Atap Serambi Bisa Dibuka, Dilengkapi Replika Hajar Aswad

Melihat Masjid Ash Shirath Kota Magelang yang Mirip Kabah

238
IKON BARU: Masjid Ash Shirath di Kampung Warna-Warni Tidar Campur, Kelurahan Tidar Selatan, Kota Magelang yang menyerupai bentuk Kabah. (kanan) Replika Hajar Aswad di sudut masjid. (FOTO-FOTO:PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
IKON BARU: Masjid Ash Shirath di Kampung Warna-Warni Tidar Campur, Kelurahan Tidar Selatan, Kota Magelang yang menyerupai bentuk Kabah. (kanan) Replika Hajar Aswad di sudut masjid. (FOTO-FOTO:PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Kampung Warna-Warni di Tidar Campur RT 01 RW 01, Kelurahan Tidar Selatan, Kota Magelang miliki ikon baru. Yakni, Masjid Ash Shirath yang dibangun menyerupai Kabah. Seperti apa keunikannya?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang, Radar Semarang

TERIK matahari begitu menyengat siang itu. Ditambah langit yang membiru ditutupi mega putih menjadi pemandangan kontras kala mata melihat Masjid Ash Shirath yang berdinding warna hitam.
Masjid ini dibangun menyerupai kabah. Lengkap dengan replika Hajar Aswad yang menempel di sudut kanan masjid. Masjid ini juga dilengkapi teknologi canggih, di mana atap serambi bisa dibuka dengan remot kendali.

Keunikan lain pada talang emas. Ya, talang atau saluran pembuang air dibuat beruansa kuning emas. Agar menyatu dengan warna ukiran kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat dan asmaulhusna yang mengelilingi masjid.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Warna-Warni di Tidar Campur Sagiyo bercerita sejarah didirikannya masjid terdorong dari dua sisi. Jarak masjid dengan tempat tinggal warga relatif jauh, kemudian mulai ramainya wisatawan yang mampir di Kampung Warna-Warni hendak melaksanan ibadah salat.

“Kalau kami (warga, Red) ingin pergi salat ke masjid jaraknya lumayan, harus naik sepeda motor atau sepeda onthel. Kalau jalan kaki, membuat kami cukup berkeringat,” kata Sagiyo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Lalu, para wisatawan harus menumpang salat di rumah warga. Bila tidak menampung, warga setempat membersihkan salah satu ruang di Bank Sampah. Melihat kerepotan ini, Sagiyo dan beberapa warga lain terbesit ingin membangun masjid. Keinginan ini muncul sekitar pertengahan Oktober 2019 lalu usai mengikuti Festival Warna-Warni di kampung setempat.

Akhirnya, Sagiyo berembug bersama adiknya, Moh Anwar, dan Ketua RT 01 RW 01 Tidar Campur Sudadi Waluyo yang mewakili keluarga mertuanya, Mulat. Mereka bertemu guna membahas lokasi masjid. Ketiganya pun sepakat mewakafkan tanah seluas 130 meter persegi.

Rupanya, memikirkan arsitektur masjid membuatnya bingung. Ia dan temannya ingin bentuk masjid yang tidak biasa, sehingga bisa menjadi ikon baru. Kemudian mencari referensi gambar masjid di internet.

Masjid berbentuk mirip kabah disepakati bersama. Bangunan utama diputuskan berukuran 6,8 meter x 7,5 meter, tinggi bangunan 5,2 meter. Kemudian serambi masjid berukuran 6,5 meter x 7 meter, dan dilengkapi tempat wudhu yang cukup longgar berukuran 6,5 meter x 2 meter. Masjid ini diberi nama Ash Shirath. Shirath diambil dari nama kakek Sagiyo, Mbah Kiai Ahmad Shirath.

“Tanah ini sebelumnya dimanfaatkan untuk kandang sapi. Kemudian, kami robohkan dan dibersihkan. Lalu pada 27 Oktober 2019 peletakan batu pertama dan pembangunan dihentikan H-1 puasa ini,” ujarnya.

Sampai sekarang, kata Sagiyo, pembangunan belum rampung 100 persen. Masih kurang replika Hijr Ismail dan Maqam Ibrahim. Namun sudah bisa dipakai untuk ativitas ibadah warga.
“Untuk menyelesaikan bangunan utama masjid memerlukan waktu sekitar tiga bulan, kemudian dilanjutkan serambi dan tempat wudhu. Paling lama mengerjakan kaligrafinya sekitar 2 bulan,” ucapnya.

Pria 59 tahun ini mengaku, mulai perencanaan hingga pembangunan masjid mendapat jalan mudah. Termasuk soal biaya. Donatur datang dari seluruh Indonesia. Seperti Bali, Sumatera, Kalimantan, Surabaya, Semarang, Magelang dan sebagainya. Sampai pembangunan dihentikan sementara waktu, bantuan dari para donatur terus mengalir.

Ada yang membuatnya terharu. Seorang donatur mengirimkan bantuan 2-4 kali dalam sebulan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada semua donatur. Begitupun kepada para warga yang menyumbangkan tenanganya sampai masjid tersebut benar-benar berdiri.

“Mereka (warga, Red) benar-benar tidak dibayar, kerja bakti selama 6 bulan, termasuk persedian makanan dari swadaya masyarakat, tidak memakai uang donatur. Uang donatur dimanfaatkan untuk pembangunan masjid, dan kami hanya membayar dua tukang saja,” jelasnya.

Hal berkesan lainnya, setiap membeli material di toko bangunan, pemilik toko turut menyumbang. “Misalnya kami beli 10 sak semen, langsung ditambahi 10 sak semen gratis. Alhamdulillah sekali,” ujarnya.

Sagiyo menyebut, banyak keajaiban selama membangun masjid. Padahal untuk menghimpun dana, mereka tidak pernah membuat proposal. Para donatur datang dengan sendirinya, setelah melihat unggahan pembangunan masjid di media sosial.

“Bayangan kita, pembangunan masjid ini akan bertahap. Nggak tahu kapan selesainya. Tapi Alhamdulillah, sejak pertama kok terus berlanjut,” sambung Ketua Ketua RT 01 RW 01 Tidar Campur, Sudadi Waluyo.

Melihat antusiasme para donatur, panitia pembangunan masjid terus mempercantik bangunan masjid. Semula dinding masjid hanya akan dicat warna hitam. Melihat dana yang ada, dimaksimalkan memakai batu alam.

Waluyo menambahkan, setelah pendemi Covid-19, pihaknya akan menyempurnakan pembangunan masjid. Rencananya, masjid ini juga akan dipakai untuk edukasi. Seperti kegiatan manasik haji bagi anak-anak usia dini atau pelajar.

“Kita harap, pendemi Covid-19 cepat selesai, sehingga kita bisa beraktivitas lagi dan kampung ini bisa ramai lagi karena punya ikon baru.”

Paling penting, keberadaan Masjid Ash Shirath menambah ketakwaan warga. Kini untuk melaksanakan salat berjamaah menjadi lebih dekat. (*/aro)





Tinggalkan Balasan