Bingung setelah Di-PHK, Berharap Bantuan Dermawan

“Manusia Karung” Marak di Jalan Protokol Kota Semarang

208
BERHARAP BANTUAN: Manusia karung saat mangkal di Jalan Pahlawan, Semarang.(IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERHARAP BANTUAN: Manusia karung saat mangkal di Jalan Pahlawan, Semarang.(IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Selama pandemi Covid-19, agaknya orang miskin semakin meningkat. Ada yang berharap bantuan pemerintah. Ada juga yang menjadi “manusia karung.” Mereka mangkal di trotoar jalan, berharap bantuan paket buka puasa, sembako maupun uang tunai dari dermawan yang melintas.

IDA FADILAH, Radar Semarang

ADA fenomena baru jelang buka puasa di kota-kota besar, termasuk Kota Semarang. Termasuk pagi hingga siang di hari Jumat. Banyak warga dengan pakaian agak lusuh mangkal di trotoar jalan. Mereka membawa karung yang berkedok untuk mencari rosok. Seperti tampak di Jalan Pahlawan, Jalan Veteran, Jalan Ahmad Yani, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kaligarang, Jalan MGR Soegijapranata dan lain-lain. Beberapa orang tersebut duduk rapi sambil menenteng karung di dekat mereka.

Pantauan koran ini, mereka tak perlu mengeluarkan kata-kata. Namun kondisi mereka sudah menjadi kode bagi para dermawan yang melintas untuk berhenti memberikan bantuan. Meskipun mereka berkedok menjadi tukang rosok, namun lebih besar berniat mendapatkan sumbangan seperti makanan, sembako, bahkan uang.

Salah satu manusia karung Tukirman, 36, asal Semarang mengaku dirinya menjadi manusia karung karena tak bisa lagi mencari uang untuk menghidupi keluarganya. Baginya, di-PHK sangatlah berat, ia lantas mengikuti orang-orang menjadi manusia karung. “Mau jualan ya jualan apa? Gak laku. Cara ini ya terpaksa, daripada tidak ada pemasukan,” ujarnya.

Begitupun yang dilakukan Marni, 44. Ia harus beralih menjadi manusia karung karena kebingungan mencari pekerjaan usai di-PHK. Ia terpaksa melakukan ini karena dinilai lebih mudah untuk mendapatkan uang atau makanan. “Semua dilakukan biar anak-anak bisa makan, karena kalau gak kerja ya gak bisa makan,” akunya.

Dalam sehari, Marni mengaku bisa mendapatkan lima kotak nasi. Juga paket sembako yang berisi beras, gula, minyak dan biskuit. “Ramai kalau hari Jumat. Yang sedekah banyak. Kalau hari biasanya begini, paling dapatnya nasi buat buka,” katanya.

Berbeda dengan Siti, yang biasa mangkal di Jalan Dr Sutomo, Kalisari. Ia pernah mendapat sedekah berupa uang tunai sebesar Rp 250 ribu dari warga yang naik mobil mewah. “Sekitar jam 4 sore, ada mobil bagus berhenti. Seorang ibu turun dari mobil, lalu memberi uang Rp 250 ribu. Rupanya ibu itu merasa iba melihat anak-anak yang saya ajak,” ujar Siti, yang selalu mengajak anaknya agar para dermawan semakin iba.

Pengamat Sosial Unika Soegijapranata Drs Hermawan Pancasiwi BA MSi mengatakan, fenomena manusia karung muncul sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Menurutnya, mereka bukan dari pengemis, karena terhitung mendadak dan membeludak. Banyaknya masyarakat yang terkena PHK ataupun terhimpit ekonomi, memaksa mereka harus melakukan hal ini.

“Ya, ini dampak dari korona, kita tahu mereka sepertinya sudah putus asa betul bagaimana harus menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Karena terus terang rata-rata mereka adalah yang memiliki pekerjaan sebelum ada pandemi. Ini bukan yang dulu sebagai pengemis, tapi kalau kita teliti mereka pernah punya penghasilan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Lebih lanjut ia menerangkan, manusia karung masuk dalam teori pelaku ekonomi subsisten, yaitu ekonomi dari tangan ke mulut yang harian. Artinya, orang bisa hidup karena bekerja, tidak memiliki saving, tabungan, dan sebagainya. “Ini yang terjadi di banyak orang Indonesia. Kalau tidak bekerja mereka tidak makan. Sekarang keadaan pekerjaan sulit banget, padahal mereka harus makan, sementara tidak punya tabungan,” jelasnya.

Solusinya, kata dia, sekarang harus menggerakkan perekonomian itu kembali. “Berdamai dengan korona untuk menyiasati bahwa ekonomi harus terus bergeliat. Dengan begitu, nantinya para manusia karung akan berkurang,” katanya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan