alexametrics

Dulu Atlet Badminton, Pernah Alami Cedera Engkel Parah

Khofifatul Laela Fitriana, Mahasiswi USM, Atlet Anggar Jateng

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Saat ini, Khofifatul Laela Fitriana tercatat sebagai mahasiswi Universitas Semarang (USM). Dia adalah atlet anggar yang kerap membawa nama harum Jateng di sejumlah kejuaraan anggar.

M. HARIYANTO

SELAIN sebagai atlet anggar, Khofifatul Laela Fitriana juga menjadi asisten pelatih di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Semarang.

“Ya, saya jadi asisten pelatih. Melatih sembilan orang. Rata-rata mereka masih SMP dan SMA,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (2/6).

Gadis kelahiran Batang, 10 Februari 1999 ini mengaku, sebelum menjadi atlet anggar, lebih dulu mengenal olahraga bulutangkis. Bahkan hingga SMP, ia kerap diajak mengikuti kejuaraan bulutangkis di tempat kelahirannya.

“Awalnya dulu aku suka badminton, sampai kelas VII SMP. Karena dulu itu bapakku pelatih. Mungkin karena ada tekanan dari bapak sendiri, dan aku gak nyaman, akhirnya aku beralih ke anggar. Saya merasakan kok enak,” cerita Fitri –sapaan akrabnya.

Ketika beralih ke anggar, Fitri juga ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya ketika duduk di bangku SMP kelas IX. Keinginan tersebut juga semakin terdorong lantaran banyak teman-temannya yang ikut PPLP anggar.

Baca juga:  Mengenal Sosok Markus Tugiman, Mantan Atlet Balap Sepeda yang Tepaksa Jadi Tukang Rosok

“Aku ditawari PPLP anggar oleh mahasiswa Unnes. Karena melihat posturku yang tinggi akhirnya aku ikut. Tinggi badanku 165 sentimeter dan berat badan 59 sentimeter, ideal untuk seumuranku,” terangnya.

Saat mengikuti seleksi anggar di PPLP Semarang, kala itu Fitri masih duduk di bangku SMP kelas IX. “Dan ternyata lolos seleksi. Saya lalu diminta sekolah SMA di Semarang. Saya tinggal di mess Jatidiri. Semua dibiayai Disporapar,” terangnya.

Olahraga anggar tergolong keras. Namun Fitri tidak menyerah. Awalnya, setiap bermain anggar nafasnya ngos-ngosan. Olahraga ini lebih banyak menguras tenaga dibanding badminton. Menurutnya, berlatih anggar bisa dilakukan dengan lawan maupun individual.

“Latihan pertama kali terasa banget itu fisiknya. Sebab, dari badminton ke anggar beda banget. Badanku terasa capek semua, terutama di bagian kaki,” bebernya.

Setelah terjun di olahraga anggar, Fitri mulai mengikuti sejumlah kejuaraan. Kali pertama yang diikuti adalah student open di Ungaran, Kabupaten Semarang. “Itu kelas IX SMP, dapat juara II. Tahun berikutnya juara I di kejuaraan yang sama. Meski sudah sering ikut kejuaraan badminton, karena masih baru di anggar ya agak gimana, nervous,” ujarnya.

Baca juga:  Jateng Butuh Lebih Banyak Sarpras Olahraga yang Memadai

Berikutnya, ia meraih juara nasional di Kejurnas Terbuka di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2015. Saat itu, ia meraih juara 1 senjata kelas Deggen atau Eppe kelas putri. Selanjutnya di Kejurnas di Palembang, meraih medali emas dan perak. “Saat itu, saya masih SMA. Di Kejuaraan Terbuka di Kulonprogo, saya juga mendapat satu medali emas,” katanya bangga.

Tak hanya itu, ketika menginjak semester satu di USM, Fitri mengikuti kejuaraan Pra PON di kampusnya, dan mendapat dua medali perunggu. Kemudian di Kejurprov, menyapu bersih dua medali emas junior senior.

Namun prestasi tersebut harus dibayar mahal. Ia mengalami cedera saat latihan. Hingga harus menghentikan latihan selama satu bulan. Meski demikian, kedua orangtuanya terus memberi semangat.

“Cedera yang paling parah yang aku alami luka di engkel sama bahu kanan. Anggar itu kan memang banyak aktivitas di kaki. Saat kejadian, lagi gak pas aja. Itu saat latihan mau PON 2016. Kalau yang bahu saat latihan PPLP. Struktur tulang bahunya geser. Itu saat latihan kena bodi kontek. Kejadian saat masih duduk di bangkul kelas XI SMA,” terangnya.

Baca juga:  Belajar Lompat Jauh dengan Memanfaatkan Kardus Bekas

Saat ini, Fitri telah menginjak semester enam Fakultas Ekonomi S1 Manajemen USM. Ia telah menjadi asisten pelatih di PPLP Jateng sejak setahun lalu.

Ditanya kunci dalam meraih prestasi, Fitri menyebutkan selalu menjaga kedisplinan dan kejujuran.

“Kalau untuk anak-anak sekarang lebih kedisplinan, karena anak sekarang kalau tidak dioprak-oprak semangatnya akan kendor. Kemudian attitude, aku lebih seperti itu. Sekarang kan banyak media YouTube yang dijadikan bahan ajar. Kita sebagai pelatih tinggal mengarahkan dan mendidik mereka supaya akademik maju. Attitude dan kesopanan setelah lulus dari PPLP itu kan sebuah pembinaan bukan prestasi, sehingga mereka punya bekal yang sudah ditetapkan,” bebernya.

Ia berharap, banyak bermunculan bibit atlet anggar yang berpretasi di Jateng. Sehingga bisa membawa nama harum daerahnya, bahkan Indonesia.

“Harapan ke depan, anggar di Jateng semakin baik di organisasi maupun di non organisasinya, baik juga untuk kesejahteraan atletnya. Harus ada kejelasan nasib atlet anggar ke depan ada,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya