Kuncinya Warga Guyub Rukun dan Sadar Lingkungan

Berdamai dengan Rob, Warga Padukuhankranton, Pekalongan Hijaukan Kampung

402
KAMPUNG HIJAU: Muhammad Falakhudin Azizi sedang merawat tanaman di kampungnya yang kerap direndam rob. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KAMPUNG HIJAU: Muhammad Falakhudin Azizi sedang merawat tanaman di kampungnya yang kerap direndam rob. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Sejumlah wilayah di Kota Pekalongan langganan direndam rob. Tak sedikit wilayah yang menjadi kumuh oleh genangan rob. Namun warga di RT 2 RW 16 Kelurahan Padukuhankranton, Pekalongan Utara mencoba bangkit dengan menghijaukan kampung.

RIYAN FADLI, Jawa Pos Radar Semarang

MASUK lingkungan RT 2 RW 16 Kelurahan Padukuhankraton, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan tampak lebih tertata. Lingkungannya hijau. Penuh tanaman yang membuat udara menjadi lebih sejak. Berbeda dengan wilayah lain yang sama-sama terendam rob. Wilayah ini dulunya masuk Kelurahan Pabean. Namun setelah dilakukan pemekaran wilayah, kampung yang dipimpin Ketua RT Muhammad Falakhudin Azizi ini masuk Kelurahan Padukuhankraton.

Saat memasuki wilayah RT tersebut, pandangan mata akan dimanjakan tanaman-tanaman dan pagar jalan warna-warni. Sepanjang jalan di lokasi tersebut telah terpaving rapi. Walaupun genangan rob terlihat di beberapa sudut halaman rumah warga, air berwarna hijau kecoklatan itu tersamarkan dengan kerapian tempat tersebut.

“Pertama kena rob ya kaget, warga mikirnya dulu air naik, bisa turun lagi. Tapi dari tahun ke tahun malah tambah tinggi, air tidak surut. Area persawahan jadi seperti tambak,” ujar Falakhudin kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sekarang sampah juga jarang terlihat di lokasi tersebut. Warga punya kesadaran tinggi merawat lingkungannya. Warga juga menanam sayuran, tanaman hias, juga buah di halaman rumah. Adanya banyak tanaman di depan rumah merupakan inisiatif warga sendiri. Tanaman tidak asal-asalan ditanam agar terlihat rapi dan indah. Bahkan ia menyebutkan lokasi tersebut layak dijadikan tempat wisata.

Warga sadar bencana tersebut tidak bisa surut sejak dua tahun setelah pertama kali air rob naik. Warga berusaha sekeras mungkin meninggikan permukaan tanah. Mereka bekerja bakti. Berkat kesadaran warga, mereka bisa berdamai dengan situasi tersebut.

Mereka ingin hidup normal di tengah banjir rob. Menciptakan kampung yang nyaman. Warga bekerja bakti mengurug tanah setiap malam. Satu Minggu kerja bakti tersebut dilakukan tiga kali. Anggaran yang didapatkan dimanfaatkan semaksimal mungkin agar lingkungan nyaman. Warga di sana mayoritas pekerja buruh.

“Tanaman-tanaman yang ada sekarang mulai ditanam sekitar dua tahun lalu. Dulu juga pernah ditanami, namun tidak ada perawatan. Sekarang yang paling diutamakan adalah perawatan,” imbuh pria 26 tahun ini.

Wilayah RT ini dihuni sekitar 90 kepala keluarga. Kunci keberhasilan mereka hidup di tengah bencana rob adalah gotong royong. Warga mampu guyub rukun bekerja bakti.

Falakhudin menjelaskan, seharusnya wilayahnya telah dimekarkan jadi dua hingga tiga RT. Namun warga kompak tidak menyetujuinya. Mereka terus menjaga kekompakan dan kebersamaan memelihara lingkungan.

Mereka telah berdamai dan menciptakan suasana damai. Tidak ada kesan kumuh seperti lokasi lain yang mengalami bencana serupa. Selain itu ketahanan pangan mereka juga terjamin akan banyaknya ikan nila di bekas persawahan. Mereka tinggal mengambilnya dengan berbagai cara, seperti menjaring, memancing dan lainnya. Entah ikan tersebut datang dari mana, yang jelas ikan-ikan tersebut telah beradaptasi dengan lingkungannya.

“Sekarang warga tidak ada yang mengeluh terkena rob. Genangan tertinggi sekarang sedengkul, kalau di jalan semata kaki,” tutur ketua RT yang masih lajang tersebut.

Di sudut gang, pemandangan indah juga terlihat. Jalan paving jadi tembok penghadang air dari sawah yang telah menjadi seperti danau. Sekarang kerja bakti dilakukan sebulan sekali, membersihkan selokan. Tidak semuanya dibersihkan, namun bertahap.

“Pingin kampungnya menjadi lebih baik dari dulu, ingin merawat yang ada, tidak ditinggalkan begitu saja. Kebanyakan di kampung-kampung lain tidak ada perawatan tapi pembangunan gencar. Dapat bantuan, tapi tidak sadar akan perawatan,” katanya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan