Lakna Kedanan hingga Dirawat di RS, Ressa Sedih Tak Foto Bersama

Almarhum Didi Kempot di Mata Sobat Ambyar Semarang Raya

305
KEMPOTERS SETIA: Lakna Tulas UN saat bersama Sang Maestro Campursari Didi Kempot. (DOKUMEN PRIBADI)
KEMPOTERS SETIA: Lakna Tulas UN saat bersama Sang Maestro Campursari Didi Kempot. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Penyanyi Jawa yang sedang naik daun Didi Kempot berpulang, kemarin. Jutaan fans setianya berduka. Mereka adalah Sobat Ambyar sejati.

IDA FADILAH/NORMA, Radar Semarang

SIAPA yang tak mengenal Didi Kempot. Musisi campursari dan lagu Jawa ini kembali mendunia setelah hadirnya cendol dawet hingga munculnya fans Sobat Ambyar. Sebelumnya, penggemarnya tergabung dalam Komunitas Kempoters. Salah satu anggota Komunitas Kempoters Salatiga, Lakna Tulas UN mengaku sangat kehilangan.

Lakna Tulas ‘UN mengaku menyukai Sang Maestro Campursari Didi Kempot sejak balita atau sekitar 2002. Sebelum mendunia seperti sekarang ini, ia sudah menghafal ratusan karya musisi ini. Diakuinya, ia terbiasa mendengarkan karya Didi Kempot lantaran kedua orang tuanya yang merupakan seniman dan budayawan asal Blora ini selalu memutar lagu-lagu tersebut.

Ia tergabung dalam komunitas fans Didi Kempot cabang Salatiga saat kuliah di IAIN Salatiga. Sejak SMP kelas 8, ia sudah mengikuti konser dari satu kota ke kota lain. Namun karena belum memiliki kamera, ia tidak sempat mengabadikan momen bersama sang idola. Kedekatan Lakna dengan pemilik nama asli Didi Prasetyo ini sudah dirasakan sejak lama. Ia mengaku sudah berkali-kali mendapatkan Golden Tiket tanpa menggunakan apa-apa.

“Fasilitas apapun bisa masuk pagar pembatas dan mendekat di samping atau depan panggung. Bahkan joget di tepi atas panggung bersama tim pengiring Lare Jawi, asisten serta manajernya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia juga sudah berkali-kali mendapatkan uang saku dari penyanyi berjuluk The Godfather of Broken Heart ini. Menurutnya, momen itu bukan seberapa besar nominal rupiahnya, namun dilihat berdasarkan siapa pemberinya. Hingga sekarang ini, puluhan lembar uang lima puluh ribuan masih disimpan rapi di dompet. Setelah ini, ia akan mengabadikan kenangan terakhir dari sang idola yang telah tiada.

Bukan “fans kaleng-kaleng,” ia memiliki puluhan album dan yang berbentuk keping CD dan DVD maupun kaset pita zaman dulu. Koleksi pertama yang dimiliki adalah kaset CD dari album The Best of Didi Kempot. Satu album tersebut terdiri atas sepuluh lagu, mulai lagu Terminal Tertonadi hingga Stasiun Balapan.

“Seluruh lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Sang Maestro Didi Kempot saya suka, delapan ratus lebih saya suka. Bahkan saya sampai tergila-gila dengan Didi Kempot pada awal 2017 lalu hingga dirawat sudah dua kali di sebuah rumah sakit yang ada di Semarang,” tuturnya.

Tragedi itu dikarenakan saking sukanya dan sudah lama tidak berjumpa, namun posisi tidak mendukung. Saking kangennya dengan sang idola, ia sampai berhalusinasi untuk bisa sukses seperti Didi Kempot.

“Saya merengek pada kedua orang tua untuk pergi ke Suriname, karena dulu Didi sukses di sana. Kedua orang tua makin bingung dan mau menurutin, namun tidak jadi, karena pikiran saya saja, karena saking ngefansnya sampai ingin seperti dia,” imbuhnya.

Karena sudah sering hadir dalam konsernya dan sudah termasuk dalam anggota Kempoters sejati, Lakna memiliki impian untuk mengundang Didi Kempot dalam acara pernikahannya nanti. Namun takdir berkata lain.

Secara mental, ia sangat kehilangan, karena kedekatan antara fans seperti tak ada batas. Saat ulang tahunnya pun Didi pernah mengirim ucapan secara pribadi. Untuk saat ini, ia hanya ingin banyak yang mendoakan idolanya. Melalui karya-karyanya, ia yakin Didi Kempot akan abadi.

Sobat Ambyar lainnya adalah Wheny Dwitina. Ia tak kuasa menahan tangis saat mendapat kabar idolanya meninggal. Perempuan berusia 24 tahun yang mengagumi karya-karya Didi Kempot sejak SMP ini menganggap bahwa kepergian sang idola rasanya seperti mimpi. Masih jelas di ingatannya konser pertama dan terakhir yang ia hadiri malam itu. Sebuah impian yang akhirnya bisa terwujud belum lama ini.

Kala itu, di bulan Februari, ia berkesempatan untuk menonton langsung sang maestro dari dekat. Seorang legend yang selama sepuluh tahun lamanya hanya bisa ia dengarkan suaranya dari layar ponsel. Ketika menghadiri konser yang bertempat di Blora tersebut, ia juga tak kuasa menahan tangis bahagia. Bagaimana tidak, Didi Kempot adalah teman setianya setiap kali ia patah hati. “Padahal aku masih berharap Pakde Didi bisa menciptakan lagu patah hati lagi. Biar semakin banyak lagu yang bisa kudengarkan,” ujarnya dengan suara bergetar.

Wheny juga mengungkapkan bahwa beberapa waktu sebelum kepergian Didi Kempot, ia sempat memiliki firasat. Ketika itu ia sedang menonton konser musik online Didi Kempot bersama Najwa Shihab. Ia merasa performa Didi Kempot tak seenerjik seperti biasanya. “Di beberapa lagu sempat kedengaran kalau Pakde ngos-ngosan waktu nyanyi. Padahal sebelumnya tidak pernah,” tambahnya.

Kepergian Didi Kempot juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi penyanyi asal Semarang, Ressa Lawang Sewu. Ia mengaku bahwa banyak momen bersama Didi Kempot yang membuatnya terkesan. Salah satunya ketika Didi Kempot berkenan untuk berpartisipasi di konser Anniversary Resa Lovers yang ke delapan.

Menurut Ressa, Didi Kempot tak hanya seorang penampil yang hebat, tapi juga seorang sosok yang rendah hati dan begitu kebapakan. Tak jarang Didi Kempot memberi wejangan kepadanya tentang karir juga pendidikan.

“Pakde Didi adalah pribadi yang ramah. Suka nyapa duluan kalau ketemu. Sering ngasih wejangan juga. Pernah ngasih nasihat untuk segera menyelesaikan kuliah,” papar artis bernama asli Elizabeth Resa ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku menyesal tak pernah meminta foto bersama sang idola. Setiap bertemu atau berada di satu event yang sama, Ressa mengaku sungkan untuk mengganggu Didi Kempot. Ia berpikir bahwa ketika ia meminta foto bersama akan mengganggu waktu istirahat Didi Kempot. Hingga kini pun, Ressa masih berharap bahwa berita kepergian Didi Kempot adalah berita yang salah. Ia masih belum bisa mencerna kepergian sang idola yang terkesan mendadak.

Musisi campursari kelahiran Pati, Hendra Kumbara, seakan masih belum percaya jika panutannya dalam berkarir yakni Didi Kempot tutup usia pada Selasa (5/5) pagi kemarin. Bagi pelantun lagu Dino Liyane dan Dalan Liyane ini, Didi Kempot bukan hanya seorang senior. Namun juga seorang idola juga panutan dalam bermusik. “Jujur masih kaget, saya mengidolakan Pakdhe Didi Kempot sejak masih kecil,” kata Hendra saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Hendra mengenang beberapa tahun lalu pernah berdiri satu panggung dengan sang maestro. Kala itu, Hendra didapuk menjadi band pengiring campursari Bank Jateng, tepatnya sekitar delapan tahun lalu. Termasuk ketika meramaikan acaranya Ressa Lawangsewu tahun lalu. Beberapa waktu lalu pula, Hendra sempat satu panggung dengan idolanya tersebut ketika manggung di Marina Convention Center (MCC)

“Terakhir ketemu waktu di Jakarta ketika beliau mau manggung, ya nggak sempet ngobrol. Cuma nyapa, halo Pakdhe, sambil melambaikan tangan dan dibalas dengan senyuman. Saat itu, beliau ngobrol dengan fans, saya hanya sempat ngobrol dengan Dory Harsa,” tambahya.
Hendra tidak memungkiri, melejitnya karir beberapa musisi dengan aliran yang sama dengan sang maestro, termasuk dirinya secara tidak langsung dipengaruhi oleh kembali tenarnya musisi asal Solo tersebut.

“Sangat berpengaruh buat karir saya, jujur sih sangat sedih dan terpukul. Tadi pagi waktu dapat kabar, langsung bengong seakan nggak percaya,” ucapnya sedih.

Ke depan Hendra mengaku akan mengumpulkan musisi sejawatnya untuk melakukan konser tribute, misalnya Denny Caknan, Ndarboy Genk, Ressa Lawang Sewu, Guyon Waton dan musisi lainnya. “Pengin banget, sangat pengin. Mungkin setelah pandemi usai, kita harus terruskan perjuangan beliau,” katanya.

Didi Kempot yang legenda juga menjadi idola insan olahraga seperti Wakil Kapten PSIS Semarang Hari Nur Yulianto. Bukan rahasia lagi, sang striker merupakan Sobat Ambyar.

Hari Nur menuturkan, sudah sejak SMP mengidolakan pria bernama asli Dionisius Prasetya tersebut. Baginya, lagu milik sang maestro sangat merakyat dan mudah diterima semua golongan. Bahkan liriknya pun tidak melebih-lebihkan. Justru hal tersebutlah yang membuat karya sang maestro menjadi dekat dan mudah diingat pengemarnya. Ia mengaku hampir setiap hari mendengarkan lagu-lagu tersebut. Baik untuk menemani saat latihan mandiri atau sekadar bersantai dengan keluarga.

“Gimana ya hampir semua lagu saya suka. Jadi, sudah jadi rutinitas saja mendengarkan lagu Pakde Didi di sela-sela aktivitas saya di rumah atau di manapun saat bertanding,” ujarnya
Tidak hanya lagu saja, sosok Didi Kempot sendiri juga sangat berkesan bagi Hari. Pasalnya, ia menyukai kepribadian sang idola yang terkenal ramah, humoris, sederhana, dan merakyat. Selain itu, dari sosok Didi pula, ia belajar bagaimana mencintai budaya Jawa. Ia tidak malu meskipun generasi muda namun menyukai musik campursari. Bahkan ia mencontohkan saat ini tidak hanya golongan tua saja, tapi golongan muda pun justru banyak yang hapal lagu dari Godfather of Broken Heart ini. Yang notabene hampir semua berlirik lagunya bahasa Jawa.

“Saya orang Jawa. Ya saya suka lagu berbahasa Jawa. Dan saya kagum dengan beliau yang cinta dan tidak malu untuk menyebarkan kebudayaan Jawa pada setiap jadwal manggungnya,” lanjutnya.

Saat mendengar kabar dari media berpulanhnya sang idola, ia mengaku sangat terkejut dan tidak percaya. Pasalnya, tidak ada kabar bahwa putra pelawak legendaris Srimulat Ranto Edi Gudel ini mengalami sakit apapun. Ia pun menyesalkan belum dapat berbincang secara langsung dengan Didi. Meskipun beberapa kali menonton konsernya, namun ia tidak pernah sekalipun bertemu secara pribadi. Meskipun merasa sedih, ia tetap berdoa semoga sang idola mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Dan biarkan karyanya akan terus dikenang oleh penggemarnya. Termasuk ia sendiri. “Dia seniman yang luar biasa. Saya yakin karyanya akan tetap hidup dan tidak lekang dimakan waktu sampai kapanpun,” katanya. (dilengkapi adennyar dan dewi akmalah/aro)





Tinggalkan Balasan