Tak Hanya Pandai Mengajar di Kelas, Tapi juga di Pengungsian

Lebih Dekat dengan Komunitas Guru Belajar Pekalongan

357
MERDEKA BELAJAR : Komunitas Guru Belajar (KGB) saat mensosialisasikan gerakan merdeka belajar di sekolah Al Azhar Pekalongan. (DOKUMEN PRIBADI)
MERDEKA BELAJAR : Komunitas Guru Belajar (KGB) saat mensosialisasikan gerakan merdeka belajar di sekolah Al Azhar Pekalongan. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Berdiri pada 26 April 2016, Komunitas Guru Belajar (KGB) Pekalongan hingga kini terus konsisten memfasilitasi para guru, murid, serta orang tua guna mewujudkan pendidikan merdeka belajar serta saling memanusiakan dalam hubungan pembelajaran.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Radar Semarang

KGB pada mulanya dipelopori oleh dua guru asal Pekalongan, Rizky Rahmat Hani dan Rudi. Kala itu, keduanya mengikuti Temu Pendidik Nusantara yang diselenggarakan oleh Sekolah Cikal Jakarta. Setelahnya, Rizky merasa bahwa ilmu yang didapat dari Temu Pendidik Nusantara perlu dibagi kepada guru-guru di Pekalongan.

Kini, setelah empat tahun berdiri, Rizky membuktikan bahwa KGB dapat konsisten mengedukasi guru, murid, serta masyarakat luas untuk bersama-sama memperbaiki kualitas pendidikan di Pekalongan. Hal tersebut terbukti dari adanya diskusi-diskusi yang rutin dilakukan setiap bulan.

Salah satu kegiatan dari KGB adalah temu pendidik. Tak hanya dilakukan secara langsung, temu pendidik juga memfasilitasi para guru yang berada di luar jangkauan melalui online. Dalam diskusi ini, para anggota KGB akan membicarakan tentang permasalahan pendidikan yang dihadapi guru, murid, serta orang tua.

Selain berdiskusi, melalui platform Youtube, Instagram, dan Facebook, KGB juga memberikan kesempatan pada masyarakat umum untuk bisa melakukan praktik mengajar secara live.
Siti Kurnia Khasanah, salah seorang penggerak KGB mengungkapkan bahwa sejatinya KGB tak hanya berkutat pada kegiatan-kegiatan diskusi antarguru. Lebih dari pada itu, KGB juga memiliki program trauma healing. Yakni sebuah program penyembuhan trauma anak-anak korban bencana alam.

“Program ini untuk menunjukkan kalau guru tidak hanya mengajar di kelas. Tapi juga bisa mengajar di pengungsian,” ungkap Kurnia kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (28/5).
Di samping itu, tak jarang pula KGB menggalang donasi untuk pengadaan buku atau keperluan pendidikan. Seperti yang belum lama ini dilaksanakan yakni menggalang dana melalui media sosial untuk pengadaan 200 board games bagi anak-anak di daerah yang kesulitan mendapat akses pembelajaran.

Adapun Kurnia yang juga merupakan seorang guru di SMP ini juga berharap semoga dengan adanya KGB, guru-guru mau tergerak untuk saling berbagi praktik. Tak hanya itu, lewat KGB ia juga ingin supaya banyak tercipta kolaborasi yang baik antara guru, siswa, orang tua, pemerintah, serta masyarakat untuk mewujudkan pendidikan yang merdeka dan saling memanusiakan dalam hubungan pembelajaran.

“Semoga makin banyak kesadaran yang timbul untuk senantiasa mengedepankan pendidikan. Serta makin banyak lagi orang-orang yang bisa menghargai dan memanusiakan orang lain dalam proses pembelajaran,” tutupnya. (*/ida)





Tinggalkan Balasan