Tak Ingin Korbankan Salah Satunya, Harus Pintar Atur Waktu

Komitmen Pendidikan Para Punggawa PSIS Semarang

156
PINTAR ATUR WAKTU : Eka Febry, Septian David, dan Kartika Vedhayanto tetap menjalankan pendidikannya, meski disibukkan dengan kegiatannya menjadi pemain PSIS Semarang.(Baskoro Septiadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PINTAR ATUR WAKTU : Eka Febry, Septian David, dan Kartika Vedhayanto tetap menjalankan pendidikannya, meski disibukkan dengan kegiatannya menjadi pemain PSIS Semarang.(Baskoro Septiadi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Banyak stigma beredar bahwa menjadi atlet, pendidikan terabaikan. Namun hal ini ditepis punggawa PSIS. Meski sibuk dan telah menjadi pemain bintang, mereka tetap peduli terhadap pendidikannya untuk bekal untuk masa depan.

Dewi Akmalah, Radar Semarang

PENDIDIKAN tinggi bagi orang biasa sudah wajar. Karena sebagian alur hidupnya memang fokus untuk menempuh sekolah formal setinggi-tingginya agar dapat kerja sesuai harapan di masa depan. Namun bagaimana dengan para atlet, yang notabene tanpa hal tersebut pun masih bisa berprestasi. Pendidikan seakan menjadi tidak terlalu penting. Bahkan, menjadi urutan kesekian dalam hidupnya. Inilah yang akhirnya menimbulkan stigma bahwa atlet bukanlah anak pintar. Karena pintar haruslah berpendidikan tinggi.

Namun stigma ini coba dipatahkan oleh beberapa pemain PSIS. Meskipun telah berprestasi dan disibukkan dengan beragam kegiatan seperti latihan, mereka masih sempat menjalankan pendidikannya. Bahkan hingga mencapai perguruan tinggi. Sebut saja Eka Febri, Septian David Maulana, Tegar Infantrie, Andreas Ado, Riyan Ardiansyah, Pratama Arhan, Adhitya Jorry dan Kartika Vedhayanto.

Untuk Eka Febri, pria 19 tahun ini tercatat sebagai mahasiswa semester dua pada Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Meski bergelut dalam dunia olahraga, ia justru mengambil jurusan yang jauh dari bidang tersebut. Yakni program studi managemen. Dalam kesehariannya ia biasa berangkat kuliah pada pagi atau siang hari. Baru setelah selesai, ia bergabung dengan skuad untuk menjalani latihan rutin.
“Tapi karena saat ini masih pandemi, jadinya ya kuliah online dari rumah di Tuban Jawa Timur. Jadi tugas-tugasnya saya terima via email. Dan mengumpulkannya juga lewat email,” ujarnya.

Memiliki tantangan membagi waktu latihan dan sekolah, Eka mengaku mampu mengatasi hal tersebut. Karena sebelumnya pria kelahiran 29 Februari ini sudah sepenuhnya menyadari betul arti penting pendidikan. Bertekad untuk melanjutkan kuliah sampai lulus. Sehingga mau tidak mau ia harus dapat membagi waktu.
Ia ingin pendidikannya tersebut kelak dapat bermanfaaat bagi kehidupannya di masa depan. Baik di bidang olahraga maupun tidak. “Tapi tetap sebagai atlet, saya harus bertanggung jawab dengan tidak melupakan kewajiban. Walau fokus kuliah, saya tetap harus menjalankan program wajib tim dengan latihan mandiri selama libur kompetisi seperti ini. Jadi porsinya seimbang,” lanjutnya.

Hal yang sama dijalani Septian David Maulana. Pria kelahiran 2 September 1996 ini mengaku tengah mengejar waktu agar dapat segera lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ya Septian saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di Fakultas Ilmu Keolahragaan. Menurutnya, ilmu yang ia dapat saat berkuliah tersebut dapat menjadi bekal menjadi pelatih sepakbola di kemudian hari.
“Saya mengambil jurusan pendidikan olahraga, setidaknya sesuai latar belakang sebagai pesepakbola. Orang tua juga sangat mendukung saat saya mengambil jurusan ini,” ujarnya.

Saat ini, pria 24 tahun ini telah menyelesaikan tugas akhirnya. Mengambil tema PSIS Semarang, dirinya mengaku lebih mudah mengerjakan skripsi. Mengingat ia telah mengenal dan bermain untuk Mahesa Jenar, sehingga lebih efektif dan efisien. Lagi pula, menurutnya, sang dosen pembimbing juga menyarankan hal tersebut. “Sebelumnya skripsi saya mau mengambil tema lain. Tapi kata dosen pembimbing, temanya PSIS saja. Biar memudahkan saya,” lanjutnya.

Perkembangan terakhir, dirinya saat ini telah mengikuti sidang skripsi melalui daring. Dan saat ini tengah mengerjakan revisian. Agar dapat segera melangsungkan wisuda guna memperoleh gelar sarjana. “Alhamdulillah. Senang tentunya sudah sidang skripsi,” pungkasnya.

Lain dari dua pemain di atas, dua pemain muda PSIS Semarang ini justru baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada Ramadan lalu, Pratama Arhan dan Adhitya Jorry dinyatakan lulus dari SMA Terang Bangsa Semarang. Tempat mereka mengenyam tiga tahun pendidikan. Rasa bahagia tak dapat mereka sembunyikan. Sudah satu step lebih tinggi dalam pendidikan mereka. “Alhamdulillah saya sudah dinyatakan lulus dari SMA. Semoga ilmunya bermanfaat,” ujarnya Jorry.

Mereka mengaku butuh tenaga ekstra agar dapat menyeimbangkan waktu antara pendidikan dan menjalankan kegiatan sebagai atlet. Biasanya mereka menjalankan kewajiban sebagai pelajar dengan bersekolah dari pagi sampai siang. Baru setelahnya pada sore hari, bergabung dengan para seniornya untuk latihan di Stadion Citarum atau Lapangan Mardi Soenarto.

Meski begitu, mereka mengaku sudah terbiasa. Sehingga ketika nantinya melanjutkan ke jenjang selanjutnya terealisasi, mereka tidak akan menemui kesulitan. Karena sudah terbiasa mengatur waktu. “Ya tentu inginnya setelah ini lanjut kuliah. Bagaimanapun pendidikan itu penting. Entah untuk saat ini atau untuk masa yang akan datang,” pungkas Arhan.

Sementara itu, kegiatan Arhan dan Jorry tersebut tengah dijalani oleh Kartika Vedhayanto. Pemain termuda skuad asuhan Dragan Djukanovic ini masih tercatat sebagai siswa di SMA Negeri 11 Semarang. Dalam menjalankan aktivitas, baik sebagai atlet maupun pelajar, anak dari legenda PSIS Semarang, Trimur Vedhayanto ini memang sangat fokus. Dirinya dapat dapat menjalankan keduanya dengan baik dan sungguh-sungguh.

“Saat sedang sekolah, berarti saya harus fokus menimba ilmu pendidikan. Tapi saat di lapangan untuk berlatih, saya juga harus fokus bermain bola dan menyerap ilmu dari pemain senior dan pelatih,” imbuhnya.
Selain itu ia mengaku tidak tidak ingin mengorbankan salah satunya. Baginya menjadi atlet memang panggilan jiwanya. Sudah menjadi kewajibannya untuk latihan keras agar dapat meningkatkan prestasi. Namun ia menyadari belum tentu masa depannya akan terus menjadi atlet. Untuk mengatisipasi hal tersebut, ia harus memiliki bekal dalam pendidikan. Sehingga bermanfaat dan dapat dipergunakan di kemudian hari. “Semuanya penting. Karena penting, saya harus fokus dan bekerja keras. Agar keduanya dapat menghasilkan hal yang baik untuk saya nantinya,” pungkasnya. (*/ida)





Tinggalkan Balasan