alexametrics

Berusia Seabad, Pernah untuk Syuting Mak Lampir

Gedong Kuning, Bangunan Era Kolonial yang Terbengkalai

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kondisi memprihatinkan. Atap mulai terbuka, dinding berjamur, Gedong Kuning telah mangkrak puluhan tahun lamanya. Gedong peninggalan Belanda tersebut pernah dijadikan lokasi syuting Misteri Gunung Merapi. Seperti apa?

Maria Novena, Ungaran, Jawa Pos Radar Semarang

Kabupaten Semarang secara geografis memang memiliki beberapa titik yang pernah disambangi oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa lalu. Tidak heran banyak bangunan bersejarah yang berusia puluhan tahun bahkan lebih dari seabad.

Salah satunya Gedong Kuning di Jalan Gatot Subroto, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Sayangnya kondisi bangunan sangat memprihatinkan. Bagian atap bangunan gedung ini roboh atau rusak.

Kerusakan ini sudah dibiarkan sejak lama. Bangunan yang telah berusia 100 tahun tersebut memiliki dua lantai. Seluruh catnya didominasi warna kuning. Sampai saat ini cat warna kuning masih meskipun banyak pula sudah tertutup lumut. Di setiap sudut dilengkapi dengan motif kepala singa seakan memperlihatkan bangunan elit pada masanya. Sedangkan di dinding atas ada tulisan 1916-ENDE_DESESPEREERT_NIMMER_1919 menempel di bagian selatan yang terbuat dari keramik.

Baca juga:  Film Alang-Alang Angkat Ikon Pekalongan

Salah satu warga RT 01 RW 04 Kebonpolo, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Timur, Marzuki sudah 40 tahun tinggal di area Gedong Kuning. Menurutnya, bangunan tersebut dahulu digunakan sebagai kantor militer. Dan saat tahun 2000an bangunan tersebut pun pernah digunakan untuk syuting film Misteri Gunung Lampir. Tokoh Mak Lampir diperankan oleh Farida Pasha.

Marzuki yang menyaksikan proses syuting film tersebut mengungkapkan, kondisi bangunan kala itu tidak seperti sekarang. “Masih bagus bangunannya,” tutur pria yang sudah menempati bangunan tersebut sejak 1983.

Ia juga menceritakan ada tiga balkon di Gedong Kuning, menghadap ke timur, selatan dan utara.Tiga balkon tersebut konon digunakan untuk memandang suasana alam di sebelah timur yakni Bukit Cemoro Sewu. Kemudian, di sisi selatan bisa untuk melihat keindahan Gunung Ungaran. Sedangkan balkon di sebelah utara bisa melihat keindahan Kota Semarang. Selain itu, dari balkon tersebut terlihat hamparan kebun pala yang berada di sekitar Gedong Kuning kala itu. Sekitaran bangunan juga dilengkapi dengan beberapa gudang, parkiran kendaraan dan kandang kuda. Namun gudang maupun lokasi parkiran tersebut saat ini telah berubah fungsi sebagai rumah warga. “Kurang lebih ada 5 hektare ini. Untuk gedung kuningnya sendiri kurang lebih 500 meter persegi atau bahkan lebih,” lanjutnya.

Baca juga:  Selamat Hari Sumpah Pemuda, Berikut 3 Rekomendasi Film yang Dapat Membangkitkan Semangat Juang Generasi Muda

Saat ini ada sekitar 20 keluarga yang menempati area dekat Gedong Kuning. Persoalan sengketa pihaknya tidak mengerti. Namun di bagian depan kawasan tertulis tanah milik Zidam IV/Diponegoro.

Tentang status Gedong Kuning tersebut, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang Tri Subekso mengatakan saat ini masih dalam status objek bangunan diduga cagar budaya. Belum naik sebagai bangunan cagar budaya. Namun ia pastikan perlakuan harus serupa. Sehingga sayang sekali jika aset bersejarah tersebut harus dibiarkan rusak.

“Kami masih mendalami dan mengumpulkan data. Melihat dari bangunnya memang peninggalan sejarah. Sudah pasti harus dilestarikan,” kata lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia tersebut. (ria/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya