Produksi 200 Liter per Pekan, Pemasaran sampai Jatim-Jabar

Mahasiswa Universitas PGRI Semarang Ciptakan Hand Sanitizer dari Kulit Kacang

325
INOVATIF: Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang Birizki Arfianto (kiri) menunjukkan produk Hand Sanitizer Santik Kana yang terbuat dari kulit kacang. (Istimewa)
INOVATIF: Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang Birizki Arfianto (kiri) menunjukkan produk Hand Sanitizer Santik Kana yang terbuat dari kulit kacang. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Hand sanitizer menjadi barang mahal di tengah pandemi virus Covid-19. Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang (Upgris) Birizki Arfianto berhasil menciptakan hand sanitizer dari limbah kulit kacang. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Radar Semarang

SIAPA sangka limbah kulit kacang bisa dijadikan hand sanitizer yang kini harganya melambung. Ya, kulit kacang yang biasanya dibuang, ditangan Bariziki Arfianto berhasil menjadi sebuah produk yang memiliki manfaat mencegah penularan virus korona yang diberi nama Santik Kana.

“Ide pembuatannya dari kulit kacang tanah yang memiliki kandungan antibakteri sebesar 70 persen yakni flavonoid,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang belum lama ini.

Hand sanitizer Santik Kana yang dibuat sebenarnya adalah produk hasil penelitian pengembangan sebelumnya dari sabun cuci tangan, sekarang ini produk disesuaikan dengan kebutuhan pasar, yaitu praktis, bermanfaat, serta harganya terjangkau.

“Padahal kulit kacang banyak ditemukan dan sangat melimpah, namun belum banyak yang tahu punya kandungan yang bagus, jadi saya coba manfaatkan untuk bahan membuat hand sanitizer,”tuturnya.

Untuk komposisinya, lanjut Barizki, adalah ekstrak kulit kacang tanah, alkohol, ekstrak sereh, jeruk nipis sebagai pewangi, aloevera sebagai pelembab dan pelembut, serta H2O2 dan Aquades. Selain itu, setelah dilakukan uji produk, hand sanitizer ini memiliki aktivitas membunuh bakteri e-coli dan saureus, serta mampu membunuh kuman penyebab penyakit.

“Hand sanitizer Santik Kana ini merupakan pengembangan dari produk sebelumnya berupa sabun antisipetik untuk caci tangan,” ujarnya.

Kapasitas produksi hand sanitizer Santik Kana saat ini sebanyak 200 liter per pekan. Pemasaran tidak hanya wilayah Jateng, tapi telah menjangkau wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Produk ini merupakan binaan dari inkubator bisnis Upgris dalam satu tahun ini, dan sedang mengikuti kegiatan pendanaan PPBT (perusahaan pemula berbasis teknologi) tahun 2020 dengan anggaran Rp 500 juta.

“Penggunaan yang efektif setiap tiga jam sekali supaya tangan bebas dari virus. Semoga kami dapat terus memproduksi untuk kebutuhan masyarakat mencegah Covid-19,” harapnya.

Rektor Upgris Dr Muhdi mengaku bangga dengan produk mahasiswa yang peduli terhadap keresahan masyarakat terkait wabah virus korona. Apalagi produk tersebut dibuat menggunakan bahan yang dianggap tidak berguna oleh masyarakat, yakni limbah kulit kacang tanah.

“Setelah diteliti kandungannya cukup besar, belum lagi ditambah dengan pewangi organik dari ekstrak sereh dan jeruk nipis, aloevera supaya produk dapat digunakan terus-menerus, tetapi tetap membuat lembab dan lembut di kulit, serta produk sudah lolos uji di Balkes Semarang. Sehingga, produk ini aman untuk dipakai oleh masyarakat,” katanya.

Muhdi berharap, produk Santik Kana ini ke depan bisa dikomersialkan secara masif. “Kami memiliki cita-cita mendirikan perusahaan yang bekerja sama dengan inkubator bisnis Upgris. Kemudian dapat mengatasi permasalahan akibat kuman penyebab penyakit,” ujarnya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan