Produk Tembus Mancanegara, selama Pandemi Omzet justru Naik

Roy Wibisono Anang Prabowo, Pemilik Usaha Keramik di Salatiga

340
BERTAHAN: Roy Wibisono Anang Prabowo saat finishing patung berbahan keramik. (kanan) Roy menunjukkan cangkir keramik buatannya. (FOTO-FOTO: DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERTAHAN: Roy Wibisono Anang Prabowo saat finishing patung berbahan keramik. (kanan) Roy menunjukkan cangkir keramik buatannya. (FOTO-FOTO: DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, banyak usaha yang tersendat bahkan gulung tikar. Namun berbeda dengan Roy Wibisono Anang Prabowo. Omzet pemilik usaha keramik di Salatiga ini justru melambung. Kok bisa?

BERTAHAN: Roy Wibisono Anang Prabowo saat finishing patung berbahan keramik. (kanan)  Roy menunjukkan cangkir keramik buatannya. (FOTO-FOTO: DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERTAHAN: Roy Wibisono Anang Prabowo saat finishing patung berbahan keramik. (kanan) Roy menunjukkan cangkir keramik buatannya. (FOTO-FOTO: DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DHINAR SASONGKO, Salatiga

Tidak sulit mencari lokasi usaha Naruna Keramik. Rumahnya berada di ujung gang II di RT 02 RW 02 Sidorejo Lor, Kota Salatiga. Tidak jauh dari perempatan Jetis, di Jalan Imam Bonjol.

Kesibukan terlihat di setiap ruangan. Ada yang mengecek produk. Ada yang membersihkan dan membungkus dalam dus coklat. Di atas dus, tertempel nama dan alamat pemesan. Semua dicatat dan tertumpuk di ruang tengah. Kegiatan yang dilakukan belasan pemuda itu ternyata sedang mempersiapkan barang untuk dikirim kepada para pemesan.

“Ini dikirim ke Qatar, Jakarta, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya,” terang Roy Wibisono Anang Prabowo, sang pemilik UKM Naruna keramik kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kegiatan ini dilakukan saban hari. Bahkan kesibukkan semakin tinggi di masa pandemi ini. Bulan Maret, kenaikan produksi mencapai 25 persen. April mencapai 60 persen. Sementara untuk Mei kenaikan diperkirakan tembus hingga 75 persen. Apa kunci keberhasilan tersebut? Roy menyebut konsistensi kualitas di semua lini.

Pria kelahiran Boja, Kendal, 18 Mei 1972 ini menceritakan keinginannya untuk membuat UKM yang ideal. Selain itu, unggul di semua lini. Mulai dari konsep, riset, produksi, hingga pemasaran. Karena sejak kuliah di Undip, ia sudah jatuh cinta dengan keramik, maka ia pun berusaha merealisasikan cita citanya tersebut.

“Saya lulus kuliah tahun 1998 dari jurusan kimia. Kebetulan skripsi saya tentang keramik juga,” kenangnya.

Ia kemudian bekerja di perusahaan keramik di Bogor. Di sana ia bertugas di bagian riset and development. Namun tidak bertahan lama, karena Roy memilih ke Australia untuk memperdalam ilmu keramiknya pada 2001. Di Negeri Kangguru, ia tinggal selama dua tahun.

Pulang ke Indonesia, ia tinggal di Semarang dan mulai membuka usahanya. Awalnya, diberi nama Sigar Bencah Keramik. Dalam perjalanannya, ia mendapatkan tantangan menarik. Yakni, mempelajari upaya mengubah lumpur Lapindo Sidoarjo menjadi keramik. Ia juga sempat kembali bekerja di perusahaan keramik di Jakarta.

Lagi – lagi keinginan untuk mandiri semakin membesar. Akhirnya, ia pulang dan meneruskan cita – citanya. Sempat membuat Nuansa Keramik di Boyolali. Hingga akhirnya hijrah ke Salatiga pada 2019.

Ia merekrut setiap ahli di bidangnya. Mulai konsep desain, riset, hingga pemasaran. Yang direkrut bukan berdasar tingkatan akademik melainkan kemampuan bekerja. Saat awal merintis usaha, ia hanya bertiga, kini Roy memiliki 40-an karyawan. Selain itu, ia memiliki tempat usaha yang representatif. Dari tempat produksi, warehouse hingga showroom.

Produk yang dihasilkan seperti cangkir dan aneka produk berbahan keramik. Ia juga menerima pesanan lain. Misalnya, hiasan dinding rumah. Awalnya, produksi memang diserap oleh perusahaan jasa seperti hotel. Namun seiring pandemi, semua pesanan perusahaan menurun drastis. Namun bukan berarti ikut turun. Pemasaran beralih menyasar ke perorangan. Tanpa diduga order justru meningkat tajam.

“Pesanan hingga mencapai Qatar, India, Australia, dan Dubai. Sementara di dalam negeri memang masih didimonasi Jakarta dan Bali,” papar suami Wido Prananingtyas tersebut.

Setiap harinya, Roy memproduksi 150 – 350 cangkir. Proses pembuatannya memang berbeda. Apalagi bekal ilmu di bidang kimia membuatnya bisa membuat bahan yang berbeda. Selain itu proses pembakaran dengan suhu yang sangat tinggi menghasilnya keramik yang lebih bagus. “Proses hampir sama gerabah namun berbeda bahan dan tingkat pembakarannya. Sehingga hasilnya pun berbeda,” jelas penggemar klub Real Madrid tersebut.

Kemampuan Roy juga sudah diakui banyak pihak. Berkali – kali ia menyabet penghargaan dari riset dikti hingga Inacraft. Tidak hanya cangkir, Roy juga dipercaya untuk membuat hiasan dinding. Ia mendapatkan order dari India untuk membuat hiasan dinding yang berbentuk keramik kotak dengan motif ukir. Selain itu juga patung.

Penghasilannya? Tentu sudah sangat besar. Jika modal awal pembuatan Naruna Keramik ini Rp 25 juta, kini omzetnya sudah mencapai Rp 250 juta. Ia pun ingin mengembangkan dan berbagi kemampuan ini kepada UKM lain agar bisa tetap mandiri di era pandemi. “Meskipun ada kendala seperti pengiriman bahan di masa pandemi karena banyak jalan tutup, namun semua pasti ada solusi,” ujarnya optimistis. (*/aro)





Tinggalkan Balasan