sistem dari hulu ke hilir, yakni mulai dari penyemaian, pembibitan, hingga pascapanen,”jelasnya.

Ibarat simbiosis mutualisme, pemikiran ketiga pemuda ini ternyata mendapat dukungan dari guru, siswa dan orang tua siswa. Dengan fokus utama memberikan edukasi kepada siswa tentang pertanian modern di lahan sempit. Misalnya, menanam bayam, sawi, selada, dan kangkung. Sayuran ini bisa diolah menjadi lauk dalam keluarga tanpa harus membeli ke pasar.

“Di SD Ngaliyan 3 nggak ada kebun. Akhirnya kita buat petak-petak kecil. Guru, siswa, dan orang tua kita ajak belajar berkebun dan panen secara langsung hasil tanaman seperti bayam dan kangkung,” paparnya.

Singkat cerita, setelah berjalan, akhirnya hasil pertanian ataupun benih yang ada kemudian dipasarkan. Sekolah Berkebun Ceria sendiri memiliki 10 program, di antaranya adalah pelatihan berkebun, aquaponik, hingga yang sedang tren saat ini budikdamber.

“Kita juga punya produk unggulan, yakni Si Bucil atau Si Kebun Kecil, medianya di antaranya besek, media tanam dan lainnya. Program ini sendiri adalah sebuah program yang mengajarkan semua orang bisa berkebun atau bercocok tanam,” katanya.

Jika sebelumnya program urban farming hanya dilakukan di sekolah binaan, saat ini setelah digandeng Pemerintah Kota Semarang dan Dinas Pertanian Kota Semarang, sosialisasi dan pelatihan akan dilakukan semakin masif agar bisa menjangkau kalangan yang semakin luas.

“Lingkup awalnya memang sekolah, namun dengan dukungan dari Bu Wakil Wali Kota nanti akan dilakukan dengan wilayah yang lebih luas. Kalau kendala tidak ada, Alhamdulillah semua support,” paparnya.

Dengan jargon, satu siswa satu tanaman berjuta harapan, Kemal mengaku jika siswa ini bukan hanya sekolah, melainkan kalangan atau masyarakat luas, di mana sebagai relawan ia memberikan ilmu kepada masyarakat. Sehingga dengan tanaman yang ditanam bisa memberikan harapan yang baik, yakni berkebun di rumah bisa mencegah krisis pangan.

“Saat ini, biji atau benih kita kembangkan sendiri. Ada yang kita jual, ada yang dibagikan gratis. Karena program mandiri, memang ada modal awal, penjualan biji pun kita buat lebih murah agar bisa dijangkau semua kalangan. Ada juga yang kami gratiskan setiap Jumat sebagai program sosial,” jelasnya.

Kemal mengaku, ke depan akan lebih getol melakukan sosialisasi dan pelatihan, apalagi pesan dari Mbak Ita, urban farming di Kota Semarang harus dikembangkan sebaik mungkin meski tidak memiliki lahan yang luas. Dengan kemajuan teknologi, pertanian modern tetap bisa dilakukan walaupun di lahan sempit. “Karena sebenarnya berkebun itu mudah, semua bisa dan punya manfaat besar untuk mewujudkan ketahanan pangan,” tegasnya.

Mbak Ita mengaku sangat mengapresiasi gerakan yang dilakukan oleh anak-anak muda dari Sekolah Berkebun Ceria, yang peduli akan kondisi pertanian yang ada di Semarang dan komitmen mereka mewujudkan ketahanan pangan. “Kita ajak mereka berkolaborasi. Kalau hanya dinas saja tidak akan bisa jalan untuk ngover semua area Semarang yang luasnya 372 km2. Kita butuh anak-anak muda seperti ini untuk men-support program pemerintah,” katanya.

Dengan adanya urban farming, lanjut Mbak Ita, ketahanan pangan akan bisa diwujudkan. Apalagi jika semua lapisan masyarakat di Kota Semarang bisa menerapkan meskipun hanya di halaman, vertikal garden, aquaponik dan cara lainnya. “Nanti akan ada pendampingan, kita kembangkan urban farming ini untuk ketahanan pangan di Semarang,” ujarnya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan