Berdayakan Petani Kopi Lokal, Ada Pelanggan dari Tiongkok

Luthfi Adi, Rintis Kedai Kopi Unik di Tengah Perkampungan

310
KEDAI TENGAH KAMPUNG:Luthfi Adi saat melakukan proses manual brewing untuk menyajikan kopi di kedainya. (NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEDAI TENGAH KAMPUNG:Luthfi Adi saat melakukan proses manual brewing untuk menyajikan kopi di kedainya. (NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Bangunannya tampak sederhana. Sekilas hampir menyerupai warung angkringan biasa. Letaknya menyelinap di tengah perkampungan. Namun siapa sangka jika kedai kopi yang terletak di Jalan Indragiri, Kota Pekalongan itu mampu mendatangkan konsumen dari luar negeri.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Pekalongan, Radar Semarang

Kedai tersebut bernama Welling Kopi. Adalah Luthfi Adi, pria asal Kota Pekalongan yang sukses mendirikan kedai kopi nyentrik itu. Bukan sekadar kedai kopi biasa. Meski letaknya berada di dalam perkampungan, Welling Kopi terkenal unik dan nyentrik karena menyajikan kopi-kopi tradisional yang diseduh dengan menggunakan mesin kopi profesional.

Mesin kopi profesional tersebut, di antaranya sixty, manual brew, hingga french press. Adapun seluruh prosesnya ia lakukan sendiri. Dari mulai proses racik, roasting hingga packaging.

Meski menggunakan mesin profesional, Luthfi mengunggulkan kopi-kopi klasik tradisional.

Luthfi mengaku, ia menggunakan kopi-kopi tradisional karena ingin memberdayakan produk dari petani lokal. Salah satunya adalah kopi dari petani lokal Jolotigo, Talun.

“Ingin bisa membantu para petani tradisional saja. Selain itu, juga ingin menyebarluaskan minuman-minuman tradisional ke masyarakat,” ungkap pria berusia 31 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain kopi-kopi klasik, Luthfi juga menyediakan wedang tradisional seperti wedang uwuh, jahe sere, kapulaga, cengkeh, kayu manis, kayu secang. Varian inilah yang kemudian menarik perhatian pelanggan dari Tiongkok. Pelanggan dari Tiongkok tersebut selalu menyambangi Welling Kopi dikarenakan Luthfi mampu menyajikan kopi dan wedang yang aman untuk kesehatan lambungnya.

Berdirinya kedai kopi yang kini banyak digandrungi masyarakat Pekalongan ini tak serta merta tanpa perjuangan panjang. Luthfi sedikit bercerita bahwa semula ia menjajakan kopi melalui gerobak kecil di pinggir Jalan Jetayu, Kota Pekalongan. Kala itu, kopi yang ia gunakan pun masih kopi renteng.

Tak hanya itu, Luthfi juga rela meninggalkan profesi lamanya sebagai marketing sebuah perusahaan untuk menekuni dunia kopi. Tak tanggung-tanggung, Luthfi belajar mengenai kopi hingga ke Klinik Kopi di Jogjakarta.

Alasannya saat itu sederhana. Ia hanya ingin menggeluti apa yang ia suka. Berawal dari kecanduannya terhadap kopi hingga kemudian ia menyadari bahwa kopi lambat laun menjadi pelengkap di dalam hidupnya.

Lewat segala pengorbanan dan perjuangannya, Welling Kopi kini tak hanya jadi kedai kopi biasa. Tempat bercahaya redup itu juga menjelma menjadi tempat diskusi tentang budaya dan peradaban.

“Saya ingin menciptakan tempat yang nyaman untuk banyak orang. Orang-orang juga tak perlu merogoh kocek yang dalam untuk bisa menyeduh kopi dan berdiskusi,” katanya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan