Tidak Pelit Ilmu Kunci Besarkan Usaha

Puput Setyoko, Petani Jamur Sukses di Magelang

458
BUDIDAYA JAMUR: Puput Setyoko sedang mengecek jamur yang tumbuh di baglog. (PUPUT PUSPITASARI/ RADAR SEMARANG)
BUDIDAYA JAMUR: Puput Setyoko sedang mengecek jamur yang tumbuh di baglog. (PUPUT PUSPITASARI/ RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Setelah berhenti kerja dari perusahaan pertambangan di Kalimantan, Puput Setyoko banting setir menjadi petani jamur. Ia belajar budibudaya jamur secara otodidak.

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

Di sebuah pendopo bergaya joglo, aktivitas pembuatan keripik terlihat sibuk. Namun udara tidak begitu gerah. Pohon-pohon berdaun rimbun yang tertiup angin, seolah mengipasi sekitar rumah Puput Setyoko. Menjadikannya udara sejuk. Memang, produk keripik aneka jamur merupukan hilir dari usaha budidaya jamur miliknya. Produknya ini dipasarkan ke toko oleh-oleh di Magelang dan sekitarnya. Ada pula yang disajikan gratis bagi tamu-tamu yang berkunjung untuk sekadar mencicipi. Krezz–begitu bunyi keripik jamur ketika digigit. Tiap kunyahan, terasa sensasi gurih keripik buatan ”Jamur Borobudur”.

Puput–sapaan Puput Setyoko. Bisa dibilang Puput adalah pengusaha jamur yang sukses di Magelang. Ia kerap diundang menjadi pembicara pelatihan. Karena itu, namanya terdengar sampai ke telingga Sandiaga Salahuddin Uno. Ia didatangi pada November 2018 lalu. Saat itu, Sandi sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) RI nomor urut 02.

Pria kelahiran Magelang, 22 Juli 1991 itu bercerita awal mula merintis usaha ini pada 2013 lalu. Saat itu, modalnya pas-pasan. Satu tahun usaha ini berjalan, ia mengaku merugi. Ia sadar bahwa proses yang dilewati ada yang salah. Lantas dijadikan pembelajaran. Usaha terus dia kembangkan.

Dia memang tidak miliki keterampilan budidaya jamur. Karena mengenyam pendidikan SMK jurusan teknik mesin. Semua dipelajari dengan singkat usai memilih berhenti kerja dari perusahaan pertambangan di Kalimantan.

“Saya bingung mau kerja apa, karena di sini jarang ada penyewaan alat berat,” akunya.

Muncul pikiran akan usaha budidaya jamur. Saat itu, harga jamur cukup mahal. Satu bungkus kemasan 1/4 kilogram seharga Rp 4.000-Rp 5.000. Ia penyuka jamur. “Setelah itu, saya ingin usaha jamur,” ceritanya.

Ia mengawali membeli sambil membuat media jamur, baglog di Windusari, Kabupaten Magelang. Ia memohon izin untuk membuat baglog sendiri yang ia beli. Lama-lama ia mulai mengetahui prosesnya.

Setidaknya, 500 baglog dijadikan modal awal merintis usaha budidaya jamur. Dari jumlah ini, baru bisa menghasilkan 1,5 kuintal jamur dalam kurun waktu 3 bulan. Hasilnya belum menggembirakan. Bisa dikatakan merugi. Tapi, namanya membangun usaha, ia sadar konsekuensinya. Malahan membuat dia makin getol menimba ilmu.

“Pembuatan tahun pertama banyak ruginya, karena masih tahap belajar. Prosesnya pasti ada yang salah,” akunya.

Sekitar dua tahun, ia mengandalkan dari penjualan jamur saja. Memasuki tahun kedua usaha ini, ia mulai percaya diri memproduksi baglog untuk dipasarkan. Ia jual Rp 2.000 per baglog. Dari pesanan yang jumlahnya ribuan, manambah omzet usahanya.

“Targetnya, bisa membuat 500 baglog per hari,” ucapnya.

Bahan-bahan yang dibutuhkan cukup mudah, seperti serbuk kayu, bekatul, dan kapur. Komposisi 100:10:1. Kemudian bahan itu dicampur bersama air bersih dengan kadar sekitar 60-70 persen.

Bahan ini lalu dimasukkan ke dalam plastik dan dipres menggunakan alat mesin. Dipasang pula cincin dan tutup, berguna agar uap air saat proses sterilisasi tidak masuk ke dalam baglog.

Jika telah siap, baglog itu kemudian disterilisasi di dalam bunker dengan cara dikukus selama 10-11 jam. Suhunya 100 derajat celsius.

“Proses ini untuk mematikannya jamur liar, dan senyawa-senyawa yang ada di dalam baglog,” jelas warga Jowahan RT 02 RW 05, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Tahap ke empat masuk inokulasi atau penanaman benih f2 jamur. Kemudian proses inkubasi, di mana penumbuhan miselium sebelum dipindah ke kumbung.

Di kumbung, baglog ditata pada rak-rak dan menunggu jamur-jamur itu tumbuh dan berkembang, sampai dipanen. Di sini, suasana cukup gelap. Serta kelembabannya terjaga.

Puput memiliki hasil panen jamur yang melimpah. Petani jamur juga mulai banyak. Puput pun berinovasi membuat aneka keripik jamur, agar jamur-jamur itu tetap terjual. “Mulai dibuat keripik sekitar tahun 2016.”

Beruntung pada waktu bersamaan ada pelatihan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari kementerian. Ia mendapatkan pendampingan sampai membuat keripik yang lezat. Termasuk urusan izin PIRT dan sebagainya.

Sejak itu, rumah produksi Jamur Borobudur mulai ramai. Banyak wisatawan yang datang untuk melihat proses pembuatan baglog, budidaya jamur sampai produksi keripik. Karena tidak pelit ilmu, ia justru mendapat pasar yang lebih luas.

Tapi di tengah pendemi Covid-19 ini, praktis tidak ada kunjungan wisatawan dari rombongan perjalanan wisata VW dan andong. Ia mengalami penurunan omzet. Untuk menggaji lima karyawannya, ia memilih bertahan untuk fokus membuat baglog dan menjual jamur mentah. Jamur yang dikembangkan untuk dijual, di antaranya jamur tiram, jamur kuping dan jamur cokelat. (*/aro)





Tinggalkan Balasan