Tari Tiga Daya Wujud Doa, Dipentaskan secara Daring

Seniman Yoyok Bambang Priambodo Ciptakan Tari untuk Lawan Pandemi Covid-19

201
LAWAN KORONA: Tarian Three Power Dance Drive Out Corona karya Yoyok Bambang Priyambodo sebagi bentuk keprihatinan atas pandemi Covid-19. (dokumentasi)
LAWAN KORONA: Tarian Three Power Dance Drive Out Corona karya Yoyok Bambang Priyambodo sebagi bentuk keprihatinan atas pandemi Covid-19. (dokumentasi)

RADARSEMARANG.ID, Pagebluk tak menjadi penghalang seniman tari tradisional Yoyok Bambang Priambodo untuk berkarya. Pria kelahiran Semarang, 25 April 1966 ini berhasil menciptakan karya seni tari untuk melawan virus korona. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Radar Semarang

SIANG itu, Yoyok Bambang Priambodo tampak antusias ketika didatangi Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya. Seniman tari Kota Semarang ini pun menjelaskan secara detail inspirasi dua tarian yang diciptakan di tengah pandemi Covid-19. Karya yang diberi nama Three Power Dance atau tari tiga daya itu sebagai wujud doa melawan pandemi korona.

Yoyok menjelaskan, tarian ini merupakan bentuk pengingat atau weling kepada manusia. “Pada zaman dahulu, berdoa diwujudkan dalam karya seni, sarana untuk memberikan semangat berupa optimistisme untuk melawan wabah atau pagebluk,” jelas pria yang akrab disapa Yoyok ini kepada koran ini.

Ia mencontohkan, tarian yang ada di keraton merupakan wujud kolaborasi antara tembang, macapat, dan gending yang disatukan dalam gerak sebagai bentuk doa. Gending yang digunakan adalah Gendhing Sanghyang, Bedhayan atau Anglir Mendhung, telah masyhur menjadi perantara kepada Yang Maha Kuasa untuk berserah diri.

“Three Power Dance menjadi simbol jiwa manusia yang dicerminkan dalam trimurti, tripama, dan tridaya. Dahulu leluhur kita berdoa dengan cara ini,” jelasnya.

Three Power Dance dipentaskan untuk kali pertama kali pada 3 April 2020 lalu melalui daring di media sosial dan Youtube, memanfaatkan sanggar tarinya di Jalan Pamularsih I No 2 Bongsari, Semarang Barat. Dua anaknya yakni Sangghita Anjali dan Canadian Mahendra melengkapi karya fenomenal di tengah upaya menekan Covid-19.

“Saya gunakan tembang Dandhang Gulo, Kidung Sesingkir yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Tembang ini digunakan orang Jawa zaman dulu untuk berdoa,” paparnya.

Yoyok dan dua penari lainnya, memiliki peran berbeda. Benda yang digunakan dalam pementasan, yakni obor yang memiliki arti lentera penerang kehidupan. Penari lainnya, membawa kendil bermakna kehidupan mengalir, dan penari terakhir membawa sapu lidi yang diartikan pembersihan diri.

“Kostumnya menggunakan kain poleng hitam dan putih, untuk yang dipercaya untuk menetralisasi hal yang tidak baik,” jelas pengasuh Sanggar Greget ini.

Dalam tarian ini, ada tiga tahapan yang masing-masing tahapan diiringi tembang yang berbeda. Tembang Dandhang Gulo Sunan Kalijaga mengawali doa dalam tahapan pertama, disusul tembang Dandhang Gulo laras pegog karya Yoyok. Lalu dua tembang Kinanthi laras pegog yang bermakna ikhtiar dalam mengusir virus korona, sekaligus sebagai tolak bala dari semua penyakit dan wabah yang menular hingga kematian.

“Terakhir ditutup dengan tembang Asmaradhana karya saya. Kidung ini dimaknai sebagai pembelajaran dan menyadarkan manusia untuk instropeksi diri. Termasuk untuk berbenah menata diri serta menjaga dan merawat kelestarian alam,” bebernya.

Yoyok menyebut Three Power Dance sudah dipentaskan menjadi dua sesi. Sesi kedua dia lakukan berkolaborasi dengan dua maestro seniman ada Djarot B Darsono dan Eko Supendi, dan dipentaskan pada 17 April lalu.

“Isinya tentang menekankan empati bagi korban keganasan Covid-19, temasuk para tenaga kesehatan, TNI/Polri dan keluarga yang berduka akibat meninggal dunia karena virus korona,”katanya.

Kolaborasi ini, lanjut dia, dilakukan dari rumah masing-masing melalui rekaman video, lalu diunggah secara bersamaan. Sesi kedua ini memiliki delapan tembang (pupuh), koreografi dan kompoisi musik secara mandiri. Penyaijiannya terdapat simbol jeritan tangis, pedihan mendalam, keluarga yang berduka, doa kepada Tuhan, dan syukur menerima hingga semangat dalam berkarya.

“Kolaborasi tari ini, sebagai wujud mengusir korona, properti yang saya gunakan adalah keris simbol orang Jawa, Mas Eko pakai daun, dan Mas Djarot pakai tombak kecil, dengan interprestasi sendiri masing-masing seniman,” bebernya.

Tarian sesi kedua ini, kata dia, selain mendoakan para pejuang dan korban pandemi Covid-19, menyiratkan juga langkah berperang melawan sesuatu yang tidak kelihatan, seperti virus atau wabah korona yang harus diperangi dengan percaya diri dengan harapan segera pergi. (*/aro)





Tinggalkan Balasan