Edukasi Buruh Migran, hingga Advokasi Korban KDRT

Pujiharti Romadhoni, Mahasiswi UIN Walisongo, Aktivis Keadilan Jender

199
Pujiharti Romadhoni. (ISTIMEWA)
Pujiharti Romadhoni. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Pujiharti Romadhoni tercatat sebagai mahasiswi UIN Walisongo. Ia adalah aktivis Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHM). Puji aktif melakukan kampanye, edukasi, hingga bantuan advokasi kepada kaum perempuan.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Radar Semarang

USIANYA masih terbilang muda. Baru menginjak 23 tahun. Tapi di usianya tersebut, ia mampu berkontribusi banyak untuk sesama perempuan. Dia adalah Pujiharti Romadhoni. Ia adalah aktivis LRC-KJHM. Banyak upaya telah dilakukan untuk membantu sesama perempuan di Kota Semarang.

Di setiap peringatan hari besar seperti Hari HAM dan Hari Peringatan Antikekerasan terhadap Perempuan, ia tak pernah absen menyuarakan hak-hak perempuan. Tak hanya itu, dalam banyak kasus tindak kejahatan, seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga human trafficking, ia juga hadir membantu para korban perempuan.

Meski belum lama bergabung, sudah banyak kasus yang didampingi. Meski tak selalu mudah, baginya ini adalah sebuah kewajiban, yakni membantu sesama perempuan.

“Masih banyak teman-teman perempuan yang belum sadar bahwa dirinya adalah korban dan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Untuk itu, kami hadir memberikan bantuan hukum,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (28/6).

Puji menambahkan, saat ini bersama LRC-KJHM, ia tengah fokus untuk mengedukasi perempuan supaya berani angkat bicara. Karena selama perempuan bungkam, maka para pelaku tindak kejahatan pelecehan seksual akan terus melancarkan niat jahat mereka.

Tak berhenti sampai di situ. Di samping memberikan bantuan hukum, Puji juga menjadi salah satu anggota yang turun langsung dalam memberikan edukasi kepada para buruh migran di daerah Grobogan.

Mengetahui bahwa Grobogan merupakan salah satu daerah yang banyak masyarakatnya bekerja sebagai buruh migran, membuat LRC-KJHM kerap mengadakan kelas diskusi.

Kelas diskusi diisi dengan mengupas hak-hak yang bisa dituntut oleh buruh. Juga mengajarkan ibu-ibu rumah tangga lainnya supaya melek terhadap anggaran desa. Dengan demikian, ibu-ibu di sana dapat berperan aktif di desa masing-masing. Selain itu, diharapkan mereka juga mampu mengadvokasi diri masing-masing dengan ikut terlibat aktif di keorganisasian seperti PKK.

Terlepas dari banyak hal yang sudah ia lakukan, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo ini tampaknya masih menyimpan banyak mimpi. Salah satunya mendorong pemerintah untuk memberikan hak warga negaranya, dalam hal ini perempuan.

“Masih banyak undang-undang yang harus diperjuangkan. Korban sudah dibantu, akan menjadi percuma jika sistem tidak dibenahi,” ungkap Puji.

Oleh karena itu, ke depannya masih banyak kasus-kasus lain yang ingin ia perjuangkan. Supaya tidak ada lagi, perempuan-perempuan yang terbelit hukum saat hendak menuntut haknya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan