Tolak Tawaran Mobil Avanza untuk Satu Sepeda Favorit

Kolektor Ribuan Sepeda, Terpaksa Buka Rental Sepeda

397
RIBUAN SEPEDA : Pemilik wisata sepeda di kawasan Candi Borobudur, Pramono, 69, berada di rumah penyimpanan ribuan sepedanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RIBUAN SEPEDA : Pemilik wisata sepeda di kawasan Candi Borobudur, Pramono, 69, berada di rumah penyimpanan ribuan sepedanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Adalah Pramono Budianto, 69, warga asal Jalan Balaputradewa, Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Kolektor ribuan sepeda berbagai merek, pernah mendapat penawaran menarik, satu sepeda favorit ditukar mobil Avanza.

RIBUAN SEPEDA : Pemilik wisata sepeda di kawasan Candi Borobudur, Pramono, 69, berada di rumah penyimpanan ribuan sepedanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RIBUAN SEPEDA : Pemilik wisata sepeda di kawasan Candi Borobudur, Pramono, 69, berada di rumah penyimpanan ribuan sepedanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Agus Hadianto, Magelang, Radar Semarang

PRAMONO tidak mempedulikan cibiran orang-orang saat membuka bisnis rental sepeda tujuh tahun lalu. Tepatnya tahun 2013 silam. Kala itu, orang-orang mencibir tidak akan laku. Terlebih harga yang ditawarkan terbilang murah. Itu lantaran banyak orang yang menyayangkan, koleksi pribadinya justru disewakan.
Meski begitu, tidak menyurutkan langkah Pramono. Dia tetap menyewakan sepeda miliknya untuk wisatawan di kawasan Borobudur. Harganya, hanya Rp 15.000 per hari. Jika sepeda yang berboncengan, hanya dikenakan Rp 25 ribu. Berbeda lagi jika sepeda tracking, disewakan Rp 100.000 per harinya.

Baginya, sepeda merupakan produk teknologi yang luar biasa. Sebab, dari abad ke-18 sampai abad ke-19 masih banyak eksperimen. “Setelah abad ke-19, sepeda prinsipnya sama sampai detik ini, rodo loro digenjot nggo rantai (dua ban digenjot pakai rantai, red). Lha ini ada pengembangan-pengembangan baru, tapi secara universal, sepeda ya seperti ini. Dari situ, saya mencintai sepeda luar biasa,” katanya.

Pramono mengenang, dirinya mulai naik sepeda sejak usia lima tahun kurang. Sepeda yang dinaikinya adalah jenis Simplex yang menjadi mimpi semua orang untuk membelinya. Saat itu, orangtuanya merupakan orang yang terpandang dan memiliki sepeda jenis Simplex. “Koleksi sepeda saya paling banyak merek Simplex, ada empat ratus lebih. Karena saya suka jenis ini,” akunya.

Pramono menceritakan, ide awal menyewakan sepeda dengan harga murah, sebetulnya untuk mengedukasi agar orang bisa tahu bagaimana nikmatnya bersepeda. Bahkan tahun-tahun awal membuka rental sepeda, dirinya kerap menggratiskan untuk orang yang meminjam sepedanya.

“Setelah saya punya sepeda banyak, saya berpikir seperti itu piye carane biar orang bisa naik sepeda. Saya buka rental sepeda, basic-nya edukasi. Ini sudah tujuh tahun. Tapi lima tahunnya, betul-betul naik saja tidak bayar tidak apa-apa. Saya stay disini tujuh tahun, tapi kira-kira bisa hidup baru tiga tahun yang lalu,” jelasnya.

Pramono mengakui, meski bisnis rental sepedanya mulai berkembang, namun patokan harga tetap disandangnya. Sebab, dirinya menyewakan sepeda tidak hanya untuk wisatawan. Bahkan sejumlah instansi, meminjam sepeda dalam jumlah banyak dalam setiap event. Terkadang dirinya mengantarkan pesanan pemimjaman sepeda hingga Semarang, Jogja, Surabaya, Jakarta, Bali maupun kota lainnya. “Kami ngirim hampir 1.000 lebih ke gubernuran (Jawa Tengah). Ke Bali, hampir 400-600 sepeda,” ucapnya.

Pramono mengaku, kini usaha penyewaan sepedanya berkembang di Magelang, Prambanan, Jogja hingga Semarang. Khusus wilayah Borobudur Magelang, menurut Pramono, menjadi surga bagi peseda karena memiliki rute-rute yang menarik dan menantang.

“Sebetulnya Borobudur itu surganya peseda. Mulai emak-emak yang cuma mau selfie, nyewa dua tiga jam masuk sawah-sawah untuk cari posisi selfie. Sampai peseda tangguh yang menek-menek gunung, ribuan rute,” tutur Pramono.

Pramono mengaku, dirinya mempunyai koleksi sepeda mencapai 3.400 buah. Dia mengumpulkannya sejak puluhan tahun silam dari berbagai penjuru tanah air. Bahkan Pramono rela terbang ke berbagai negara, hanya untuk memburu berbagai jenis sepeda di Belanda, Inggris, Jepang, dan negara lainnya.

Dirinya juga berburu sepeda di sejumlah pasar tradisional seperti Kebumen, Klaten, Solo, Kroya, Jawa Timur hingga Jawa Barat. Bahkan sekali ketemu penjual sepeda di satu daerah, dirinya langsung membeli sekitar 50-an sepeda dengan diangkut truk. “Wong edan seperti saya itu punya mimpi. Orang nggak mikir, saya sudah mikir,” kelakarnya.

Pramono mengumpulkan sepeda mulai tahun 1970 sampai tahun 2000-an. Padahal tahun 1970-an, sepeda motor sudah merajai Indonesia. Tahun 2000, sepeda mulai dibuang atau diberikan kepada pembantunnya. Oleh pembantunya, dipakai mencari rumput. Sepeda menjadi alat transportasi sangat murah bagi orang desa. “Saya datang pakai truk beli di pasar. Murah, pol murahe. Ya kira-kira 50 sepeda, tapi yang merek,” imbuh pria berputra dua ini.

Pramono mengaku, dirinya kerap membeli sepeda kiloan dari tukang rongsok di daerah Sleman. Untuk onderdil sepeda yang masih berguna disimpan. Sedangkan yang tidak berguna, lalu dijual kembali kepada tukang rongsok tersebut.

“Sepeda murah-murah ini, kenale tukang rongsok. Misal rongsok Sleman, saya datang. Saya copoti yang tidak berguna, tak jual lagi sama dia beli cuma Rp 2.000, jadi rugi Rp 1.000, tapi saya tidak ngopeni barang bosok. Tak ambil barangnya yang mahal-mahal tak setting,” tutur pria yang setiap pagi melaju puluhan kilometer bersepeda untuk sarapan di Kecamatan Muntilan ini.

Pramono mengaku memiliki sepeda jenis gazelle, simplex, burgers, relight, dan masih banyak lainnya. Bahkan, ada beberapa koleksi sepedanya yang ditawar puluhan juta dan ditawar untuk ditukar mobil Avanza.
“Sepeda lipat zaman dulu merk Striga, dulu ditawar orang Rp 30 juta, tidak saya lepas. Ini ada sepeda zaman dulu, malah ditawar ditukar mobil Avanza. Saya emoh, ndak mau,” paparnya.

Pramono menuturkan, selama masa pandemi ini, bisnis rental sepedanya lesu selama empat bulan. Kondisi ini, membuat dirinya terpaksa menjual beberapa sepedanya, sampai 100 buah. “Sebetulnya jumlahnya sudah 3.400, tapi karena keadaan seperti ini saya mulai jual. Toh misi saya sudah tercapai, yakni orang membeli sepeda saya, karena senang bersepeda,” tuturnya enteng.

Pramono mengaku, dulu dia kesulitan menjual sepeda. Lha sekarang, pandemi covid-19 orang demam sepeda semua. “Saya semula hanya menyewakan. Tapi terdampak juga, harus cari solusinya, salah satunya saya jual karena sekarang harganya mahal. Kalau nanti sudah tidak laku dan dijual murah, nanti saya beli lagi. Ini bisnis saja,” tutupnya. (*/ida)





Tinggalkan Balasan