Pasien Konsumsi Air Zamzam, Kurma dan Ramuan Jamu

Melongok Penyembuhan Pasien Covid-19 di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang

306
SEMBUH: Pasien Covid-19 di RSUD KRMT Wongsonegoro melakukan senam pagi dan berjemur untuk meningkatkan imunitas. (ISTIMEWA)
SEMBUH: Pasien Covid-19 di RSUD KRMT Wongsonegoro melakukan senam pagi dan berjemur untuk meningkatkan imunitas. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Semarang yang sembuh sudah mencapai 132 orang. Jauh dari pasien meninggal, 30 orang. Tak sedikit pasien sembuh setelah dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang. Bagaimana tim medis dalam penyembuhan pasien?

IDA FADILAH, Radar Semarang

SEBAGAI rumah sakit rujukan Covid-19, tentu jumlah pasien korona yang dirawat di rumah sakit milik Pemkot Semarang ini cukup banyak. Baik yang sudah positif, maupun yang masih dalam pengawasan atau PDP. Di rumah sakit ini, pasien positif dirawat di ruang isolasi. Untuk penyembuhannya, pihak rumah sakit memadukan antara jasmani dan rohani.

Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro dr Susi Herawati MKes menjelaskan, dua hal itu dilakukan untuk membuat pasien ceria dan menghindari suntuk di ruang isolasi. Biasanya setiap pagi, pasien diajak senam bersama untuk menghirup udara segar di lapangan yang sebelumnya menjadi area parkir.

“Selain senam, juga dilakukan kegiatan rutin berjemur untuk meningkatkan imunitas,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pihaknya juga memberikan asupan makanan bergizi kepada masien. Menu wajibnya berupa susu, telur, madu, air zamzam, kurma, dan ramuan jamu.

Sedangkan dari sisi rohani, lanjut Susi, pasien ditunjang dengan kegiatan yang bekerja sama dengan psikolog. Hal ini bertujuan untuk menguatkan emosional pasien agar tidak bosan selama diisolasi. “Selain obat-obatan dari dokter, kita lakukan sharing supaya pasien ceria. Dengan begitu, akan meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya.

Tak heran, jika banyak pasien Covid-19 akhirnya sembuh setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit yang dipimpinnya.

Susi mengakui sempat menerima komplain lantaran ada pasien sembuh, tapi setelah pulang, justru dikucilkan oleh tetangganya. Pasien tersebut melakukan protes, dikarenakan banyak petugas kesehatan datang untuk memeriksa. Hal itu menimbulkan ketakutan para tetangganya. Padahal hal itu dilakukan untuk tracking data di Dinas Kesehatan. Karena itu, ia melakukan komunikasi dengan pemerintah setempat untuk memberikan edukasi dan pemahaman.

Bagi Susi, rumah sakit tidak akan menyampaikan secara vulgar data pasien, karena selalu menerapkan kode etik kedokteran. Namun, karena ini wabah, jadi harus disampaikan secara online. “Tetangganya yang melihat data di online jadi takut, ya dampaknya harus dipahami. Kalau tidak didatangi petugas, marahnya sama kita. Memang harus sabar,” ujarnya.

Selain itu, ia mengaku berkali-kali banyak mendapat laporan petugas medis mengeluh dan stres karena belum punya alat ini dan itu. Pihaknya lantas menyampaikan kepada yang berwenang dan melakukan belanja sesuai dengan aturan kebutuhan bukan keinginan.
Ia menyakini ini merupakan skenario Tuhan. Di sisi lain, ia lantas memberikan suntikan semangat untuk terus melakukan yang terbaik.

“Petugas bilang ada pasien datang ya ayo membuka ruangan lagi, tenang kita upayakan. Kita yakin ada niatan melakukan yang terbaik pasti ada jalan. Hal seperti itu ya wajar, saya sendiri saja jam 12 malam baru tidur,” ucapnya.

Mengenai prediksi episentrum Covid-19 di Kota Lunpia ini, Susi mengatakan hal tersebut wajar, karena Kota Semarang merupakan kota besar dengan mobilitas tinggi. Dengan menyerukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM), ia berharap ada keberhasilan.

Menurutnya, jika masyarakat disiplin untuk tidak keluar rumah dalam 14 hari saja, dipastikan penularan Covid-19 akan putus. Sayangnya, kendala pekerjaan yang tidak semua bisa dilakukan di rumah masih menjadi persoalan tersendiri. “Jika itu dilakukan semuanya berhenti, wis pasti putus. Yang di rumah sakit kita sembuhkan. Tapi kenyataannya kan tidak begitu, malah masih ada yang pakai masker di bawah dagu. Ada juga yang mengatakan halah nanti wayahe mati ya mati,” katanya sambil tersenyum. (*/aro)





Tinggalkan Balasan