Ada Rambak Brokoli, Wortel hingga Daun Kelor

Eka Siwi Widyawati, setelah Dirumahkan Kini Jadi Produsen Kerupuk Sayur

215
KREATIF: Eka Siwi Widyawati menunjukkan kerupuk sayur produksinya.(DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: Eka Siwi Widyawati menunjukkan kerupuk sayur produksinya.(DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Setelah dirumahkan dari pekerjaannya akibat pandemi Covid-19, Eka Siwi Widyawati, 40, justru lebih kreatif. Warga Jalan Langenrejo, Gendongan, Salatiga ini banting setir menjadi produsen kerupuk sayur. Ada kerupuk rambak daun kelor, rambak brokoli, dan rambak wortel.

DHINAR SASONGKO, Salatiga, Radar Semarang

MENCARI rumah Eka Siwi tidaklah terlalu sulit. Begitu masuk Jalan Langenrejo, rumahnya bernomor 20, dengan cat cerah, di kanan jalan. Di depannya terpasang spanduk bergambar kerupuk produksinya, merek dan nomor kontaknya.

Halaman rumahnya tergolong cukup luas di kawasan padat penduduk. Di teras rumahnya tergeletak lima tampah yang berisi potongan kerupuk yang dijemur. ‘Ini dijemur dan menjadi salah satu proses akhir sebelum dipacking,” terang Eka kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dijelaskan dia, awal produksi ia membuat untuk kebutuhan konsumsi sendiri. Namun ternyata ada tetangga yang ingin dan memesan. Saat itu, dirinya masih bekerja di hotel, sehingga hanya dibuat sambilan. Namun saat pandemi korona, dirinya dirumahkan bersama separo karyawan hotel tempatnya bekerja.

“Setelah dirumahkan itu, akhirnya saya terpikir untuk mengembangkan kerupuk rambak sayur. Puji Tuhan dengan berjalannya waktu permintaan semakin banyak,” jelas ibunda si kembar Bagas dan Bagus ini.
Awalnya, ia hanya memproduksi dua varian kerupuk sayur, yakni brokoli dan wortel. Tapi atas permintaan konsumen, ia menambah satu varian lagi, yakni kerupuk daun kelor. Bahannya relatif mudah didapat. Bahan baku wortel dan brokoli beli di pasar. Kalau daun kelor mencari sendiri dan juga pesan ke beberapa orang. Sedangkan bahan dasar lainnya sama dengan pembuatan kerupuk, yakni tepung terigu, tepung tapioka, bawang, dan ketumbar.

Dijelaskan dia, cara pembuatannya relatif mudah. Meski demikian, tidak semua orang bisa membuat, karena ada trik dan resep tertentu. Mula-mula sayuran seperti wortel dan brokoli diparut dan dicampur bahan yang lain. Kemudian digiling dan dikukus hingga berbentuk bulat memanjang.

“Khusus untuk daun kelor yang diambil adalah sarinya. Jadi, daun kelor ditumbuk dan diperas untuk diambil airnya. Karena jika diambil daunnya, tidak bisa dipotong,” ujar Eka sambil menunjukkan beberapa contoh kerupuk sayur produksinya.

Setelah dikukus, bahan baku setengah matang itu dimasukkan ke lemari pendingin dan didiamkan selama dua hari. Setelah itu, diiris tipis bulat. Setelah itu, ditata di tempat khusus dan dijemur selama kurang lebih satu hari. “Kalau matahari terik, maka dijemur satu hari cukup. Tapi jika mendung, bisa dua atau tiga hari,” kata istri Dwi Subijanto.

Selesai dijemur, kerupuk yang sudah kering siap untuk digoreng. Lalu, dipacking dengan plastik. Setiap kemasan beratnya 250 gram. Ia menjual dengan harga antara Rp 7.500 – Rp 8.000 per kemasan. Setiap hari ia menghabiskan enam kilogram bahan. Per kilogram campuran bahan bisa menghasilkan satu kilogram kerupuk. Jadi, sehari rata – rata ia memproduksi 24 kemasan. Atau jika dijual sehari bisa menghasilkan Rp 192.000 atau sebulan mencapai Rp 5.760.000.
“Karena masih baru, semua produksi masih manual. Saya memotong juga masih menggunakan cutter,” terang Eka.

Disinggung mengenai pemasaran, Eka masih mengandalkan online dan dibantu beberapa reseller. Kini pesanan sudah mencapai Brebes, Jepara, Blora, dan Cepu. Ia juga tengah memperjuangkan legalitas produksinya dengan mengurus PIRT.

Untuk produksi, ia dibantu suami dan ibunya, Nani. Ke depan, ia berharap produksinya bisa diterima masyarakat luas dan mendapatkan dukungan dari pemerintah sebagai salah satu UKM. (*/aro)





Tinggalkan Balasan