Diklaim Tingkatkan Imun Tubuh dan Sembuhkan Batu Ginjal

Bayu Handaka Meracik Degan Rempah Bakar

203
MENGHANGATKAN: Bayu Kandaka saat meracik degan rempah bakar. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGHANGATKAN: Bayu Kandaka saat meracik degan rempah bakar. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Bayu Kandaka meracik minuman rempah yang banyak dicari di tengah pandemi Covid-19. Degan rempah bakar dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.


ADENNYAR WYCAKSONO

WARUNG sederhana di Jalan Untung Suropati, Jamalsari, Mijen, Semarang itu ramai dikunjungi selama pandemi Covid-19. Rata-rata ingin menikmati minuman degan rempah bakar hasil racikan pemilik warung, Bayu Kandaka.

Menurut Bayu Handaka, degan bakar yang dibuat berbeda dengan degan bakar lainnya. Karena dicampur dengan aneka rempah-rempah nusantara. Di antaranya, jahe, kapulaga, cengkeh, akar alang-alang, madu, serta gula aren.

“Saya pakai kelapa muda atau degan jenis wulung karena khasiat untuk kesehatan sangat bagus, bisa juga pakai kelapa muda biasa tergantung pesanan dan stock kelapa,” ujar pria asal Purwokerto, Banyumas ini.

Untuk proses pembuatan, degan yang masih lengkap dengan kulitnya itu dibakar minimal dua jam agar air kelapa bisa mendidih sempurna. Namun lebih lama pembakaran lebih baik, karena panas air kelapa akan lebih awet. Biasanya Bayu membakar kelapa sampai empat jam sebelum disajikan.

“Semakin lama dibakar akan semakin awet, bahkan hangat air kelapa bisa bertahan lima sampai tujuh jam lebih meskipun telah dibuka,” katanya.

Kelapa muda wulung yang dibakar kemudian dicampur dengan jahe, kapulaga, cengkeh, akar alang-alang, serai, kayu manis, jeruk dan madu yang kemudian diaduk. Setelah diaduk, didiamkan selama lima menit sebelum disajikan kepada pembeli.

“Setiap hari mininal bisa jual 50 butir degan bakar wulung dan biasa. Harganya sekitar Rp 30 ribu, tergantung degan wulung atau biasa,” ujarnya.

Dia mengaku pembeli mayoritas dari daerah Semarang Kota. Kebanyakan mereka membeli dalam jumlah yang banyak untuk dibawa pulang.

“Kebanyakan dari luar Semarang, mayoritas yang punya penyakit kencing batu dan batu ginjal yang mengonsumsi ramuan ini untuk dijadikan terapi dan ngakunya sembuh. Saat korona ini juga banyak yang cari buat jamu penambah imun,” paparnya.

Untuk resep degan bakar yang dibuat, Bayu mengaku mendapat resep tersebut turun-temurun dari kakek dan diturunkan kepadanya. Pandemi korona, membuat dirinya kebanjiran banyak order. Mayoritas pembeli mempercayai degan bakar buatannya bisa menangkal virus korona.

“Saya sih percaya nggak percaya, kalau buat stamina dan imunitas tubuh memang benar. Kalau korona nggak berani ngomong atau membenarkan,” ucap dia.

Karena penasaran, koran ini pun mencoba degan bakar buatan Bayu. Setelah menunggu sekitar dua jam, kebetulan ada tiga degan wulung bakar yang siap untuk diangkat dari tungku pembakaran yang terbuat dari tong bekas berbahan bakar kayu.

Dengan lincah, tangan Bayu meracik aneka rempah seperti jahe, serai yang ditumbuk kasar. Satu persatu bahan pun dimasukkan ke dalam buah kelapa bakar yang telah dibuka. Aroma kelapa masih terasa ketika semua bahan diaduk, namun ketika diminum rasa hangat di badan langsung terasa. Bahkan bisa dibilang mandi keringat ketika harus menyeduh air kelapa rempah ini.

Meski telah berlalu 30 menit sambil ngobrol bersama teman, air kelapa ternyata masih sangat panas ketika akan dituang ke dalam gelas.

“Rasanya seger, di badan terasa hangat mungkin, karena ada jahe dan cengkeh. Kebetulan pengin coba agar imunitas bisa terjaga,” kata Adi Winarso, salah satu pengunjung. (*/aro)





Tinggalkan Balasan