alexametrics

Sediakan Jajanan Sehat Harga Bersahabat, Pemasaran sampai Jakarta

Melongok Kampung Kajat di Kelurahan Mlatibaru, Semarang Timur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kelurahan Mlatibaru, Semarang Timur RW 2 punya Kampung Jajanan Tradisional (Kajat). Pengelolanya ibu-ibu muda setempat. Seperti apa?

ALVI NUR JANAH, Radar Semarang

Memasuki Kelurahan Mlatibaru RW 2, koran ini disambut dengan beragam jenis mural di tembok. Rata-rata bergambar tokoh para ibu yang sedang menjajakan makanan dengan pakaian tradisional. Gerobaknya mirip angkringan, namun kombinasi warnanya lebih banyak. Kampung Kajat berdiri pada 24 Desember 2017. Kelurahan Mlatibaru sendiri termasuk dalam jajaran kampung tematik kebanggaan Kota Semarang. Inisiator berdirinya Kampung Kajat adalah Yasmi Nugroho, 42. Ia adalah pionir yang menggerakkan semangat para ibu untuk berkreasi dan mandiri.

“Sebelum resmi dinamakan Kampung Kajat, para ibu sudah telaten membuat jajanan pasar. Jauh sebelum itu, para ibu sudah melayani orderan, namun lingkupnya masih sempit. Hanya orderan antarrumah,”ungkap Yasmi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (22/6).

Lambat laun, percikan semangat para ibu semakin besar. Melihat animo itu, pihak kelurahan akhirnya memutuskan untuk mengadakan pelatihan. Dengan mendatangkan pemateri dari dinas dan pelaku UMKM di Kota Semarang. Setelah menjadi kampung tematik, pelatihan diintensifkan bahkan terus digetolkan.

“Sebelumnya RW 2 belum jadi kampung tematik. Tapi melihat potensi dan kemauan para ibu, akhirnya Kampung Kajat diusulkan Pemkot Semarang menjadi kampung tematik. Dibantu oleh teman-teman dari dinas dengan branding-nya produk unggulan jajanan tradisional,”imbuh Yasmi.

Pemateri dan pelatihan diselenggarakan pihak desa yang bekerja sama dengan dinas. Sebut saja Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Ketahanan Pangan. Memasuki awal 2018, kampung kajat mulai melebarkan sayap. Mendapat predikat kampung tematik, memantik semangat para ibu untuk menunjukkan eksistensinya. “Diberi bekal pelatihan, sosialisasi dan materi pemasaran oleh teman-teman dari dinas. Khusus RW 2, yaitu pelatihan olahan makanan yang dimulai pada awal 2018 dua tahun lalu. Saya masih ingat, awalnya 30 ibu yang bergabung di Balai Kelurahan Mlatibaru,”ujarnya mengingat.

Baca juga:  Eksis Sejak 1970-an, Sanggar Kesenian Warangan Merbabu Sudah Pentas Keliling Indonesia

Pelatihan awal rata-rata diikuti oleh para remaja dan para ibu muda. Semangat itu ditambah dengan dukungan dari ibu-ibu PKK yang turut bergabung. Yasmi berujar, semakin ke depan semakin banyak persaingan di bisnis makanan. Ia bersama para ibu tidak mau kalah dengan generasi muda.”Sering sharing soal inovasi jajanan pasar, merambah juga ke modern. Jajanan pasar yang dikombinasi dengan menu bakery agar tidak bosan. Karena dulu paling bisa buat nogosari, arem-arem. Sekarang kita bisa buat macam-macam makanan, kayak pie susu, pie buah dan sesuai permintaan pelanggan,”tutur Yasmi.

Gayung bersambut orderan membeludak. Kabar Kampung Kajat sebagai sentra olahan jajanan pasar sudah tersiar luar. Orderan banyak. Sebut saja orderan dari Kelurahan Kemijen, Kebonagung, dan Kecamatan Semarang Timur. Pada saat Musrenbang Kecamatan Semarang Timur, Kampung Kajat didapuk untuk menyiapkan dalam hal konsumsi. “Waktu itu lebih dari 300 pcs, ada juga orderan menggunakan tampah. Inginnya semakin laris dan dikenal masyarakat Kota Semarang,”harap Yasmi.

Saat ini, kurang lebih 35 ibu-ibu yang tergabung di Kampung Kajat. Spesialis olahan jajanan pasar, ia menyebutnya. Mereka mengerjakan secara mandiri dari rumah. Setiap ibu keahliannya tidak sama. Ada yang jago buat arem-arem, ada juga yang jago buat gethuk. Baru ketika jajajan sudah jadi, Yasmi menjemput pesanan dan siap diantar kepada empunya. “Yang spesialis makanan nogosari, ada juga wingko yang dia buat sendiri. Resoles dan onde-onde juga sendiri. Ketika ada orderan, mereka langsung mengerjakan. Nanti saya yang ambil ke rumah. Biar tidak berebut,”ungkapnya.

Baca juga:  David Charindra, ASN Ciptakan Lagu Sendiri, Rilis Single Keempat

Packaging biasanya menggunakan boks dan tampah. Harga per boks biasa dibanderol Rp 7 ribu, untuk tampah mulai dari harga Rp 200 ribu. Kampung Kajat kerap kali mengikuti bazar, sebagai ajang prmosi. Sebut saja di Taman Indonesia Kaya. Jika mendapat orderan, menyesuaikan budget pembeli. “Beraneka macam makanan dalam satu tampah, ada 15 jenis. Harga menyesuaikan permintaan. Satu bakul tampah kurang lebih berisi 15 jenis jajanan pasar,”ungkap Yasmi.

Jajanan pasar sebut saja klepon, onde-onde, bolu kukus, nogosari, lapis, wingko babat, resoles, arem-arem, martabak mini, dadar saos, sosis dolo, brownies, pisang karamel , martabak, bolu gulung, pastel, lemper, sus fla, kroket, mendut, putri ayu, gethuk dan masih banyak lagi.

Kampung Kajat sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Sebenarnya ada hal yang lebih penting. Yasmi selalu menanamkan bahwa ketahanan pangan paling utama adalah dari keluarga. Pedomannya adalah 10 program pokok PKK. Pangan harus kuat. Sebab, pilar ekonomi paling vital berasal dari lingkungan keluarga. Jika pangan keluarga kuat, ekonomi makro akan stabil. “Saya dan ibu-ibu mencoba mengamalkan nilai-nilai PKK. Kalau tekun, pasti bisa. Kalau orangnya semangat mau belajar, pasti bukan tidak mungkin nanti langganan semakin banyak,”beber Yasmi.

Lebih lanjut, ia bersama para ibu ingin menunjukkan bahwa ibu rumah tangga jangan sampai tergantung terhadap suami. Harus bisa mandiri jika mampu. Jangan menadah suami. Ketahanan pangan kita jangan sampai menurun. “Yang ingin diterapkan oleh ibu-ibu jangan bosan belajar. Kalau bisa membantu ekonomi keluarga hingga ketahanan pangan keluarga bisa mandiri,”ujar perempuan berkacamata itu.

Baca juga:  Pompa Ngadat Tersumbat Sampah, Bersihkan sambil Menyelam

Lurah Mlatibaru Widji Wastuti, 56, mengaku, sangat senang. Semangat gotong royong para ibu di RW 2 patut diacungi jempol. Terutama kepada Yasmi, sebagai inisiator dalam membuat olahan makanan. Agar mampu bahu-membahu meningkatkan perekonomian setiap warganya. “Tidak berhenti belajar dan berlatih di kalangan ibu-ibu. Dulu hanya sekadar jualan, namun sekarang Alhamdulillah sudah lebih baik lagi. Baik dari pembuatan, kemasan dan juga pemasaran,”ungkapnya.

Selain produk jajanan, para ibu PKK turut memperkenalkan produknya. Hasil kreasi tangan terampil mereka sebut saja jahe alang-alang, bandeng dan telur asin. Cita-cita para ibu adalah ingin meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Kaitannya dengan pendapatan agar tidak mengandalkan uang dari suami. Para ibu harus semangat mencari nafkah tambahan. “Kemandirian dari warga masyarakat. Jangan hanya bergantung semuanya kepada pemerintah. Semuanya harus mandiri, untuk bisa mendukung program-program pemerintah,”imbuhnya.

Sebagai lurah, Widji turut serta membantu dalam promosi. Agar kreasi tangan terampil para ibu di Kampung Kajat bisa dinikmati semua orang. Diakuinya, ia sering mengajak para ibu untuk mengikuti pameran di tingkat kecamatan hingga kota. “Promosi tingkat kota harus lebih baik dari packaging, dan rasa. Contohnya produk yang laris kemarin sewaktu pandemi itu jahe alang-alang. Itu sudah sampai Jakarta langganan para dokter untuk penambah imun tubuh,”tuturnya.

Widji bersyukur, kekompakan dan rasa gotong royong di lingkungan RW 2 tetap terjaga. Ia berharap, ke depannya jangan sampai kendor. Tetap semangat. Walaupun situasi pandemi masih tetap terjadi. “Harus tetap berjuang dan optimistis untuk mempertahankan roda perekonomian dari warga masyarakat itu sendiri,”katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya