alexametrics

Daftar Haji dari Jualan Emping Melinjo, Suami Meninggal Lebih Dulu

Nenek Unsiyah, Menabung Puluhan Tahun Tertunda Naik Haji 2020

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Penundaan pelaksanaan ibadah haji 2020 akibat pandemi Covid-19 masih menyisakan kesedihan bagi mereka yang rencananya akan berangkat tahun ini. Salah satunya Unsiyah, 74. Nenek pembuat emping melinjo ini mengaku harus menabung puluhan tahun demi mewujudkan impiannya ke Tanah Suci.

AGUS HADIANTO, Magelang, Radar Semarang

HABIS lebaran lalu, harusnya Unsiyah sudah menggelar syukuran pamitan haji kepada para tetangganya. Namun rencana warga asal Dusun Jamus Pasar RT 5/RW 5, Desa Jamus Kauman, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang gagal setelah pemerintah mengumumkan menunda ibadah haji tahun ini. Rencana beribadah ke Tanah Suci pun harus ditunda oleh nenek tiga anak dan lima cucu ini hingga tahun depan. Itupun jika Unsiyah masih diberi kesehatan dan umur yang panjang.

Baca juga:  Dirintis saat Pandemi, Woodcraft Produksi Mahasiswa S2 Undip Tembus Pasar Malaysia

Unsiyah mengaku, saat mendaftar haji, ia harus menabung puluhan tahun bersama suaminya, Bakri. Ia sehari-hari menjadi pembuat emping melinjo. Hasil berjualan emping ditabung sedikit demi sedikit di rumahnya. Lalu pada 2011, dirinya bersama suaminya memutuskan mendaftar haji dengan menyetor uang tabungannya sebesar Rp 35 juta. Selanjutnya pada 2012 menyusul lagi membayar kekurangannya dan mendapat dua kursi haji.

“Mendaftar tahun 2011. Lajeng angsal kursi tahun 2012, sedikit demi sedikit, ngumpulkan. Nggih tabungan di rumah, terus didaftarkan naik haji. Berangkat tahun 2020 harusnya berangkat, tapi ditunda. Pripun malih, enten musibah, penyakit korona niku, hukum alam, pripun malih. Sampun ikhlas,” katanya sedikit gemetar saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang saat memilih buah melinjo di halaman rumahnya.

Baca juga:  Kemasi Kopi Asal Desanya, Usung Brand Kopi Kampoeng

Unsiyah mengaku, awalnya ia mendaftar naik haji bersama suaminya. Namun pada 2014, suaminya lebih dulu meninggal. Ia sempat meminta agar kuota milik suaminya digantikan oleh anak ketiganya, Tarno. Namun ditolak karena tidak boleh digantikan. “Uangnya dikembalikan, gak boleh digantikan oleh Tarno, anak saya. Terus saya ambil, saya tabung untuk kebutuhan lainnya. Uang sebesar Rp 25,6 juta nggih ditabung,” ujarnya kembali gemetar saat teringat suaminya.

Nenek satu cicit ini mengaku, meski keberangkatan hajinya ditunda, dirinya tidak ingin mengambil biaya pelunasan haji. Ia mengaku pasrah untuk berangkat haji tahun berikutnya. Terlebih, menurut Unsiyah, tidak hanya dirinya yang gagal berangkat, tetapi juga empat warga Dusun Jamus Pasar lainnya.

Baca juga:  Populerkan Wisata Semarang melalui Goresan Cat Air

Ia sendiri bersama keluarga besarnya belum melakukan persiapan apapun, termasuk berbelanja untuk kebutuhan pamitan haji kepada tetangga-tetangganya atau berbelanja suvenir.

“Ikhlas mawon. Mboten nopo-nopo. Dereng belanja apa-apa, dan belum pamitan. Rencana mau pamitan bersama empat warga lainnya setelah lebaran di masjid dusun. Dijadikan satu biar sekalian. Ternyata ndak jadi, mboten nopo-nopo,” imbuhnya pasrah.

Saat disinggung mengenai kesibukannya hingga menunggu berangkat haji tahun depan, Unsiyah mengaku dirinya tetap membuat emping seperti biasanya. Dan ke pasar seperti biasanya untuk menjual emping buatannya. “Nggih seperti biasa mawon, bikin emping. Terus dijual ke pasar. Nggih masalah berangkat haji, ikhlas mawon,” tutupnya sambil tersenyum. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya