alexametrics

Istri Kadek Tengah Hamil, Wisnu sedang Membangun Rumah

Kenangan Kapten CPN I Kadek Udi Suadiarsa dan Lettu CPN Wisnu Tia Aruni, Dua Korban Jatuhnya Helikopter MI 17

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kapten CPN I Kadek Udi Suardiasa dan Lettu CPN Wisnu Tia Aruni adalah dua dari empat perwira TNI Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) yang gugur dalam tragedi jatuhnya Helikopter MI 17 di Kawasan Industri Kendal (KIK), Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Sabtu (6/6). Keluarga korban tak menyangka keduanya pergi secepat itu.

DEWI AKMALAH/ADENNYAR WYCAKSONO, Radar Semarang

KENANGAN: Kapten CPN I Kadek Udi Suardiasa bersama istrinya, Ni Wayan Arlisa Puspa Safitri, dan anak semata wayangnya. (kanan) Lettu CPN Wisnu Tia Aruni bersama istri, dr Yuanita Rahmawati, dan anaknya, Firzana.(DOKUMEN PRIBADI)
KENANGAN: Kapten CPN I Kadek Udi Suardiasa bersama istrinya, Ni Wayan Arlisa Puspa Safitri, dan anak semata wayangnya. (kanan) Lettu CPN Wisnu Tia Aruni bersama istri, dr Yuanita Rahmawati, dan anaknya, Firzana.(DOKUMEN PRIBADI)
LANGIT pada Minggu pagi (7/6) tampak mendung. Seakan mengiringi kabut duka di Jalan Dawung, Perumahan Pratama Green Residance, Kedungpane, Ngaliyan, Semarang. Ketika masuk dari gerbang utama dan berjalan lurus 100 meter, di kiri jalan tampak bendera kuning berkibar di gang kedua perumahan tentara tersebut. Ya, lokasi tersebut merupakan jalan masuk menuju rumah mendiang Kapten CPN I Kadek Udi Suardiasa.

Ketika masuk gang tersebut kita akan disambut dengan banyak mobil berpelat hijau tua milik TNI AD dan kendaraan bermotor berjajar. Begitu pula karangan bunga duka cita di pinggir jalan masuk. Termasuk dari Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Mochamad Effendi. Banyak pula pelayat dari warga sekitar maupun rekan tentara dan istri mereka yang turut hadir. Mereka tetap menerapkan protokol kesehatan, dengan mengenakan masker.

Peti jenazah Kapten Kadek -sapaan akrab mendiang- tampak bersemayam dengan tenang di teras rumah duka. Tertutup kain merah putih, di depannya terdapat sesaji dan dupa yang dibakar khas persemayaman agama Hindu. Di sampingnya duduk sang istri Ni Wayan Arlisa Puspa Safitri yang berpakaian serba hitam tampak tabah mendampingi jenazah sang suami. Raut sedih pun tak terelakkan. Namun setidaknya ia lebih tegar dan sabar menghadapi kenyataan.

Lisa – sapaan akrabnya- mengaku sangat terkejut ketika mendengar kabar sang suami menjadi salah satu korban dari peristiwa jatuhnya helikopter M1 17 di Kendal. Ia tidak menyangka Kapten Kadek yang masih memeluk dan menciumnya saat tidur pada Jumat malam (5/6) justru meninggalkannya terlebih dahulu. Ia pun mengaku memang memiliki firasat akan ada sesuatu yang menimpa suaminya. Tapi tidak mengira justru kematianlah yang menghampiri pria yang dinikahinya delapan tahun lalu itu.

“Memang sempat tidak enak mengantarkan suami berangkat bekerja. Namun semua pikiran buruk saya tepis. Saya anggap ya sudah paling tidak terjadi apa-apa,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat bercerita, air mata Lisa langsung menetes dari kelopak matanya. Ia membayangkan sang putri dan calon anak keduanya akan kehilangan sosok figur ayah untuk selama-lamanya. Ya, saat ini Lisa memang tengah hamil satu bulan. Ia sempat merasa tidak sanggup melanjutkan hidup tanpa sang suami. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Ia segera sadar. Sebagai istri prajurit, ia harus kuat dan tabah. Sebab sebelum menikah pun ia telah mengetahui risiko apa yang akan dihadapi sang suami dalam bekerja. Termasuk, kematian akan terjadi sewaktu-waktu saat bertugas.

“Sedih pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Saya yang telah disumpah sebagai istri prajurit harus siap apapun konsekuensi yang akan dihadapi. Termasuk jika suami meninggal dalam bertugas,” ujarnya dengan menahan air mata.

Baca juga:  Peninggalan Belanda, Pertahankan Keaslian Bangunan

Di mata sang istri, Kapten Kadek merupakan sosok yang baik dan bertanggung jawab. Tidak hanya kepada keluarga. Namun juga pada pekerjaan dan lingkungan sekitarnya. Pria kelahiran Buleleng Bali, 18 Juni 1987 itu tidak pernah menolak dan mengeluh atas semua perintah dari atasan. Ia selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas. Ia mengabdikan diri sepenuh hati untuk negara.

Di perumahan itu, ia sering bersosialisasi dengan tetangga. Kadek juga aktif dalam kegiatan kerja bakti warga jika sedang berada di rumah. “Begitu pula pada keluarga. Dia suami yang family oriented. Bertanggung jawab dan sayang sekali, terutama pada putrinya. Makanya saat meninggal, anaklah yang paling merasa terpukul,” katanya.

Setelah kepergian sang suami, ia mengaku akan ada banyak hal yang akan ia rindukan. Terutama pesan manis dari mendiang Kapten Kadek. Lisa mengakui lebih sering berkomunikasi lewat WhatsApp dibanding bertemu langsung. Sebab, suaminya sering mendapat tugas luar kota. Meskipun begitu keharmonisan rumah tangga mereka tetap terjaga.

“Rutinitas sebelum kerja juga tak pernah saya lupakan. Saya selalu menyiapkan perlengkapan beliau, dan sebagai balasannya beliau memeluk dan mencium saya dan anak sebelum pergi kerja. Itu yang mungkin akan saya rindukan nanti,” kenangnya.
Ia melanjutkan, untuk proses pemakaman sang suami sendiri akan dilakukan di Bali sesuai dengan permintaan keluarga. Di sana jenazah akan menjalani prosesi ngaben sesuai dengan tradisi Hindu Bali. Namun ia mengaku tidak dapat mendampingi. Karena masih hamil muda dan tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Ia hanya dapat mengantarkan sampai ke Lanud Ahmad Yani. Di sana sang suami mendapat penghormatan terakhir.

“Sedih pasti tidak bisa ikut ke Bali. Tapi tidak apa-apa. Saya sudah ikhlas. Yang penting jenazah sudah ada di rumah, sehingga saya dan anak tetap bisa lihat yang terakhir kalinya. Nanti ayah saya yang mewakilkan sampai ke Bali,” katanya.

Ia berharap selepas kepergian sang suami, ia masih sanggup untuk menjadi ibu yang kuat demi sang putri dan calon anaknya. Ia ingin melanjutkan hidup dan mewujudkan mimpi Kapten Kadek. Mendiang ingin mengantarkan buah hatinya menjadi manusia yang baik dan sukses. Ia meminta semua orang yang mengenal Kapten Kadek dapat memaafkan semua kesalahan yang telah dibuat almarhum. Dan memberikan doa terbaik. Agar dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

“Saya hanya dapat berdoa suami akan tenang di sana. Dan saya dapat diberikan kekuatan untuk membesarkan calon anak saya dan putri saya. Sampai mereka dewasa dan sukses. Sehingga di sana, suami akan bangga melihat mereka,” harapnya.

Saat ini, Kapten Kadek juga tercatat sebagai mahasiswa S-2 FISIP Untag Semarang. Menurut Indra Kertati Gunarto, salah satu temannya kuliahnya, Kadek adalah mahasiswa yang rajin kuliah dan memberi respon cepat.

Baca juga:  Wajib Makan Olahan Ikan, dan Sayuran Hijau Tujuh Rupa

“Tanggal 2 Juni 2020, saya berada dalam satu ruang tunggu selama kurang lebih 3 jam dengan dia untuk keperluan yang sama, yaitu menghadap rektor. Dia konsultasi proposal tesis, saya keperluan persiapan webinar. Di situ dia banyak bercerita dengan semua aktivitasnya. Terbang lebih dari 3.000, mengelilingi Indonesia, suka duka menjadi instruktur, dan membagi waktu kuliah dan kerja,” cerita Indra seperti ditulis di laman Facebook-nya.

Dikatakan, Senin (8/6) hari, rencananya Kadek akan ujian proposal, dan pada 13 Juni 2020, Kadek akan menjadi salah satu narasumber dalam webinar series mahasiswa yang diselenggarakan sebagai tugas akhir mahasiswa S-2 yang mengambil mata kuliah Managemen Pelayanan Publik.

“Saya sungguh sangat kehilangan. Air mata saya terus berlinang mengenang mahasiswa yang santun, rajin, dan baik hati ini. Tuhan memilihmu karena kau sangat baik. Kau gugur dalam mempimpin menjalankan tugas memintarkan generasi muda. Selamat jalan mahasiswa terbaikku, anak dan istrimu bangga melewati perjalanan hidup bersamamu. Saya juga bangga pernah menjadi bagian hidupmu menjalani hari-hari di ruang kuliah maupun kuliah virtual. Tempat terbaik di sisi Tuhan yang penuh cinta telah siap untukmu,” katanya.

Suasana duka juga tampak di rumah duka Lettu CPN Wisnu Tia Aruni. Kepergian pria kelahiran 18 Februari 1992 keluarga besarnya merasa kehilangan. Terutama sang istri, dr Yuanita Rahmawati dan anak semata wayangnya Firzana yang masih berusia empat bulan. Wisnu menikah dengan Yuanita pada 6 April 2019. Wisnu tinggal di RT 4 RW 12 Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan. Di rumah sederhana di tengah permukiman padat penduduk ini, ia tinggal bersama ibu tercinta dan adiknya bernama Pandu.

Menurut informasi yang dihimpun dari tetangga Wisnu, almarhum dikenal sebagai pria yang sederhana dan ramah. “Sosoknya ramah Mas, sederhana juga,” kata Wahyudi, salah satu tetangga yang kebetulan melintas di depan rumah duka.

Saat koran ini tiba, jenazah Wisnu telah dibawa ke Markas Penerbad Ahmad Yani Semarang untuk dilakukan upacara penghormatan sekitar pukul 09.00. Setelah dilakukan upacara dan penghormatan terakhir, almarhum langsung dimakamkan di TPU Bergota II di Kembangarun

“Tadi setelah disemayamkan, almarhum dibawa ke Penerbad kemudian langsung dimakamkan,” kata Plt Lurah Tambakaji, Agus.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di rumah duka, tampak belasan karangan bunga dari teman sejawat, termasuk dari Pangdam IV/Diponegoro.

Kerabat almarhum, Susi, menjelaskan, jika jenazah Wisnu tiba di rumah duka Minggu (7/6) sekitar 02.00 dini hari. Setelah disemayamkan di rumah duka, kemudian dibawa ke Penerbad. “Tadi dibawa ke Penerbad, kemudian dimakamkan. Semua keluarga ke sana, ibu, istri dan adiknya,” ujar Susi.

Wanita yang mengaku sebagai tante dari Wisnu ini menjelaskan, terakhir bertemu dengan keponakannya pada Lebaran tahun lalu. Saat itu, Wisnu baru saja menikah dengan Yuanita atau yang akrab disapa Anita.

Baca juga:  Kesaksian Penumpang Bus Terguling Demak: Sedang Sarapan, Tiba-tiba Terpelanting

“Firasat sih nggak ada, keponakan saya ini orangnya sabar, temen juga (bertanggungjawab,Red) dna pendiam,” kenangnya.

Susi menuturkan, mengetahui kepergian almarhum melalui media sosial Instagram, dan pemberitaan pasca jatuhnya helikopter. Dari situlah ia mengetahui jika salah satu korban meninggal adalah Wisnu.

“Saya tanya ke Pandu (adiknya, Red) ternyata benar. Jujur saya shock dan kemudian memutuskan untuk pergi ke Semarang,” jelasnya.

Dengan raut muka yang terlihat sedih, Susi menjelaskan jika almarhum baru saja memiliki buah hati berusia empat bulan. Yuanita, istrinya, berprofesi sebagai dokter di sebuah klinik.

“Ibunda almarhum paling terpukul, adiknya juga nangis-nangis. Apalagi ayah Wisnu sudah meninggal, adiknya Pandu itu masih kuliah di pelayaran,” ujarnya.

Meski kehilangan, Susi mewakili keluarga mengaku legawa dan ikhlas atas kepergian Wisnu.

Sementara itu, di rumah Indriastuti , mertua Wisnu yang terletak di Jalan Gatot Subroto No 22 RT2 RW 6 Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, tampak lebih ramai pelayat dibandingkan di rumah duka. Wisnu, merupakan menantu dari Indriastuti yang merupakan Lurah Kalipancur.

Puluhan karangan bunga dari Pemkot Semarang, anggota DPRD Kota Semarang dan rekan sejawat Wisnu ataupun Yuanita terus berdatangan sebagai wujud ucapan belasungkawa. Rekan lurah dan camat tampak hadir untuk memberikan ucapan belasungkawa.
Mualim, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang terlihat melayat. Juga anggota DPRD lainnya, seperti Wiwin Sudibyo. “Setelah menikah, Wisnu sering tinggal di sini, kalau ke Tambakaji biasanya saat weekend,”terang Indriastuti.

Ia menjelaskan, terakhir bertemu dengan menantunya pada Rabu (3/6) lalu. “Firasat tidak ada ya, tapi akhir-akhir ini sebelum meninggal sikapnya beda,”ujarnya.

Menurut Indriastuti, Wisnu cenderung lebih pendiam. Padahal di matanya, menantunya itu suka bercanda dan selalu bersemangat. “Akhir-akhir ini ngeluh capek, nyeleneh juga, sering lupa dan linglung. Pokoknya beda kayak biasanya,”ceritanya sedih.

Ia menyebut kebiasaan almarhum yang paling diingat adalah sangat rajin menjaga kesehatan dengan olahraga. Wisnu, kata dia, gemar suka berolahraga mulai dari voli, lari dan olahraga lainnya. “Almarhum juga dikenal pendiam kalau tidak ditanya tidak mau ngomong, namun dari sifat pendiamnya itu dia merupakan sosok menantu yang baiknya luar biasa,” tandasnya.

Ia tidak menyangka menantu kesayangan yang menikah dengan putri semata wayangnya akan pergi begitu cepat. Apalagi kepergian Wisnu saat ia sedang bertugas menempuh pendidikan lanjutan yang rencananya selama 18 bulan. “Baru dijalani enam bulan, ia meninggal saat bertugas. Sebelum selesai dia sudah lulus pendidikan,”kenangnya.

Belum lama ini, lanjut dia, Wisnu dan Yuanita tengah membangun sebuah rumah di daerah Candi Penataran, Pasadena, Semarang, tak jauh dari kediamannya. Sayangnya, rencana pasangan ini harus diurungkan seiring kepergian Wisnu. “Mungkin nanti disewakan, apalagi Anita (istri Wisnu) anak tunggal dan punya bayi. Biar tinggal sama saya,”ucapnya sedih. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya