Obati Kangen Keluarga, Komunikasi lewat Zoom

Mengikuti Perayaan Hari Lansia di Tengah Pandemi Covid-19

305

RADARSEMARANG.ID – Sederhana. Itulah yang tergambar dari perayaan Hari Lansia Nasional di Panti Wreda Pelkris, Semarang. Meski berbeda dari tahun lalu, rasa kangen untuk menyapa keluarga tetap tersalurkan. Para lansia duduk di kursi roda di aula panti. Pihak panti menyiapkan laptop serta aplikasi Zoom untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga. Ada juga kue ulang tahun. Dipotong lalu dinikmati bersama.

“Tahun lalu, Opa dan Oma biasanya dikunjungi keluarganya. Sekarang sementara hanya bisa lewat aplikasi Zoom,”ungkap Slamet Basuki, Pengurus Panti Wreda Pelkris kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski hanya lewat Zoom, mereka sangat menikmati. Bisa bertegur sapa, menyapa anak-anak kesayangannya. Perayaan tahun lalu, dikatakannya lebih ramai. Pengurus panti biasanya mengadakan lomba.

“Jadi, ada lomba mewarnai, dan semacam kegiatan berbelanja di pasar. Ruangan panti diubah layaknya seperti pasar. Nanti mereka berbelanja kebutuhan dengan memakai kupon,”imbuh Slamet.

Agar tetap gembira, pengurus panti dan relawan tetap memberikan vitamin. Terlebih dengan keadaan seperti ini, kesehatan mereka adalah yang utama. Wajib memakai masker dan hand sanitizer. “Karena sudah dua bulan lebih mereka tidak menerima kunjungan dari luar. Biar tetap sehat dan imunitas mereka terjaga. Kami beri semangat, karena umur mereka sudah di atas 60 tahun semua,”kata Slamet.

Ia mengaku, kebutuhan panti mereka dapatkan dari sumbangan relawan dan masyarakat. Mereka secara sukarela menyisihkan rezeki untuk membantu panti. “Lansia di sini rata-rata dari Kota Semarang. Dari luar kota itu, ada dari Kebumen, Kudus, dan Pekalongan,”jelasnya.

Panti Wreda bisa menampung kurang lebih 57 lansia. Saat ini, terdapat 42 lansia yang menempati panti. Karena pandemi, pihak panti mengaku belum bisa menerima lagi anggota lansia baru. “Karena lansia itu sangat rentan terkena penyakit. Kami putuskan tidak menerima dahulu Oma dan Opa yang lain,”terangnya.

Dengan dibantu perawat sebanyak 17 orang, pihaknya mengaku tidak kerepotan merawat mereka. Sistem jadwal jaga pada pagi dan malam hari. Para lansia sudah terbiasa menghabiskan waktu di kamar masing-masing.

“Kamar mereka macam-macam ukurannya. Ada yang 3×4, 4×5, 5×5, 5×7 bahkan ada yang VIP dengan satu orang satu kamar. Ada yang sekamar bertiga dan sekamar ada yang berdua juga,”jelas Slamet.

Ia mengakui selama pandemi Covid-19 berdampak pada pemasukan dalam memenuhi kebutuhan bagi penghuni panti wreda. “Untuk memenuhi kebutuhan terutama keuangan kita . Banyak kamar-kamar kosong karena selama Covid-19 ini kami tidak menerima klien, sehingga pemasukan kami juga berkurang. Sementara kami juga menghidupi karyawan, Oma-Opa kami tidak mungkin merumahkan mereka. Karena kami di sini tetap butuh perawat,” katanya. “Terus terang kami minus untuk pendapatan. Kalau per untuk satu orang per bulannya butuh Rp 600-700 ribu,” tambahnya.

Momen Hari Lansia Nasional adalah wujud pengharapan. Bahwa lansia memiliki hak untuk bermasyarakat. Di panti, mereka beristirahat sembari menikmati hari tuanya. “Saat ini, kami fokus untuk merawat mereka. Agar tidak terpapar virus Covid-19,”katanya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan