Awalnya Diminum Sendiri, Kini Sudah Produksi Ribuan Botol

Haries Saprila, Anak Band yang Banting Setir Berbisnis Jamu

269
KREATIF: Haries Saprila menunjukkan jamu kunir asem dan jamu rempah keraton buatannya. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Haries Saprila menunjukkan jamu kunir asem dan jamu rempah keraton buatannya. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Dunia hiburan ikut terdampak pandemi Covid-19. Tidak terkecuali grup musik yang digawangi Haries Saprila. Job manggung drop. Untuk mempertahankan dapur tetap ngebul, ia banting setir berbisnis jamu.

PUPUT PUSPITASARI, Magelang, Radar Semarang

ADA pemandangan berbeda di rumah Haries Saprila. Di dinding ruang keluarga, terdapat alat musik bass yang digantung. Pemandangan ini terlihat dari ruang tamunya. Di sekitar alat musik itu, terdapat banyak wayang kulit.

Seolah menandakan bahwa Haries adalah pemusik. Namun ia juga sangat mencintai kekayaan nusantara. Termasuk budayanya. Namun saat disambangi Jawa Pos Radar Semarang kemarin, Haries Saprila justru terlihat sibuk memblender kunyit. Suara mesin penghancur itu cukup menguasai area dapur yang tidak begitu luas.

Ia langsung mencampurkan beberapa bahan-bahan ke dalam panci besar yang telah dipanaskan. Sedangkan istrinya, Novi Karlinasari, tetap serius menempel label jamu pada botol-botol.

Haries –sapaan akrabnya—adalah seorang pemusik. Sebagai anak band, ia kerap manggung mengisi acara dan even. Dari musik inilah, ia bertahan hidup. Tapi pendapatannya hilang seketika setelah pandemi Covid-19 merebak sampai ke Magelang dan sekitarnya. Aktivitas bermusiknya berhenti total. Sebab, tidak ada yang menggelar hajatan.

Rasanya menganggur tidak enak. Terlebih dia memiliki istri dan dua anak yang masih balita harus dihidupi. Tapi minimal, tabungannya bisa menyambung hidup. Harapan terbesarnya, ia dan keluarganya sehat agar perekonomiannya tidak semakin terguncang. Lantas, ia membuat jamu kunir asem untuk meningkatkan imunitas tubuhnya. Resep ini didapatkan dari tetangga yang jago membuat ramuan herbal. Tidak disangka, racikan jamu kunir asem buatannya pas.

“Awalnya bikin untuk diri sendiri, diminum pakai gelas. Tapi karena saya juga mengalami dampak pandemi, saya kepikiran, kenapa nggak bikin jamu, terus dijual,” tuturnya.

Dorongan menjadi penjual jamu sangat kuat. Ia meminta bantuan sang adik untuk memproduksi jamu dan ikut memasarkan. “Teman-teman saya nggak percaya, Haries kok bikin jamu? Tapi saya menawarkan ke teman-teman sambil bercanda, santai. Kemudian mereka mau mencoba, dan mendapat feedback rasanya enak,” ceritanya.

Pria kelahiran Magelang, 15 April 1984 itu makin termotivasi. Apalagi jamu buatannya punya keunikan. Sebab, ia memperhatikan kualitas bahan dan proses memasaknya. Untuk jamu kemasan 500 mili liter, ia banderol seharga Rp 12.500. sedangkan kemasan 250 mili liter seharga Rp 7.500.

“Saya pakai kunyit empu, gula aren asli, asam Jawa, dan jeruk nipis pilihan. Proses penyaringan juga sampai 6 kali, sehingga ampasnya tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Mengawali pemasaran melalui koneksi pertemanan, diakui ‘manjur’. Jamu yang di beri label “Jamu Migunani” yang berarti jamu bermanfaat itu banyak dipesan. Sejak pertengahan April diproduksi, ribuan botol terjual. Pemasaran sudah sampai luar kota, Jakarta, Purworejo dan sekitarnya. Juga merambah ke toko-toko dan instansi pemerintahan.

Sebetulnya, ada dua varian rasa yang ditawarkan. Jamu kunir asem dan jamu rempah keraton. Namun, jamu kunir asem yang paling laris. Ia pun membeberkan proses pembuatan jamu kunir asem yang memakan waktu selama 3 jam.

Pertama, pemilihan bahan. Kemudian kunyit empu diblender sampai halus. Lalu ia membersihkan asam Jawa dari serat-seratnya. Asam Jawa, gula aren tersebut dimasukkan ke dalam panci berisi air, dan dimasak hingga mendidih. Ia menambahkan perasan jeruk nipis. Setelah itu, masuk pada proses penyaringan, dan pengemasan.
“Jamu ini bisa tahan 3-4 hari bila tidak di kulkas. Kalau disimpan di kulkas bisa tahan sampai 6 hari karena tanpa bahan pengawet,” imbuhnya.
Namanya usaha baru, Haries juga pernah mengalami kendala. Toh ia tak patah semangat. “Saya sempat kesulitan mencari botol. Sampai harus ganti model botol dua kali. Selain itu, pernah mengganti barang, karena saat barang sampai tujuan bocor,” ujarnya.

Dari pengalaman ini, ia sampai menulis pesan khusus yang ditujukan kepada jasa ekspedisi. Sebab, label fragile seperti hanya formalitas. “Sampai saya tulisi, kalau barang ini isinya jamu, nggak boleh di balik, nggak boleh dibanting, hehe,” katanya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan